www.izzuka.com
Menjadi Terampil Menulis
hanya dari kebiasaan menulis sederhana, mau? buruan! TAP > Yuk! menulis di sketsarumah.com.

#09 Pemecahan Masalah Perilaku dengan Tiga Langkah: Contoh Kasus 1

          Jika kita ingin bisa dengan sangat efektif mengubah perilaku kita sendiri atau orang lain, kuncinya adalah menguasai hubungan 3 variabel pada perilaku kebiasaan. Kita akan sanggup membaca perilaku kita sendiri, bahkan orang lain. 

          Ini adalah suatu keterampilan yang sangat berguna bagi perubahan hidup untuk lebih baik.
           Kita akan mampu memupuk kebiasaan baik dan menghentikan kebiasaan buruk atau menghentikan kebiasaan yang kita tidak inginkan.
          
          Selain itu, ini hal pentingnya:

Kita akan memiliki toleransi yang besar (mudaraat) terhadap perilaku orang lain yang kurang ideal atau memberatkan (tsuqala) kita, tentu tanpa mengorbankan prinsip-prinsip Islam (mudahanah).
          
          Kita sering kali ingin melakukan sebuah perilaku, atau ingin orang lain melakukannya, dan kurang berhasil atau bahkan tidak berhasil sama sekali. Dengan Desain Perilaku, kita mempunyai satu set langkah spesifik untuk pemecahan masalah tersebut.
          
          Misalkan, 
kita atau orang lain agar bersegera datang  ke masjid untuk shalat berjamaah di awal waktu, sehingga mendapatkan tempat di shaf pertama atau terdepan. 
          
          Karena, hal tersebut merupakan keutamaan di dalam Islam. Dimana, menunjukkan kebaikan bersegera pada panggilan adzan, dengan segera meninggalkan segala kegiatan, mengutamakan ibadah kepada Allah. Itu merupakan sebagai interpretasi kita terhadap tujuan Allah menciptakan kita.
          
          Namun, kita atau orang lain selalu tiba lebih lambat, sementara shaf terdepan masjid telah penuh. Terkadang, kita kesal pada diri sendiri atas kelambatan diri kita. Kekesalan kita terhadap diri kita itu merupakan usaha untuk mendorong Motivasi kita agar perilaku bersegera ke masjid terjadi. Saat pemecahan masalah, kita jangan atau tidak memulai dari Motivasi.
          
          Untuk itu, dengan adanya 3 variabel perilaku, kita akan mencoba beberapa langkah berikut ini dengan berurutan. Jika tak mendapatkan hasil pada urutan yang kita lakukan, coba langkah urutan berikutnya.
          
          ✓ Langkah 1: Periksalah apakah ada Pemicu untuk melakukan perilaku tersebut.
          ✓ Langkah 2: Lihatlah apakah kita memiliki Kemampuan untuk melaksanakan perilaku itu.
          ✓ Langkah 3: Perhatikan apakah kita ter-Motivasi untuk mengeksekusi perilaku tersebut.
          
          Jadi, mulailah dengan Pemicu. Apakah kita terpicu melakukan perilaku itu? Bersegera ke masjid. Kita bisa bertanya kepada diri kita sendiri, 
          
          "Apakah kita punya pengingat untuk datang bersegera di awal waktu ke masjid?"
          
          Sebetulnya jawabannya, "Kita mempunyai pengingat, yaitu adzan yang dikumandangkan itu sendiri." 

          Tetapi mungkin bisa kita perkuat dengan mendesain lingkungan kita, dengan cara menulis di secarik kertas, 
"Bismillah, aku langsung wudhu, begitu terdengar adzan, shalat sunnah, dan datang ke masjid, insya Allah." 
          
          Atau bisa juga ide kalimat lebih lengkap,
✓ "Bismillah, aku langsung berhenti dari kegiatan, begitu terdengar adzan, wudhu, shalat sunnah, dan datang ke masjid, insya Allah."
          
          Kemudian, kertas tersebut kita tempel di tempat yang mudah terlihat oleh pandangan kita dimana kita sering berkegiatan atau bekerja. Jadi, dengan tanpa rasa kesal pada diri kita bila kita berlambat-lambat, cukup mendesain Pemicu yang tepat.
          
          Jika, langkah 1 tak berhasil, kita bisa melanjutkan mencoba pada langkah berikutnya.
          
          "Apakah kita memiliki Kemampuan untuk melakukan perilaku itu?"
          
          Mungkin, kita mengetahui bahwa pekerjaan yang kita lakukan membuat kita hanyut, atau membuat pikiran kita sedang aktif-aktifnya, pikiran sedang panas. Sehingga, begitu terdengar adzan kita masih terlalu larut, kita tak mampu menghentikan pekerjaan. Nanggung nih!
          
Untuk itu, menjelang waktu-waktu shalat, hendaknya kita mulai cooling down, mulai meredakan pekerjaan atau kegiatan kita. Bebaskan pikiran atau aktivitas fisik kita dari pekerjaan kita. 
          
Misalkan untuk shalat Zhuhur, sebelum waktu Zhuhur yaitu tergelincirnya matahari ada kegiatan yang dianjurkan sebelum waktu Zhuhur, yaitu istirahat atau tidur beberapa saat. Dengan begitu pula, badan kita akan segar ketika melaksanakan shalat Zhuhur berjamaah. Kita tidak shalat dalam keadaan letih dari pekerjaan kita. Sehingga mempengaruhi kekhusyuan dalam shalat. Dan, kegiatan istirahat di waktu sebelum waktu Zhuhur sangat tepat di tengah kegiatan pekerjaan kita, sebagai persiapan kefokusan kalbu sebelum shalat.
          
Namun, jangan lupa memasang alarm untuk membangunkan kita dari istirahat sebelum adzan Zhuhur, sehingga kita mampu bangun tepat waktu untuk persiapan ibadah shalat Zhuhur. Jika tidak, bisa-bisa istirahat bablas sampai terlewat waktu adzan Zhuhur.
          
          Kiaskan trik tersebut untuk waktu-waktu shalat yang lain seperti Subuh, Ashar, Magrib dan Isya. Tak harus selalu istirahat sebelum waktu adzan shalat, intinya menghentikan kegiatan kita menjelang saat adzan.
          
          Dengan begitu, kita mampu menemukan jawabannya, bahwa ini masalah Kemampuan yang sulit, dikarenakan pekerjaan atau kegiatan sehari-hari, bukan masalah Motivasi.
          
          Misalkan, kita telah memiliki 
Pemicu berupa adzan itu sendiri, dan secarik kertas dengan kalimat pengingat yang ditempel, dan 
✓ Kemampuan dengan menghentikan pekerjaan yang akan memudahkan perilaku bersegera ke masjid.
 
         Ternyata kita masih berlambat-lambat ke masjid ketika terdengar adzan.

Berarti ini masalah Motivasi. Kita bisa banyak membaca ulang 
> keutamaan berada di shaf pertama shalat berjamaah di masjid, atau 
> keutamaan berdoa yang maqbul di antara adzan dan iqamat, atau 
> keutamaan menunggu iqamat, dan sebagainya, 
walaupun kita telah pernah mendengar atau membacanya. Mengulang-ulang mengetahui hal tersebut penting untuk meningkatkan keimanan, dan merekamnya di pikiran bawah sadar kita. Keutamaan-keutamaan itu tak akan didapat ketika kita berlambat-lambat datang ke masjid.
          
          Coba, kita perhatikan, mengutak-atik Motivasi adalah langkah terakhir dalam urutan pemecahan masalah. 
          
          Masalah yang sering terjadi di antara kita, kebanyakan kita beranggapan agar suatu perilaku terjadi, perlu berfokus pada Motivasi dahulu. Padahal, ada beberapa masalah mengapa masalah Motivasi di akhirkan, yaitu:
          
✓ Motivasi agar kita mengamalkan ilmu yang telah kita ketahui, biasanya telah kita dapat ketika kita pertama kali belajar dan mendapatkan materi keutamaan-keutamaan mengamalkan ilmu tentang ibadah shalat tersebut. Sehingga, sejatinya kita telah memiliki Motivasi tersebut. Hanya saja Motivasi terkadang labil, naik-turun, sehingga pemecahan masalah didahulukan pada variabel yang lain lebih dahulu,  yaitu variabel Pemicu, lalu Kemampuan.
          
 ✓ Jika pemecahan permasalahan tersebut pada orang lain, sulit kita mengetahui Motivasi orang tersebut.  Karena letak Motivasi ada di dalam kalbunya yang kita tak akan bisa mengetahuinya. Kita hanya bisa melihat gelagat perbuatan zhahirnya dan pertama kali mengusahakan sebab-sebabnya (Pemicu dan Kemampuan). Lalu berikutnya, langkah terakhir dengan memberi semangat, atau menghasung orang tersebut untuk memurojaah keutamaan-keutamaan bersegera untuk ibadah shalat. Hasilnya? Hanya Allah lah yang memberi taufiq dan hidayah-Nya.

Desain Kebiasaan Belajar dgn Menulis
dan Menulis untuk Belajar - Saban Hari

***

WhatsAb Sabar
WhatsApp Salafy Asyik Belajar Saban Hari

Mendesain kebiasaan BELAJAR ilmu syar'i dengan MENULISkannya, diretas bersama teman setia kopi di studio sketsarumah.com.
F A Q (Frequently Asked Questions)
Pertanyaan yang sering diajukan

Silahkan chat dengan tim kami Admin akan membalas dalam beberapa menit
Bismillah, Ada yang bisa kami bantu? ...
Mulai chat...