www.izzuka.com
Menjadi Terampil Menulis
hanya dari kebiasaan menulis sederhana, mau? buruan! TAP > Yuk! menulis di sketsarumah.com.

Bongkar Pasang

          Setelah baca Mukhtasar Minhajul Qashidin tentang Pendidikan dan Perbaikan Akhlaq, Ibnu Qudamah al-Maqdisi selalu mengibaratkan kepada pembentukan jasad raga.

          Pembentukan jasad, dari awal tumbuhnya jika salah akan menimbulkan penyakit raga

          Suatu saat pernah dapat pengetahuan tentang PAZ, yaitu Pengobatan Akhir Zaman, yang fokus pada pembetulan bentuk kerangka tubuh kita. Jika bentuknya kembali sempurna, maka otomatis organ-organ lainpun ikut benar. Dan bila ada yang sakit akibat bentuk kerangka tubuh yang salah, otomatis akan mengalami penyembuhan dengan sendirinya. Karena letak posisi organ tersebut kembali ke posisi semula yang benar sesuai saat penciptaannya.

          Demikian pula, kalbu yang menjadi pusat akhlaq baik atau buruk. Kerangka utamanya pada aqidah dan keyakinan yakni Tauhid, lalu juga pembentukan sifat-sifat baik pada kalbu.

          Jika pembentukan awalnya,  - yaitu ketika kita kecil - sudah salah tidak sesuai dengan yang dimaui sesuai penciptaan - Nya, maka ini akan menimbulkan penyakit-penyakit kalbu. Sehingga timbullah akhlaq buruk. Ketika semakin besar dan dewasa, penyakit kalbu bisa semakin bercokol dan mengakar.


          Ibarat pembentukan fisik yang salah, bisa menimbulkan kanker, hipertensi, dan sebagainya. Jika dibiarkan, penyakit semakin merusak tubuh kita.

          Oleh sebab itu, pembentukan dari awal ketika kita masih kecil ini akan lebih mudah, dan lebih ringan. Karena kalbu ibaratnya masih lunak, masih bersih. Mudah dibentuk, dan mudah diisi dengan sesuai yang diinginkan fitrahnya yakni Islam.

          Adapun jika telah besar dan dewasa, ketika terjadi kesalahan dalam pembentukannya, sehingga timbul penyakit-penyakit kalbu, ini lebih sulit. Kita akan memiliki PR yang begitu banyak yang mesti segera dibereskan, sebelum semakin terlambat. PR harus dikumpulkan (saat mati), sedang penyakit-penyakit itu masih kronis. Ibarat nasi telah menjadi bubur.

          Pengobatan kalbu bukan hal yang mudah, karena ada beberapa tahap yang mesti dilewati.
 
         Bukankah mencegah lebih ringan daripada mengobati?

          Langkah-langkahnya mungkin seperti ini:

1. Menyadari adanya kekurangan (penyakit) tersebut pada diri kita. Untuk mengetahui penyakit, semestinya berkumpul dengan orang yang sehat (orang-orang shaleh). Selama dia masih berada diantara orang-orang berpenyakit, tentu dia menganggap dirinya sehat-sehat saja.

2. Setelah terdeteksi kekurangan diri kita, langkah berikutnya adalah mengakui, rendah hati, tawadhu bahwa kita bukan orang sehat. Kita berpenyakit. Jika tidak, misalkan ada sedikit "jaim" (jaga image) atau sombong, atau merasa dirinya mempunyai status kebaikan dalam suatu kelompok manusia, maka sulit untuk rendah hati. Dan ini adalah penyakit kalbu tersendiri yang harus disembuhkan lebih dahulu, sebelum penyakit kalbu lainnya dilakukan terapi.

3. Latihan menjadi orang rendah hati. Dengan mencari Tambatan yang selama ini membuat ia jaim, lalu mengubah perilaku untuk tidak berusaha "tampil diri" oleh sebab Tambatan tersebut. 

Misal kita sering jaim karena ilmu yang kita punyai, maka ketika ada Pemicu yang membuat kita sombong, semisal mengajar, atau pertanyaan yang ia bisa menjawabnya, maka kita berusaha melemparkannya kepada yang lebih berhak. 

Atau misal kita sering membanggakan harta, maka ketika, ada peluang untuk membanggakan status kita karena harta, maka kondisi tersebut justru kita manfaatkan untuk melakukan perilaku rendah hati. Dan sebagainya.

4. Setelah latihan rendah hati berulang-ulang bisa kita lakukan sampai rendah hati itu terbiasa dan tak terasa berat, tak ada ingin "jaim", atau merasa "hilang diri", serasa seorang budak. Maka berarti kita telah siap untuk terapi kekurangan sifat kita yang lain. Terapinya mirip. Tinggal cari Pemicu sebagai tambatan lalu melakukan perilaku kebaikan yang kita kurang dalam hal tersebut, sampai perilaku tersebut terbiasa. Ketika telah terbiasa, ia otomatis keluar tanpa dipikir. Tanpa rasa lagi. Siapa yang sering bersentuhan dengan suatu hal, akan tak terasa lagi. Terbiasa, tanpa pikir, dan otomatis. Itulah sifat yang telah melekat.

          Nah, setelah kita ketahui betapa beratnya mengobati daripada mencegah, bukankah kita lebih ringan mencegah? 

          Hendaknya kita betul-betul serius dan perhatian untuk membentuk anak-anak kita. Persiapkan seluruh daya upaya, dana dan harta untuk mengajari anak. Cermati betul-betul konteks-konteks lingkungan anak. Konteks orang, benda, dan segala sesuatu yang meliputi anak, kita musti teliti sedetail-detail, serinci-rincinya.

          Kita terkadang lalai, "Alaaa ...anak kecil ini, gampanglah ... ada sekolah ini ..." Jangan sampai terlintas dalam benak suara bisikan seperti itu.

          Desain perilaku anak sejak dini, hanya cuma pasang sini pasang sana. Selesai. 

          Jika tidak kita akan lebih banyak pekerjaan lagi di masa yang akan datang. Renovasi alias pengobatan alias perbaikan membutuhkan upaya yang lebih besar. 

          Perbaikan atau pengobatan pada penyakit kalbu yang timbul pada kita, orang terlanjur dewasa, atau murid-murid dengan perilaku buruk tetap kita lakukan. Tetapi jangan lupa juga perhatian sekecil-kecilnya terhadap anak-anak.

          Terkadang, kita repot mengobati, akibatnya kita kurang perhatian anak di masa kecil, akhirnya yang baru tumbuh kecil kita terlantarkan. Dampaknya kita mengalami hal-hal yang berulang-ulang

         Pengobatan lagi, pengobatan lagi.
 
         Bongkar dulu baru pasang lagi. Terus menerus.

         Namun, ketika kita sambil mengobati yang ada, sehingga semakin banyak yang sembuh, bersamaan itu pula secara simultan kita membentuk dengan perhatian kepada yang baru tumbuh. Sehingga terapi pengobatan semakin berkurang jumlahnya. Jadi kedepannya kita tak terlalu repot mengobati lagi. Tetapi, hanya asyik memupuk yang baru tumbuh di atas kebaikan seterusnya. Insya Allah. 
Mendesain kebiasaan BELAJAR ilmu syar'i dengan MENULISkannya, diretas bersama teman setia kopi di studio sketsarumah.com.
F A Q (Frequently Asked Questions)
Pertanyaan yang sering diajukan

Silahkan chat dengan tim kami Admin akan membalas dalam beberapa menit
Bismillah, Ada yang bisa kami bantu? ...
Mulai chat...