www.izzuka.com
Menjadi Terampil Menulis
hanya dari kebiasaan menulis sederhana, mau? buruan! TAP > Yuk! menulis di sketsarumah.com.

#03 Lanjutan Mengapa Kecil

Kecil itu Tak Bergantung pada Motivasi

          Motivasi atau tekad sering digembar-gemborkan sebagai cara untuk meningkatkan dan mempertahankan suatu perubahan dalam waktu yang lama. Ternyata, teori akademispun sering kali tak berhasil mentransformasi orang-orang di kenyataan kehidupan mereka.
          
          Motivasi selalu berubah-ubah, sehingga membuat hal tersebut tak dapat diandalkan. Kalbu selalu bergolak setiap hari, mudah berbolak-balik, goncang, labil, tidak stabil dan tidak kokoh.
          
          Contoh kasus pada si Ngadiman, kita sebut saja dengan panggilan Diman:
          Diman pernah tinggal sekitar sebulan di suatu pondok pesantren. Ada urusan yang mengharuskan ia begitu.

          Nah, ketika tinggal di ponpes itu, untuk akomodasi konsumsi dibersamai bersama santri. Diman selalu ingin mengambil sendiri ransum tersebut ke dapur ponpes, tetapi ada salah seorang santri yang sangat beradab berkata, "Biar ana ambilkan makanan antum, antum ndak usah ambil sendiri."

          Sejatinya, Diman menolak. Namun santri yang bernama Ahmad itu tetap bersikeras untuk mengambilkan, karena itu bentuk adab anak muda kepada yang lebih tua. Lebih dari itu, itu juga penerapan akhlaq karimah akibat pengajaran para ustadznya.

          Baiklah, jika begitu, Diman pun menerima.

          Ternyata makanannya begitulengkap, berupa nasi, lauk pauk dan sayurnya itu dalam standar porsi para santri. Nasi putih menggunung.

          Diman pun, karena urusan di ponpes tersebut termasuk menguras tenaga, ketika waktu makan tiba, sangat lapar. Makanan yang tersedia disikat habis. Selalu tandas. Nasi putih yang selalu menggunung, pindah ke perutnya.

          Begitu setiap hari.

          Sampailah waktu bulan puasa tiba. Anehnya ketika Diman puasa memang tubuh lemas, tetapi yang ia rasakan, sangat lemas. Apalagi, jika ada keperluan keluar sebentar membeli sesuatu di toko. Ketika berada di toko, rasa-rasanya ingin cari kursi untuk duduk, saking lemasnya.

          Di dalam benaknya kondisi yang seperti ini, adalah di luar kebiasaannya. Karena, dulu ketika belum ada urusan di ponpes ini, pernah puasa, tubuhnya lemas, tetapi tidak sampai seperti yang ia alami sekarang.

          Anehnya lagi, ketika waktu buka puasa, minum minuman sesegar apapun, Diman tetap merasa haus.

          Ada apa dengan tubuhku? Diman senantiasa bertanya-tanya dalsm kalbunya.
          Klimaksnya, ketika Diman mudik ke kampung mertua. Dan, suatu ketika itu di kampung mertua bertepatan dengan hari Jumat. Ibadah shalat Jum'at. Diman berjalan ke masjid dekat alun-alun kota dalam keadaan lemas sekali. Sampai-sampai ketika pulang dari masjid, berhenti dulu di tengah perjalanan pulang ke rumah mertua. Terduduk di tengah taman alun-alun kota.

          Sesampai di rumah mertua, adik ipar Diman yang seorang dokter penyakit dalam menganjurkan Diman untuk tes kesehatan ke laboratorium. Ia menduga Diman sakit kadar gula darah tinggi atau diabetes. 

          Diman pun jadi teringat kepada ayah dan kakeknya yang juga mengidap sakit itu.

          Singkat kata, setelah tes kesehatan ke laboratorium, hasilnya ada di dalam amplop tertutup, Diman serahkan ke adik iparnya yang dokter tersebut.

          "Wah, Mas rapotnya merah!" sentak adik iparnya.

          Hah! ada apa ya? benak Diman bertanya.

          "Gula darah 600," adik iparnya menjelaskan.

          Maka sejak itu, makanan Diman dikurangi, nasi putih ditimbang, dan banyak larangan makanan yang tak boleh Diman makan, terutama yang manis-manis. Lalu, Diman disuruh adik iparnya untuk setiap hari menyuntik insulin pada perutnya.

          Diman pun menguatkan motivasi dan tekad untuk mengendalikan konsumsi makanan. Diet keras. Pada awalnya motivasi meningkat. Semangat. Namun, Diman pernah makan nasi putih sedikit saja, hanya sekepal tangan, lalu ketika dites kembali kadar gula darah melonjak naik 300. Bagaimanalah ini?

          Akhirnya, Diman tak mau menyerah. Ia pikir ini bukan hanya masalah motivasi dan tekad yang kuat. Motivasi selalu fluktuatif, gak janji deh.

          Diman ingat, ketika ia pernah belajar bahasa Arab, kursus sana, kursus sini. Privat juga, dengan modal motivasi kuat, menjadi murid tunggal. Ternyata, sulit sekali memahami bahasa Arab. 

          Lalu, Diman mencoba pindah bersama keluarganya tinggal di lingkungan pondok pesantren. Ternyata, begitu mudahnya memahami bahasa tersebut. Belajar bersama santri yang banyak, setiap hari, lokasi belajar dekat, sering bertemu dengan orang-orang satu keinginan, itulah yang memudahkan untuk belajar. Dan, menyenangkan. Kalau Diman dibayangkan memang berpindah tempat tinggal merupakan kerepotan sendiri, tetapi itu langkah sederhana yang menuntaskan segala keribetan dalam mempelajari bahasa Arab.

          Diman pikir, masalah diet ini bukan masalah motivasi dan tekad saja. Kalaupun iya, ternyata motivasi tak dapat diandalkan. Selalu berubah-ubah, tergantung juga pada hal-hal di luar dirinya. 

          Maka, sejak itu Diman mengadakan tes setiap jenis makanan pada tubuhnya. Ternyata ia dapati yang paling memicu gula darah merangkak naik adalah: nasi putih, dan makanan yang mengandung gula, seperti kue-kue. Sedang makanan lainnya, seperti buah-buahan, kentang, tidak menunjukkan kenaikan gula darah yang signifikan.

          Dan, sejak itu pula Diman tak mau makan nasi putih lagi, padahal bagian poli gizi kesehatan rumah sakit tetap membolehkan makan nasi putih, namun mesti ditimbang, dan tetap minum obat beserta suntik insulin.

          Ketika Diman meninggalkan nasi putih, dan diganti dengan makan pengganti seperti kentang, nasi merah atau nasi hitam, tak perlu ditimbang lagi. Bisa makan semau dia, tidak perlu kelaparan. Dan, waktu itu Diman masih minum obat dan suntik insulin. Ternyata gula darah drop turun sampai 70, dan itu lebih bahaya, mampu merusak jaringan otak. Ini pasti akibat obat dan suntik insulin. Karena apa? Ya karena sudah tidak makan nasi putih, tentu gula darah normal, dihantam obat dan suntik insulin, ya tentu saja terjun bebas semakin turun. Akhirnya di bawah ambang batas normal kadar gula darah 110.
          
          Hanya dengan mengubah nasi putih dengan nasi hitam, itu adalah langkah dan usaha kecil, tanpa meninggalkan standar porsi normal ketika makan, masih begitu mudah dan menyenangkan. Tidak butuh motivasi kuat.
          
          Dibanding mengurangi porsi nasi putih dengan ditimbang, menahan kelaparan, minum obat dan suntik insulin adalah masalah besar, sulit dan menyusahkan diri. Dan ini perlu motivasi dan tekad yang kuat.
          
          Maka sejak itu, Diman tak pernah minum obat dan suntik insulin. Sampai-sampai adik ipar yang dokter heran, "Mas sudah ndak pernah minum obat lagi ya?"

          "Iya, tidak pernah," Diman menjawab apa adanya.

          Bahkan adik ipar bertanya, dimana membeli beras hitam, karena ia juga ingin membelikan adiknya yang sakit diabetes juga.

          Untuk pengganti pemanis gula, Diman memakai gula aren. Namun, mesti hati-hati karena banyak gula aren palsu. Ia harus tes dulu gula aren yang dibeli, naik apa tidak gula dalam darah ketika konsumsi gula aren tersebut.
          
          Intinya, bahwa hanya dengan usaha kecil merancang konteks kehidupan kita, yaitu seluruh apa-apa yang ada di luar kita. Dimana lingkungan luar itulah yang akan mempengaruhi perilaku dan kebiasaan kita. Dan, kebiasaan-kebiasaan kita itulah yang akan menentukan masa depan kita bagaimana, in sya Allah. Tanpa mengandalkan motivasi yang kuat. Bahkan motivasipun dapat juga lambat laun tumbuh dengan konteks-konteks itu sendiri.
          
          Ada pemeo, "pengendalian diri yang kuat adalah, dengan sekecil mungkin menggunakan motivasi."
          
          Kecanduan pada makan nasi Padang dengan rendangnya yang menggiurkan dan kue-kue yang sebagian besar adalah manis, kita akan tahu bahwa hampir semua orang suka. 

          Apakah kita menyalahkan Diman ketika ia suka juga? Apakah itu kesalahan karakter atau sifat Diman, ketika ia tak punya motivasi kuat untuk menahan dirinya untuk tak mengonsumsi makanan-makanan tersebut? Sedangkan orang lain yang tidak berdiabetes pun tak mampu menahannya.

          Ini adalah masalah desain konteks lingkungan, bukan masalah cacat pada karakter Diman. Motivasi dia yang naik turun bukanlah kesalahannya, bukan kelemahan moral dan tekad.

          Begitu Diman memahami langkah kecil dalam desain perilaku - kesederhanaan mengubah perilaku - Dia memfokuskan diri untuk menciptakan kebiasaan, langkah sederhana jika tak dapat dikatakan kecil, tetapi dampaknya besar. Dan, itu membantu menyingkirkan kebiasan mengonsumsi nasi putih selamanya. Dan mengganti gula, dengan gula aren. Desain ulang lingkungan yang meliputinya. Kebiasaan minum kopi "gunting" yang satu paket dengan gula dari produsen pun, ia ganti dengan kopi "giling" yang ternyata nikmat tanpa gula.

          Kebiasaan kecil hanya mengubah nasi putih menjadi nasi hitam, akhirnya memicu kebiasaan berantai lainnya, minum kopi giling, dan kebiasaan belajar dan menulis yang bisa mengalihkan kebiasaan yang bisa memperparah kadar gula darahnya.

          Diman, bisa mengadakan pendekatan semua kebiasaan baru tersebut dengan keterbukaan pikiran, menyayangi dirinya sendiri dan tidak mau merepotkan keluarganya karena kondisi tubuhnya.

          Adakalanya Diman lengah terhadap makanan manis, tetapi itu bukan kegagalan karakter, tetapi masukan desain yang bisa digunakan untuk memperbaiki konteks yang akan dilakukan di masa depan.
          
          Menjaga agar perubahan tetap kecil dan ekspektasi tetap rendah adalah cara mendesain perilaku. Tidak bergantung kepada motivasi yang selalu datang di hari baik saja, sedangkan di hari buruk ia kabur.
          
          Saat ketika sesuatu berukuran kecil, hal itu mudah dilakukan, tak perlu berharap pada sang motivasi yang gaje - gak jelas._

Latihan kecil, kebiasaan kecil belajar dan menulis

          Cara kita terbaik untuk merasakan kebiasaan belajar dan menulis adalah dengan langsung melatihnya. Jangan banyak pertimbangan, langsung aksi.
          
Latihan Pertama, mulailah kita dengan yang telah disampaikan pada 

Latihan Kedua, kita lakukan berikut ini, dan jangan berusaha menjadi sempurna. Kita langsung terjun dan belajar sambil melakukannya. Jangan kita tegang, fleksibellah dan tumbuhkan rasa senang.
           Kita tentu mengetahui cara menulis atau menyalin faedah-faedah diniyah
           Namun, jika kita seperti kebanyakan orang, kita tidak akan menjadikannya kebiasaan, karena hal tersebut bukan yang otomatis lazim dalam kehidupan kita umumnya. Bahkan, sebagian orang ketika belajar, atau ikut kajian hanya "jiping" (ngaji kuping), tidak membawa buku untuk mencatat, atau mengetik di gadget, apalagi murojaah kembali di tempat tinggal. Boro-boro. 
           Latihan ini, bisa membantu kita mengubah hal tersebut dengan cara berfokus pada keotomatisan kebiasaan belajar dan menulis tersebut. Bukan fokus pada kualitas belajar dan menulisnya.
           Temukan kajian Salafy yang kita sukai di daerah kita, ikuti secara konsisten, rekam memakai hp kita. Jika tak ada di daerah kita, sangat mudah mencarinya di channel-channel Telegram. Mungkin kita perlu mencoba-coba dulu beberapa kajian yang berbeda, untuk mengetahui apa yang terasa paling pas, paling suka dan paling dibutuhkan oleh kita. Lalu unduh.
           Perhatikan waktu-waktu yang baik untuk belajar dan menulis menurut Salafush Shalih:
           Ibnu Jama'ah rahimahullah mengatakan,

  أجـود الأوقـات للـحفـظ :  الأسحـار ، 
وللـبحـث : الأبكـار ، 
وللـكتابة : الـنهـار ،
وللـمطـالـعة والـمذاكرة : اللـيل  " 

          "Waktu yang paling bagus untuk menghafal adalah waktu sahur, untuk pembahasan ilmiah adalah pagi hari, untuk menulis adalah siang hari dan menelaah serta muraja'ah (mengulang pelajaran) adalah malam hari."

Sumber: Tadzkiratus Saami ' wal Mutakallim hal 72 - Channel https://t.me/KajianIslamTemanggung

           Kebanyakan kajian Islam, pada umumnya diadakan saban hari setelah shalat Magrib berjama'ah di masjid sampai waktu shalat Isya atau kajian pekanan di hari libur hari Sabtu atau Ahad. Baiklah, kita ambil waktu umumnya saja, yaitu yang harian setelah Magrib.

           Maka untuk latihan kecil kedua ini, kita ambil waktu malam, dalam rangka muraja'ah, menela'ah, dan mengulang pelajaran, sesuai panduan Salafush Shalih.
           Kemudian kita lakukan:
           
           Langkah 1
           ✓ Setelah kegiatan harian pada sore hari sebelum shalat Magrib atau kapanpun, Tuliskan kalimat
"Bismillah, setelah pulang dari shalat Isya, menulis kalimat faedah kajian." di secarik kertas.
           ✓ Tempelkan kertas tersebut di dekat meja kerja atau di tempat biasa kita nyaman untuk mengetik di hp atau di tempat manapun yang mudah dan sering kita lihat. Misalkan di lintasan kita di dalam rumah, ketika nanti, kita baru pulang dari shalat Isya.
           
           Langkah 2
           Setelah pulang dari masjid, untuk kajian setelah Magrib dan shalat Isya berjamaah dan setelah makan malam, bisikkan kata, "Bismillah," lalu dengarkan kajian yang telah kita rekam, atau kajian dari channel Telegram yang telah kita unduh. Dengarkan dengan cermat dan perhatian penuh. Seberapa lama? Sesuka dan sesenang kita saja. Atau, bisa juga membaca kitab, buku Ahlus Sunnah, bahkan menterjemahkan jika mampu.
           
           Langkah 3
           Setelah mendengar rekaman kajian, raihlah hp, buka aplikasi Keep Notes.
           
           Langkah 4
           Tulislah satu kalimat faedah kajian saja dari rekaman kajian yang telah kita dengarkan. Save. Jika perlu copas ke Grup Salafy Asyik Belajar Saban Hari.
           
           Langkah 5: 
           Cerahkan wajah kita, jika mampu tersenyum, merasa senang dan gembiralah, karena kita telah membuat suatu kebiasaan baru belajar dan menulis, dan tentu kebaikan membuat kalbu tenang dan tentram, berbahagialah. Hendaknya kita bersyukur, ucapkanlah, "Alhamdulillah."

Catatan: Dalam hari-hari ke depan, kita bisa menulis kalimat faedah diniyah lebih dari satu kalimat, jika kita mau. Anggaplah apapun yang lebih dari satu sebagai poin tambahan. Ternyata kita telah berusaha lebih sungguh-sungguh.

***
Mendesain kebiasaan BELAJAR ilmu syar'i dengan MENULISkannya, diretas bersama teman setia kopi di studio sketsarumah.com.
F A Q (Frequently Asked Questions)
Pertanyaan yang sering diajukan

Silahkan chat dengan tim kami Admin akan membalas dalam beberapa menit
Bismillah, Ada yang bisa kami bantu? ...
Mulai chat...