www.izzuka.com
Menjadi Terampil Menulis
hanya dari kebiasaan menulis sederhana, mau? buruan! TAP > Yuk! menulis di sketsarumah.com.

#06 Frasa pada definisi Feature: Dipaparkan secara hidup

Dipaparkan secara hidup

          Maksudnya adalah, penyampaian tulisan tidak formal dan kaku seperti berita lurus. Tulisan Feature, secara umum akan memberikan kesan hidup, yaitu:
✓ Jika ada dialog ditampilkan dalam kalimat langsung, kalimat di dalam tanda petik.
✓ Memperhatikan pilihan kata atau diksi.
✓ Deskripsi atau penggambaran tentang sesuatu dituangkan sebagaimana adanya, secara impresionistis. Misalkan, air muka dan nada ucapan seseorang yang menjadi sasaran tulisan disampaikan dengan kata yang tepat, dan lebih memberi kesan imajinasi apa adanya, tanpa membohongi fakta.

          Dalam beberapa hal, televisi atau aplikasi video mengungguli terhadap media cetak tulis, karena media dan aplikasi elektronik ini mampu menggambarkan bentuk fisik seorang tokoh berita atau barang dengan jelas di layar monitor. Sedangkan, pembaca media cetak tulis harus berusaha membayangkan dengan imajinasinya sang tokoh berita dari kata dan kalimat yang tertulis.
           Namun, dalam beberapa halpun, penulis yang piawai sanggup mengubah kelemahan media cetak tulis ini menjadi kekuatan. Yaitu dengan teknik penulisan deskripsi.
          
          Gambaran yang ditangkap kamera ternyata dangkal dan satu dimensi. Ia sangat terikat dengan waktu, sehingga jarang reporter TV atau Video mampu mendapatkan gambaran yang mendalam. Kalaupun, waktu yang disediakan cukup, misalnya setengah jam, kehadiran kamera TV akan mengurangi suasana wajar dan realistis.
         
          Kamera TV atau video mampu menangkap gambaran yang baik penampilan wajah tokoh. Namun, penulis yang terampil bisa membuat tulisan Feature lebih menarik dan dapat memberikan gambaran sesungguhnya tentang tokoh tersebut. Penulis sanggup memberi deskripsi tentang tabiat, gaya hidup. Dengan pengamatan yang telah terlatih baik, penulis Feature bisa memberi tekanan pada karakter sosok tokoh. Sehingga pembaca mempunyai pandangan kepada watak dan kepribadian tokoh.
          
          Penulis Feature, tak hanya menampilkan gambaran satu dimensi, tetapi keseluruhan pribadi dan citra seorang tokoh.
          
          Penulis bisa juga mendeskripsikan suatu daerah yang baru saja ditimpa musibah, atau masyarakat yang sedang bersuka cita menyambut Hari Raya Iedul Fitri, dan sebagainya. Suasananya sangat bisa dideskripsikan.
          
          Penulisan deskripsi yang baik merupakan gabungan dari beberapa keterampilan:
✓ Pengumpulan berita reportase
✓ Kemampuan observasi yang tinggi
✓ Pengetahuan tentang manusia sesuai dengan pengalaman reportase.
✓ Kemampuan meramu kata-kata secara ringkas  tapi efektif.

          Dengan demikian, bahwa keterampilan reporting sangat diperlukan. Untuk mengumpulkan data guna melukiskan sesuatu, terkadang reporter bisa berjam-jam, berhari-hari, bahkan berminggu-minggu bergaul dengan subjeknya. Jika itu semua yang didapat bisa diramu mampu menciptakan citra yang bisa diimajinasikan.
          
          Dalam wacana tulisan "jurnalisme baru" atau ada yang menyebutkannya dengan "jurnalisme sastra" sangat apresiasi dengan cara report dengan waktu yang cukup lumayan ini. Boleh jadi, reporter berhari-hari mengikuti tokoh Feature kemana-mana, memperhatikan betul bagaimana tokoh ini bereaksi terhadap publik. Hasilnya, akan berupa cerita yang disambut hangat dan menjadi karya "jurnalisme baru" yang baik.
          
          Selama pengumpulan bahan, subjek seringkali tak sadar akan kehadiran reporter yang bergabung masuk di sela-sela kegiatan tokoh, sehingga tak tampak sangat sebagai orang asing.
          
          Kebanyakan sosok tokoh terkenal, seperti tokoh masyarakat biasanya ia sadar ketika berhadapan dengan publik. Ketika disorot media TV, ia akan tampil beda dibanding penampilannya sehari-hari. Sedangkan penampilan sehari-harilah yang benar-benar mencerminkan kehidupannya senyatanya. Karena sang tokoh tentu berharap rakyat melihatnya pada kondisi terbaik. Bahkan kini ada istilah "pencitraan diri".
          
          Berikut contoh perilaku dari salah satu tokoh masyarakat, tanpa disebut namanya: sebut saja nama tokoh A. Ia seorang pemain watak. Bagaimana bisa seperti itu? Kepada publik, sang tokoh A selalu menampakkan wajah yang kelihatan marah. Bila ada kamera dibidikkan ke arahnya, ia selalu beraksi sebagai "pembela rakyat kecil" yang sedang marah. Ia selalu mengatakan "tidak" pada rancangan undang-undang tertentu. Masyarakat tak tahu bahwa tokoh A sejatinya seorang yang periang dan tulus.
          
          Sedangkan, penulis Feature dengan teknik deskripsinya, mampu menggambarkan tokoh A dengan "angle" atau sudut pandang bahwa adanya perbedaan citra pada tokoh A di depan umum dengan kehidupan harian di rumahnya yang tak terjangkau oleh kamera TV.
          
Lagi pula, kamera TV atau rekaman video merupakan ranah perdebatan, apakah boleh merekam video ciptaan - Nya yang bernyawa. Untuk itu, teknik Deskripsi memberi solusi dan lepas dari perbedaan pendapat tersebut bagi Ahlus Sunnah yang memegang pendapat tak membolehkannya.
          
          Pada momen-momen pertandingan olahraga, misalnya. Para penulis Feature ini terkadang agak mengabaikan pertandingannya , dan lebih memperhatikan untuk merekam suasana dan perasaan-perasaan orang lainnya di sekitar pertandingan. 
          
          Mengapa demikian?
          
          Karena para penulis Feature berfokus akan menghasilkan "cerita-cerita berwana" yang luput bagi penulis berita lurus. Para penulis Feature akan bincang-bincang dengan anak-anak, nenek-nenek, penjual makanan, dan lain-lain untuk menangkap suasana "warna-warni" penonton dan banyak orang terhadap peristiwa olahraga tersebut. 
          
          Setelah pertandingan selesai, penulis Feature bisa menunggu sebentar, untuk menanyakan pendapat pemain mengenai penonton. Bahkan penulis bisa "ngobrol" dengan penjual karcis sebelum pertandingan, lebih-lebih lagi bincang-bincang dengan istri para pemain.
          
          Aktivitas reporter tersebut akan membuahkan tulisan Feature yang membuat para pembaca bagaikan hadir di lapangan, melihat, mendengar, bahkan merasakan aroma bau segala hal di arena pertandingan. Yang semua itu dicerap oleh para penonton di sana.
          
          Efek "penulis hadir di sana" sangat penting bagi penulisan Feature. Dan, ini hanya bisa dicapai lewat teknik deskripsi.
          
          Pendek kata, penulisan Feature yang deskriptif tersebut seolah-olah daging yang mengisi rangka cerita, sehingga membuatnya hidup, bernafas, yang merupakan suatu rangkaian kesatuan yang mampu menggaet para pembaca, serta menampilkan lukisan yang lebih realistis.
          
          Teknik-teknik deskripsi bervariasi, tergantung pengalaman pada individu reporter. Dengan semakin bertambahnya pengalaman, reporter sanggup mengembangkan tekniknya sendiri dalam mengumpulkan bahan dan menjahitnya menjadi cerita yang menarik.

Beberapa teknik deskripsi dalam Feature

          Di sini diberikan secara singkat teknik deskripsinya:

✓ Ingat, bahwa kita penulis sesungguhnya adalah mata, telinga, hidung, bahkan kulit para pembaca. Tugas kita mengumpulkan data berdasarkan cerapan panca indera kita itu. Sehingga para pembaca mendapat gambaran yang bisa dirasa oleh panca inderanya juga. Untuk mengaplikasikan hal tersebut, kita mesti teliti dan awas terhadap setiap tanda dan gejala, betapa kecil dan halusnya. Itu semua akan membantu para pembaca untuk menemukan gambaran citra yang akurat.

✓ Kehadiran kita sebagai penulis di tempat pengumpulan informasi, jangan sampai mempengaruhi sang subjek atau tokoh. Berlakulah sehingga kita bisa mengamati subjek itu dalam keadaaan sewajarnya. Jikapun mewawancarai, coba laksanakan agar sang subjek sanggup merasa santai, berbuat lebih wajar, tidak kaku dan dibuat-buat.

✓ Pengumpulan bahan, kita lakukan sebanyak-banyaknya. Perkirakan lebih banyak dari pada apa yang akan kita tulis. Lalu, sebelum menulis, saringlah catatan-catatan tersebut, untuk menentukan yang mana hasil pengamatan yang paling efektif memberi dampak gambaran wajah, watak si subjek dan suasana sekitarnya.

✓ Dalam menulis, sebarkan deskripsi sepanjang Feature. Jangan dihimpun dalam satu bagian saja. Penyebaran di seluruh tulisan akan membuat aliran membaca enak, dan gambaran tersebut senantiasa timbul dalam imajinasi pembaca secara terus menerus selama pembacaan.

✓ Jaga agar deskripsi Feature berada di pertengahan. Maksudnya, tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit. Jika terlalu banyak detail lukisan, maka kurangi deskripsi yang kurang penting. Bila terlalu sedikit dalam artian tak berhasil membuat kita dan pembaca "melihat" sang subjek dan "merasakan" suasananya, maka tambahkan deskripsi.

✓ Meskipun kita penulis sebagai mata, telinga, hidung, kulit bahkan lidah para pembaca, kita tetap tak boleh memerankan otak pembaca dengan menyisipkan kesimpulan dan penafsiran kita sendiri atau imajinasi khayalan yang tak sesuai fakta. Hal tersebut, hanyalah tanda kemalasan penulis mengambil jalan pintas atas keharusan bahan-bahan deskripsi akurat yang mesti didapat.

          Seorang penulis yang kurang detail dalam penggambaran seorang tokoh yang "tampan berwibawa" yang boleh jadi itu relatif bagi kebanyakan orang, ketika melihat langsung subjek.
          
          Sebagai gantinya, penulis bisa mengganti kata "tampan berwibawa" dengan teknik deskripsi yang biasa di dalam wacana tulisan fiksi disebut "show don't tell", perlihatkan jangan ceritakan. Seperti misalnya:

Matanya bersinar menyorot tajam, mengambang pada raut wajah yang cerah. Dihiasi rambut ikal berombak indah. Hidung membukit tajam, jauh dari kata pesek. Dagu menggantung dengan belahan di tengah. Jenggotnyapun begitu elok menambah kewibawaan agamisnya. Sungguh suatu pesona yang menggetarkan setiap musuh-musuh Allah.

          Dengan teknik deskripsi tersebut, penulis memberikan pemaparan yang konkret untuk membantu para pembaca membayangkan ketampanan berwibawanya sang lelaki. 
          
          Setelah memberikan gambaran yang seperti itu, penulis bisa menambahkan sentuhan tentang kepribadian sang subjek dengan kutipan-kutipan perkataan tokoh tersebut yang mencocoki karakternya.
          

          Untuk mengetahui teknik Deskripsi yang lebih lanjut dan lebih detail bisa TAP > Belajar Cara Menulis Deskripsi

***

Buku
Menulis Artikel
Asyik Dibaca - 50k

Mendesain kebiasaan BELAJAR ilmu syar'i dengan MENULISkannya, diretas bersama teman setia kopi di studio sketsarumah.com.
F A Q (Frequently Asked Questions)
Pertanyaan yang sering diajukan

Silahkan chat dengan tim kami Admin akan membalas dalam beberapa menit
Bismillah, Ada yang bisa kami bantu? ...
Mulai chat...