www.izzuka.com
Menjadi Terampil Menulis
hanya dari kebiasaan menulis sederhana, mau? buruan! TAP > Yuk! menulis di sketsarumah.com.

Motivasi yang Fluktuatif

          Dari 3 jenis kalbu yang dibeberkan Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi di dalam Mukhtashar Minhajul Qashidin, nampak fluktuatifnya motivasi yang dijelaskan dalam Materi Kebiasaan Belajar berarti itu juga ada 3 macam - lihat gambar Model Perilaku -, ini dikarenakan kita meninjaunya dari sisi timbangan kebaikan agama: kebiasaan belajar ilmu syar'i ;

1. Motivasi yang berfluktuatif, tetapi di dataran tinggi Motivasi, yaitu pada kalbu ibarat benteng yang dikuasai kebaikan (tentara malaikat).

2. Motivasi yang berfluktuatif, tetapi di dataran rendah Motivasi, yaitu pada kalbu ibarat benteng yang dikuasai kejelekan (tentara setan).

3. Motivasi yang berfluktuatif, tetapi terkadang di dataran tinggi Motivasi, dan terkadang di dataran rendah Motivasi yaitu pada kalbu yang goncang, bimbang yang akhirnya akan dimudahkan kepada salah satunya.

          Sedangkan timbangan di ilmu kebiasaan adalah kebaikan secara umumnya orang, bahkan terkadang dilihat dari sisi manfaat duniawi.

          Al-Ustadz Usamah Mahri di dalam Raudhatul Uqala', telah berkata kurang lebih sifat sabar itu ada 2;

✓ Sabar karena apa, sabar untuk apa, dan kepada siapa itu ditujukan, tentu ditujukan kepada Allah Subhana wa ta'ala semata. Nah, ini memang sabar yang ada kalbu, dengan mengharap pahala Syurga.

          Tetapi, ada pula

Sabar pada jasadnya saja, misalkan bersabar untuk bekerja mencari nafkah, sampai banting tulang, begadang, kaki jadi kepala, kepala jadi kaki. Namun niatnya hanya untuk dunia. Atau sabar diet tidak makan makanan tidak menyehatkan untuk supaya sehat saja tanpa niatan agar ibadah kuat, dan sabar kegiatan dunia lainnya dengan niat dunia pula.

          Jadi, semua bergantung niat dan perbuatannya. Kebiasaan belajar ilmu syar'i jelas-jelas suatu kebaikan, bahkan termasuk jihad. Maka terkait ini, ketika kita mulai meneroka masalah Motivasi dalam melakukannya, sudah pasti musuh-musuh agama siap menyerang kalbu, yakni tentara setan. Dan, telah dijelaskan oleh Ibnu Qudamah terkait 3 jenis kalbu di atas.

        Sehingga sesuatu yang dimulai kecil itu untuk kalbu yang bermotivasi goncang, berfluktuatif di dataran rendah. Dimana tentara setan berusaha menyerang kalbu kita karena masih adanya 10 pintu besar (gerbang) tempat masuknya setan.

         Untuk itu, selain utak-atik Kemampuan dengan menjadikannya perilaku kecil, karena lemahnya motivasi, kita juga perlu utak-atik dengan teknik memanfaatkan Pemicu atau Tambatan untuk menimbulkan karakter atau sifat baik, seperti telah diberikan ramuannya sebelumnya. 

         Hal tersebut, agar bisa menaikkan motivasi kita di dataran tinggi, maka benteng kalbu diduduki kebaikan dan tentara malaikat, sehingga dalam keadaan kemampuan sesulit apapun, kita tetap bisa mengeksekusi kebiasaan belajar kita. Karena fluktuatif motivasi ada di dataran tinggi motivasi. Naik-turunnya motivasi di kalbu hanya bersitan-bersitan jelek serangan setan yang hanya bisa menjangkau tepi-tepi kalbu lalu bersembunyi, karena pusat kalbu telah dikuasai kebaikan (tentara malaikat).

          Berikut 10 pintu besar, tempat masuknya setan, yang perlu kita latih untuk kita singkirkan:

1. Kedengkian dan ambisi       
2. Amarah, syahwat dan kekerasan
3. Gemar memperindah rumah, pakaian dan perabotan rumah     
4. Rasa kenyang
5. Ambisi kepada manusia, memuji berlebihan, mencari muka
6. Ketergesa-gesaan dan meninggalkan pembuktian
7. Cinta harta
8. Menggiring kalangan awam (kurang ilmu) kepada fanatisme mazhab.
9. Menggiring kalangan awam (kurang ilmu) kepada pemikiran Dzat Allah ta'ala dan Sifat-sifat-Nya, yang akal-akal mereka tak terjangkau padanya.
10. Prasangka buruk pada kaum muslimin

          Motivasi dalam belajar dan menulis mungkin kasusnya beragam, tergantung detail jenis perilakunya, misal:

Mengikuti kajian, mungkin rata-rata di dataran tinggi, bahkan melonjak ketika dauroh, dan sangat tinggi lonjakannya ketika dauroh masyaikh. Sehingga main-main di Kemampuanpun beragam.

Belajar murojaah di rumah, nah, ini rata-rata motivasi kecil, di samping kemampuannya minim, entah terkait kesibukan. Kalau ini butuh didesain, dan dimulai perilaku kebiasaan belajar yang kecil, lebih dahulu. Seperti menulis 5 kalimat faedah kajian.

Menulis, apalagi ini, murajaah pelajaran di rumah saja butuh utak-atik Kemampuan karena motivasi yang rendah, lebih-lebih menulis. Ini motivasinya di bawah belajar. Hanya saja ketika kita gabung dengan menumbuhkan kebiasaan belajar, maka disini terjadi kolaborasi sinergi: 

          Belajar ilmu syar'i dengan menulis, menulis untuk belajar. 

          Dan karena, menulis adalah hakekatnya membaca dua kali dalam artian menulis di kalbu, maka kita mendapatkan keuntungan berlipat:

✓ Ilmu semakin terikat
✓ Ada hasil tulisan untuk di publish, sehingga mendapat pahala.
✓ Semakin cerdas
✓ Pikiran semakin tertata dan teratur
✓ Timbul gagasan-gagasan yang masih di atas rel Islam.
✓ Kalbu semakin tenang, senang, bahagia, percaya diri. 
✓ Identitas sebagai Salafy seutuhnya menguat. 
✓ Banyak bersyukur merasa begitu banyak nikmat Allah yang telah diberikan.
✓ Amalan zhahir dan batin semakin benar.
✓ Dan banyak lagi.

          Akhirnya membentuk pusaran-pusaran kebaikan yang berpengaruh pada sekitarnya, istri, anak-anak, skala lebih besar lagi seperti tetangga,  lingkungan pemukiman, dan banyak lagi.

         Kitapun semakin percaya diri mampu mendidik anak-anak kita sendiri, yang selama ini kita minder karena stagnannya ilmu dan selalu bergantung pada sekolah.

***
WhatsAb Sabar
WhatsApp Salafy Asyik Belajar Saban Hari

Mendesain kebiasaan BELAJAR ilmu syar'i dengan MENULISkannya, diretas bersama teman setia kopi di studio sketsarumah.com.
F A Q (Frequently Asked Questions)
Pertanyaan yang sering diajukan

Silahkan chat dengan tim kami Admin akan membalas dalam beberapa menit
Bismillah, Ada yang bisa kami bantu? ...
Mulai chat...