www.izzuka.com
Menjadi Terampil Menulis
hanya dari kebiasaan menulis sederhana, mau? buruan! TAP > Yuk! menulis di sketsarumah.com.

#04 Variabel Kebiasaan

          Kita - insya Allah - sanggup mengubah kehidupan kita, dengan mengubah perilaku atau kebiasaan kita. Termasuk kehidupan ilmiah dan amaliyah kita dengan mengubah perilaku atau kebiasaan belajar dan menulis kita.
          
          Yang penting kita ketahui adalah ada tiga variabel atau komponen yang menggerakkan berbagai kebiasaan atau perilaku tersebut. Perilaku suatu misteri, tetapi dengan model tiga variabel, misteri itu akan terpecahkan. Variabel yang tiga tersebut saling berhubungan, bekerjasama menggerakkan setiap tindakan kita. Mulai dari menulis faedah agama Islam satu kalimat sampai belajar menelaah ilmu selama berjam-jam di perpustakaan.          
          Begitu kita memahami pola kebiasaan, kita sanggup menganalisis mengapa kebiasaan terjadi. Dengan demikian, kita mampu berhenti menyalahkan kebiasaan kita pada hal-hal yang tak semestinya, seperti karakter, sifat pribadi, kedisiplinan dan sebagainya yang itu semua ada di dalam faktor internal diri kita.
          
          Bahkan, kita mampu menggunakan pola 3 variabel untuk mendesain perubahan perilaku atau kebiasaan bagi diri kita maupun orang lain.
          
          Apakah 3 variabel tersebut?
          
          3 variabel tersebut: Motivasi, Kemampuan, dan Pemicu, dimana ketiganya berkumpul pada saat yang sama sehingga terjadillah perilaku atau kebiasaan.
          
          Motivasi: keinginan kita untuk melakukan perilaku atau kebiasaan.
          Kemampuan: kapasitas kita untuk melakukan perilaku atau kebiasaan.
          Pemicu: isyarat untuk melakukan perilaku atau kebiasaan tersebut.
          
          Untuk mudahnya memahami kita beri contoh:
          
          Suatu pagi, ketika Sang Surya baru mau keluar dari persembunyiannya, kurang lebih pukul 05:55:03 WIB, Sabtu 27 Mei 2006, aku sedang mendengarkan kajian melalui radio komunitas di rumah.
          Tiba-tiba, suara ustadz kami yang mengisi kajian berubah, "Allah Musta'an ..."
          Tempat duduk yang aku duduki, serta merta bergoncang.
          "Krektek, krektek, krektek!" suara dari atas. Aku mendongak ke atas, ada apa? Rupanya genteng-genteng rumahku bergemeretak.
          Kemudian terdengar di speaker radioku kegaduhan. Tak jelas saling melontarkan suara. Suara-suara orang panik, bagaikan ribuan lebah. 
          Aku memang saat itu tak hadir di masjid, karena suatu udzur urusan rumah. Sehingga, aku cukupkan mendengar kajian pagi yang biasa disampaikan di masjid Khalid bin Walid, masjid komunitas Ahlus Sunnah di Muntilan.
          Ada bunyi aneh juga, "Kriét ... kriét ... kriét!" di radio tersebut. 
          "Gempa! Keluar! Keluar! ..." teriakan-teriakan di masjid terdengar dari radio.
          Hah! Gempa bumi? Akupun bersegera keluar dari rumah, sampai lupa mengajak keluarga. Begitulah jika panik, semua ingin menyelamatkan diri. Bagaimana jika kiamat ya?
          Ya itulah, peristiwa gempa bumi tektonik kerak dangkal yang mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah selama 57 detik. Gempa bumi tersebut berkekuatan 5,9 pada skala Richter. Kekuatan gempa lumayan, tetapi tidak terlalu kuat, hanya saja durasinya yang cukup lama, hampir 1 menit. (https://id.m.wikipedia.org
          Berita yang akhirnya diketahui setelah terjadi gempa bumi tersebut, adalah sebagian besar bangunan penduduk di daerah Bantul dan sekitarnya luluh lantak. Banyak korban dari kalangan manula yang meninggal tertimpa reruntuhan rumahnya. Ya, bagaimanalah mau keluar rumah, para manula dengan kerentaannya lambat bergerak.
          Setelah itu, maka mulailah masyarakat, termasuk golongan Ahlus Sunnah bergotong royong, bantu membantu untuk membereskan bangunan yang rusak. Sampai-sampai dari warga komunitas Ahlus Sunnah ketika ikut membantu, malah tertimpa reruntuhan bangunan, dan terpaksa dibawa ke Rumah Sakit untuk dioperasi bedah tulang, karena pinggulnya ada yang patah. 
          Begitu pula bantuan materiil, dana mengalir dari berbagai penjuru.
          Akupun berpikir putar-putar otak,"Kira-kira apa yang bisa aku bantu? Setidaknya entah apa, gagasan atau ide apalah ..."
          Maka, dengan bermodal pulsa HP, - waktu itu belum ada HP Android - aku mencoba SMS  teman-temanku semasa sekolah dan kuliah, seingatku begini teks smsnya, _"Bismillah, gempa Jogja telah meluluh lantakkan sebagian besar rumah-rumah di daerah Bantul, dan korban jiwa. Kebetulan aku di Muntilan, cukup dekat dengan lokasi itu. Barangkali teman-teman ingin ikut membantu dalam bentuk dana, silakan transfer ke no. rekening xxx. Terima kasih banyak atas bantuannya, semoga Allah membalas dengan balasan setimpal."_
          Tak berapa lama, berhujanan SMS dari teman-temanku, ada yang balas, "Oo loe sekarang di Muntilan?" Dan, selanjutnya siap transfer.
          Ada yang langsung SMS, "Sudah gue kirim ke rekening loe ya, 500rb."
          Juga, mungkin yang belum sempat hari itu, keesokannya menyusul transfer. Rata-rata mereka mentransfer 500 ribu rupiah, ada sesekali di bawah nilai itu. Mereka memakai logat Jakarta, karena sebagian besar teman-teman berdomisili di sana.
          Dan, yang paling mengagetkan aku, adalah SMS ini, "Udah gue transfer ya, 10jt." Masya Allah nilai yang cukup besar di tahun itu, 2006 lho!
          
***
          Baiklah, kita mencoba menganalisis tindakan teman-teman tersebut terkait 3 variabel perilaku atau kebiasaan.

          Perilaku: Memberikan sumbangan dana bantuan melalui transfer rekening bank.

          Motivasi: Teman-teman ingin membantu para korban gempa bumi.

Kemampuan: Transfer ke rekening bank adalah hal mudah, yaitu ketika teman-teman melintas di tempat-tempat yang ada anjungan ATM, sekaligus bila ada keperluan ambil uang untuk keperluan sehari-hari. Apalagi anjungan ATM berserak dimana-mana. Itu belum ada HP Android, jika telah ada mungkin lebih mudah lagi mentransfer melalui aplikasi-aplikasi perbankan. 

          Pemicu: SMS yang terkirim dari aku.
          
          Dalam peristiwa ini, ketiga variabel bertemu (Motivasi, Kemampuan dan Pemicu), sehingga terjadilah tindakan atau perilaku tersebut, teman-teman mengirim sumbangan. Namun, jika salah satu dari tiga variabel tersebut tak terpenuhi, kemungkinan besar teman-teman tidak melakukannya.
          
          ✓ Motivasi teman-teman untuk tindakan tinggi. Akibat gempa bumi Jogja tersebut tentu diberitakan secara luas dan betul-betul membuat kalbu-kalbu terenyuh.
          
          ✓ Kemampuan, bagaimana? Jika sang aku meminta dana cash dikirim di dalam amplop atau dikirim melalui wesel pos, tentu itu menyulitkan teman-teman. Sedangkan, sang aku hanya mohon transfer ke suatu no. rekening, ini setidaknya memudahkan. Apalagi jika ada anjungan ATM langganan teman-teman, tentu mudah mengaksesnya, karena telah terbiasa menuju tempat itu atau memang anjungan ATM tersebut terletak di lintasan kesibukan sehari-hari mereka.
          
          ✓ Pemicu, cukupkan memicu tindakan? Bagaimana jika penggalangan dananya tidak pakai SMS, misalkan menggunakan surat via pos, dan akhirnya teman-teman membuangnya tanpa membacanya, karena menganggap tidak penting. Sehingga tidak ada pemicu, karena teman-teman tak melihat permohonan sang aku. Tak ada pemicu, maka tak ada tindakan atau perilaku.
          
          Alhamdulillah, Sang Aku membantu teman-teman. Teman-teman ingin menyumbang, dan sang aku memudahkannya. Ide gagasan itu cukup lumayan sukses, mengumpulkan dana di atas 15 juta rupiah. Dari satu orang yang cuma coba-coba dan untung-untungan.
          
          Dari sini, nanti akan dijelaskan pola tiga variabel itu berlaku secara umum untuk semua perilaku manusia termasuk belajar dan menulis. Dan, lebih dari itu, nanti kita bisa mendesain perilaku atau kebiasaan belajar dan menulis agar terekseskusi 
          
***
Mendesain kebiasaan BELAJAR ilmu syar'i dengan MENULISkannya, diretas bersama teman setia kopi di studio sketsarumah.com.
F A Q (Frequently Asked Questions)
Pertanyaan yang sering diajukan

Silahkan chat dengan tim kami Admin akan membalas dalam beberapa menit
Bismillah, Ada yang bisa kami bantu? ...
Mulai chat...