www.izzuka.com
Menjadi Terampil Menulis
hanya dari kebiasaan menulis sederhana, mau? buruan! TAP > Yuk! menulis di sketsarumah.com.

#04 Pembatal Keislaman Ke 4: meyakini petunjuk selain Rasulullah lebih sempurna daripada petunjuk beliau

           Keempat: orang yang meyakini bahwa petunjuk selain Rasulullah - shallallahu 'alaihi wa sallam - lebih sempurna daripada petunjuk beliau, atau hukum selain beliau lebih bagus daripada hukum beliau, seperti orang yang mendahulukan hukum thaghut atas hukum beliau, ia menjadi kafir.

Syarah /Penjelasan

          Asy-Syaikh Muhammad at-Tamimi - rahimahullahu - berkata, "Keempat" yakni pembatal keislaman keempat, 

          "Orang yang meyakini bahwa petunjuk selain Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lebih sempurna daripada petunjuk beliau, atau hukum selain beliau lebih bagus daripada hukum beliau."

          Pernyataan ini mengandung dua pembahasan.

Pembahasan pertama, orang yang meyakini bahwa petunjuk selain Rasulullah - shallallahu 'alaihi wa sallam - lebih sempurna daripada petunjuk beliau.

          Petunjuk Rasulullah - shallallahu 'alaihi wa sallam - adalah agama dan metode yang beliau tempuh dalam:
✓ dakwah ilallah.
✓ pengajaran
✓ dan akhlak.


          Rasulullah - shallallahu 'alaihi wa sallam - adalah manusia yang paling sempurna petunjuknya sebagaimana beliau - shallallahu 'alaihi wa sallam - sabdakan,

"Sesungguhnya perkataan yang paling baik adalah kalam Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad - shallallahu 'alaihi wa sallam." 

Hadits riwayat Muslim (867) dari Jabir bin Abdillah - radhiallahu 'anhu.

          Petunjuk beliau adalah yang paling sempurna dalam bermuamalah dengan orang lain dan orang-orang yang didakwahi. Petunjuk beliau dalam
✓  bergaul dengan manusia adalah bermuamalah dengan mereka dengan muamalah yang paling bagus dan,
mendakwahi mereka dengan cara paling baik.

          Hal ini, sebagaimana difirmankan Allah ta'ala,

"Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." (al-Qalam: 4)

           Dan, Allah ta'ala juga berfirman,

"Disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan tersebut." (Ali Imran: 159)

          Demikianlah akhlaq beliau - shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau mengajari manusia dengan cara yang paling bagus. Beliau tidak menggunakan kekerasan dan kemarahan ketika mengajar.

          Contohnya. 
          Terdapat dalam kisah orang yang masuk masjid lalu buang air kecil di dalamnya. Beliau memerintahkan para sahabat untuk membiarkannya hingga ia selesai buang air kecil. Setelah itu, beliau meminta diambilkan seember air, lalu disiramkan pada bekas kencingnya. Kemudian dia memanggil orang tersebut, dan bersabda,
          "Sesungguhnya masjid dibangun bukan untuk itu (sebagai tempat buang air - pent). Masjid dibangun hanya untuk berzikir kepada Allah ta'ala."

Hadits Riwayat, al-Bukhari no.219 dan Muslim no. 284 - 285 dari hadits Anas bin Malik radhiallahu 'anhu.

          Masih banyak lagi, peristiwa yang menunjukkan bahwa beliau - shallallahu alaihi wa sallam - mengajari manusia dengan cara yang paling bagus dan petunjuk yang paling sempurna.

         Di antara petunjuk beliau  adalah *bersabar terhadap gangguan orang lain dan tidak marah ketika diri beliau - shallallahu 'alaihi wa sallam -  diperlakukan tidak baik.

Beliau bersabar terhadap orang yang berbuat buruk kepada beliau.
✓ Namun, jika perkara yang diharamkan Allah dilanggar, beliau marah karena Allah.

          Beliau tidak pernah marah karena diri beliau, tetapi marah karena Allah. Ini telah pasti dari Rasulullah dalam Sunnah beliau - shallallahu 'alaihi wa sallam.

Hadits Riwayat al-Bukhari no. 6126 dan Muslim no. 2327 dari 'Aisyah - radhiallahu 'anha -, ia berkata, "Rasulullah tidak pernah menuntut balas untuk diri beliau sendiri. Akan tetapi, jika perkara yang diharamkan Allah dilanggar, beliau akan menghukum pelakunya dan membela Allah."

          Suatu ketika, seorang lelaki datang dan meminta supaya Nabi - shallallahu 'alaihi wa sallam - melunasi hutang. Ia berkata dengan keras kepada beliau, sehingga para sahabat ingin menyerangnya. Akan tetapi Nabi - shallallahu 'alaihi wa sallam - bersabda,
          
          "Biarkan dia. Pemilik hak berhak menagih dengan paksa dan memiliki hujah yang kuat."

          Kemudian beliau - shallallahu 'alaihi wa sallam - memerintahkan agar lelaki tersebut diberi yang lebih baik daripada haknya yang ada pada Nabi - shallallahu 'alaihi wa sallam -. Beliau juga memberi tambahan dan bersabda,

          "Orang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik dalam melunasi utang."

Hadits Riwayat al-Bukhari no. 2306 dan Muslim no. 1601 dari hadits Abu Hurairah - radhiallahu 'anhu.

          Demikian pula, petunjuk beliau - shallallahu 'alaihi wa sallam - dalam bermuamalah dengan keluarga. Beliau - shallallahu 'alaihi wa sallam - bermuamalah dengan keluarga dengan cara yang paling bagus. Beliau bersabda,

"Orang terbaik di antar kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluarga."

Hadits Riwayat Ahmad no. 7402 dari Abu Hurairah - radhiallahu 'anhu -, dan at-Tirmidzi no. 3895 dari 'Aisyah radhiallahu 'anha. Hadits dengan redaksi demikian adalah riwayat at-Tirmidzi dan ia menyatakan, "Ini adalah hadits hasan gharib." Hadits ini dinyatakan shahih oleh al-Albani - rahimahullahu.

          Hal ini telah dikenal dari *perjalanan hidup* beliau - shallallahu 'alaihi wa sallam -. Tidak seorangpun mampu menyamai petunjuk Rasulullah - shalallahu 'alaihi wa sallam.

         Lantas bagaimana mungkin ada orang yang lebih baik daripada beliau?

          Barang siapa meyakini ada orang lebih baik daripada Rasulullah - shallallahu 'alaihi wa sallam - dalam hal petunjuk, ia telah kafir dengan kekafiran akbar yang mengeluarkannya dari agama Islam.

Sumber:
Kitab - Nawaqidh al-Islam (Arabic pdf)
Buku terjemahan - Durus fi Syarh Nawaqidh al-Islam Lil Imam al-Mujaddid Syaikhil Islam Muhammad at-Tamimi - Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan - hafizhahullah ta'ala
Mendesain kebiasaan BELAJAR ilmu syar'i dengan MENULISkannya, diretas bersama teman setia kopi di studio sketsarumah.com.
F A Q (Frequently Asked Questions)
Pertanyaan yang sering diajukan

Silahkan chat dengan tim kami Admin akan membalas dalam beberapa menit
Bismillah, Ada yang bisa kami bantu? ...
Mulai chat...