Portal #03 Sekolah
Portal #03 Sekolah
Dikatakan oleh Ibnu Qudamah Al-Maqdisi dalam Mukhtashar Minhajul Qashidin, bahwa ada bersitan-bersitan kebaikan di kalbu manusia, di antaranya ada yang dari ilham para tentara malaikat.Dikatakan pula, oleh Ibnu Qudamah Al-Maqdisi dalam Mukhtashar Minhajul Qashidin, bahwa ada bersitan-bersitan keburukan di kalbu manusia, di antaranya ada yang dari hawa nafsu, terkadang berkolaborasi dengan gerombolan setan.Dan, esok lusa, Malva menyadari bahwa konteks-konteks yang kurang mendukung sesuatu, bisa pula menurunkan semangat pada sesuatu tersebut. Dengan vibes itu, kondisi akan semakin terpuruk ketika ada konteks-konteks yang bertentangan memberi kenyamanan.
***
"Mana nama lengkap dan nomor test masuk ISTN loe, Malv?" Hernan bertanya, sembari menadahkan tangannya ke arah Malva.
Malva yang sedang duduk di kursi tamu rumah Hernan, di atas ketinggian lantai lima suatu gedung apartemen, menyahut, "Éh sebentar gue belum tulis, bagi kertas sama bolpén dong ....," sambil nyengir.
"Yééé, bukannya dari tadi disiapin ... bentar," Hernanpun agak kesal, tapi tidak marah dan bangkit dan menuju ke ruang lain, yaitu kamarnya untuk mengambil kertas dan bolpén. Tak berapa lama ia muncul kembali dengan benda-benda itu, "Nih ..." Hernan menyodorkan kepada Malva.
Rumah Hernan terletak di daerah Senayan seberang Stadion Senayan, di selatan Ibukota. Rumah itu bukan rumah tinggal layaknya di pemukiman umumnya. Namun, suatu apartemen, dan rumah Herman adalah salah satu unit rumah di lantai 5 di dalam apartemen tersebut. Beberapa gedung apartemen ada di area pinggir jalan besar yang termasuk urat nadi Ibukota. Komplek apartemen tersebut khusus untuk para keluarga TNI angkatan laut. Dan, ayah Hernan termasuk dalam korps TNI tersebut.
Malva menulis nama lengkapnya dan nomor tes pendaftaran masuk mahasiswa baru Institut Sains dan Teknologi Nasional - Jakarta, lalu menyerahkannya kepada Hernan.
"Emang loe yakin Nan, kita bisa diterima di Jurusan Arsitektur ISTN?" tanya Malva ragu.
Hernan tersenyum, "Pokoknya beres deeh ...," lalu ia melanjutkan argumennya, "Eyang gue khan orang yayasan di ISTN, dijamin kita diterima di ISTN." sembari Hernan tertawa.
Hernan adalah teman sekelas Malva pada tingkatan kelas 3, waktu sekolah di SMA Negeri 3, Teladan. Sejak itu, Malva sering bersama-sama dengan Hernan, belajar dan melakukan kegiatan apa saja.
Bahkan, ketika Malva gagal masuk di ITB, akhirnya Malva mencoba bersama teman-teman yang lain, termasuk Hernan untuk mengikuti tes pendaftaran masuk mahasiswa Proyek Perintis 3 (PP3), di Universitas Negeri Surakarta Sebelas Maret (UNS Sebelas Maret).
Dan, gagal juga, bahkan sempat bocor soal-soal tesnya yang berbentuk pilihan ganda dan tersebar jawaban-jawabannya.
Hernan sempat lolos, tetapi karena soal-soalnya bocor. Maka pihak panitia PP3 mengadakan tes ulang untuk yang telah lulus. Lalu, Hernan bagaimana? Gagal juga.
Adapun Malva sejak dari tes pertama, ia tak berhasil lolos. Yah, nasib.
Untuk itulah, setelah kegagalan-kegagalan tersebut, Hernan mengajak Malva untuk mendaftar masuk ke Jurusan Arsitektur ISTN, dengan jaminan diterima dengan koneksi Eyangnya Hernan.
Namun, yang membuat Malva kurang semangat, Jurusan Arsitektur ISTN itu jurusan baru yang baru ada untuk pertamakalinya di ISTN. Dan, di Departemen Pendidikan Negara Indonesia masih dengan status "Terdaftar". Jelas saja, karena jurusan baru, tentu belum ada lulusan insinyur berkualitas dari jurusan tersebut alias ga jelas.
Kemudian, ketika mendaftarkan diri ke sekolah tersebut bersama Hernan, jika diterima Malva telah melihat kegiatan belajar kuliahnya di gedung SMA Perguruan Cikini, yang terletak di jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat. Bahkan bergabung dengan tingkat sekolah yang lain, TK, SD, dan SMP. Hanya saja waktu kuliah dari sore sampai malam, bergantian dengan yang di tingkat lain, sekolah di pagi hari.
Jurusan Arsitektur ISTN memang di bawah Yayasan Perguruan Cikini (Percik), tetapi belum atau tepatnya tidak mempunyai ruang kuliah dan gedung tersendiri.
Dan, krusialnya Malva dan Hernan berarti termasuk angkatan pertama Jurusan Arsitektur ISTN. Hebohnya, nanti bisa masuk dalam sejarah sekolah tersebut, Malva tersenyum dalam hati untuk menghibur dirinya.
Sekolah ISTN ini di bawah bayang-bayang sosok tokoh yang bernama Bapak Prof. Dr. (H.C.) Ir. Roosseno Soerjohadikoesoemo - rahimahullah. Di masa itu, ia adalah Rektornya. Pak Rooseno dijuluki Bapak Beton Indonesia, karena jasa-jasa beliau untuk negeri Indonesia di bidang konstruksi dan teknologi beton.
Duh, kok jadi ngelantur, tak apa ... mengingat itu sekaligus hiburan untuk aku. Sekalipun jurusan Arsitektur ISTN masih bayi dan tak jelas masa depannya, setidaknya "jasmerah" - jangan melupakan sejarah - ISTN beserta kualitas dan prestasinya di bidang teknologi beton membuat Malva agak PD untuk sekolah di situ.
Hanya nama besar - sang Bapak Beton - yang menahan langkah Malva untuk tidak benar-benar pergi dari kampus yang lebih mirip sekolah dasar ini.
Apalah boleh buat, ITB dan UNS tak tergapai, ISTN tak apalah, daripada nganggur tidak sekolah.
Hari pertama kuliah, diisi oleh dosen senior, seorang arsitek piawai. Ia siap dengan kapur tulis sarana mengajar anak Sekolah Dasar Perguruan Cikini. Malva menatap papan tulis hitam bersemu putih bekas luruhan kapur tulis di kelas SD tersebut dengan lutut yang mentok ke meja kayu. Punggung membungkuk paksa.
Inikah puncak dari mimpi Arsitektur itu? Kuliah (baca: belajar) di sisa-sisa kursi kayu bocil-bocil SD saat malam tiba?
Bayangkan 160 an mahasiswa dalam satu kelas, di kelas SD. Dinding yang bersebelahan dengan selasar kelas, hanya setinggi leher, tinggi selebihnya terbuka lebar tanpa dinding. Malva jadi ingat waktu sekolah SD di kota Bengkulu, sama persis suasana kelasnya, hanya ini sekolah di waktu sore sampai malam hari.
Kami sedang mencoba membangun masa depan, tetapi ruangannya sendiri mencekik kami?
Ketika jeda istirahat waktu kuliah, para mahasiswa Arsitektur nongkrong di tempat duduk halaman sekolah, pas bersisian di sepanjang pagar halaman, menghadap jalan Cikini Raya. Sambil kulineran siomay yang lewat dan minum teh botol, dan ngobrol ngalor ngidul.
Para mahasiswa, termasuk Malva, merasa lebih nyaman nongkrong di tempat duduk bersisian sepanjang pagar halaman, sambil menonton kendaraan-kendaraan yang lalu lalang, yang macet di jalan Cikini Raya, setiap sore pada jam pulang kerja kantor. Daripada kuliah dengan suasana vibes sekolah dasar.
Malva dan beberapa mahasiswa, termasuk Hernan semakin sering tak nampak di kelas SD kuliah, dan lebih banyak nongkrongnya. Apalagi di pinggir jalanan Cikini Raya banyak kulineran lainnya, ketika menjelang malam seperti roti bakar dan pisang bakar, nasi rawon, dan sebagainya. Akibatnya para mahasiswa Arsitektur seringnya hanya titip absen kuliah kepada teman-teman yang masuk mengikuti kuliah.
Beberapa tahun kemudian, jurusan Arsitektur ISTN pindah ke Kampus ISTN di Srengseng Sawah, Jakarta. Patut disyukuri, bahwa jurusan Arsitektur memiliki gedung baru beserta ruangan-ruangan kuliahnya. Tersulutlah gairah baru Malva untuk kuliah di gedung baru.
Hari-hari berikutnya, ternyata hanya beda tipis.
Bedanya, Malva dahulu berangkat kuliah dari rumah yang berada di pusat Ibukota, daerah Johar Baru ke gedung Percik di jalan Cikin Raya berkendaraan mobil. Namun kini Malva berangkat kuliah dari suatu rumah sewa yang disewanya bersama 2 teman kuliahnya, dengan berjalan kaki, atau bersepeda.
Ruang-ruang kuliah kosong dari dosen-dosen, akhirnya Malva dan teman-temannya banyak nongkrong dan ngobrol seakan kuliah adalah hanya fatamorgana. Entah kenapa, mungkin juga karena jurusan Arsitektur ISTN statusnya masih - terdaftar - tertutup mendung ketidakjelasan.
Ada juga dosen-dosen senior dari Universitas Indonesia, datangnya paling satu bulan sekali. Kondisi-kondisi tersebut membuat Malva semakin terpuruk motivasi kuliahnya.
Ketika SMA, Malva pernah bertanya kepada bapaknya, "Pak nanti kuliah itu gimana sih? Apa kayak sekolah di SMA gini?"
"Kuliah itu gak kayak SMA, kalau di SMA kamu gak hadir akan ditanya sama sekolahan, 'Mengapa kamu tidak masuk sekolah' dan kamu mesti punya alasan, jika tidak dan berulang kali kamu bisa dihukum ...," bapak ambil nafas sejenak lalu, "Tapi kalau kuliah, kamu masuk silahkan, tidak ya enggak ditanya, pokoke nanti keluar nilai sesuai mata kuliah yang kamu hadir, jika kebijakan dosen bersangkutan memasukan nilai kehadiran, nanti digabung nilai ujian kamu ..."
Sampai pada satu malam, yang malam itu awalnya biasa saja. Namun ternyata, itu adalah malam yang Malva tak akan pernah melupakannya di sepanjang hidup.
Malam semakin menenggelamkan seluruh isi kampung Srengseng Sawah. Temaram lampu masih menyala di salah satu rumah kos kontrakan, yaitu tempat kosannya Malva. Rumah itu tak jauh dari kampus ISTN, yang ditinggali 3 mahasiswa, termasuk Malva.
Malva mengerjapkan penglihatannya yang semakin tipis. Sesuatu yang berat telah merasuk ke kelopak matanya, seakan ada timba berisi air tergantung di situ. Dan, menjalar perlahan tapi pasti, mulai dari kepalanya terus berlanjut ke sekujur tubuhnya. Malva sedang tidak benar-benar jernih.
Dinding ruangan seolah bernafas, maju mundur mengikuti denyut pelipis Malva. Ia tak tahu ini kantuk atau halusinasi. Srengseng Sawah begitu asing baginya. Suara jangkrik terdengar seperti detak jam raksasa. Tubuhnya terasa sangat berat, seolah gravitasi menjadi magnet kuat menarik Malva masuk ke dalam lantai rumah sewa kos-kosan ini.
Malva masih bisa berfikir betapa beruntungnya ia. Semua telah ia dapatkan. Pergaulan yang luas, teman yang banyak, pengetahuan akan segala hal. Malva adalah seorang anak muda yang tidak pernah ketinggalan zaman dan selalu mengikuti trend. Malva, sampai saat ini sejatinya, adalah seorang mahasiswa yang lumayan cerdas pada angkatannya, tapi sayangnya ia tak selalu tampak di ruang kuliah. Dia disukai oleh teman-temannya, karena ia terkenal pandai bergaul. Ia juga tidak miskin. Malva diberi mobil khusus oleh orang tuanya untuk kuliah dan kegiatan sehari-hari.
Malva tidak tahu pukul berapa sekarang. Jangankan menengok ke arah jam yang terletak di atas meja, melirikpun ia malas, karena ketidakberdayaan fisik telah betul-betul menawannya. Malva melihat teman-temannya sudah terkapar dalam tidurnya. Entah mereka sudah sampai di galaksi mana.
Kini, hanya tertinggal Malva sendiri yang masih terjaga di alam nyata. Pikirannya menerawang entah kemana, maka ia ikuti saja arus pikirannya itu. Ia lumpuh di dalam pikirannya sendiri.
Dan, sebuah guncangan hebat menghantam dinding kesadaran Malva.
Antara sadar dan tidak sadar, entah mimpi atau bukan, imajinasi Malva terbang melayang, lamat-lamat Malva seolah mendengar seperti suaranya sendiri, “Éh, Malv lagi ngapain sih?”.
Malva merasa seolah itu suara bukan dari hatinya, entah darimana. Suara itu tidak keras, tetapi cukup membuatnya terbangun dari sesuatu yang tidak ia sadari.
Suara itu lirih, tapi begitu menghentak sehingga Malva terkejut. Suara itu lembut tapi sungguh telah menyentaknya. Ia merasa kata-kata suara itu berkonotasi bahwa ia telah melakukan hal yang sia-sia belaka. Suara itu seakan-akan memergokinya. Suara itu seakan suara yang telah lama ia kenal belasan tahun yang lalu. Sekarang ia berjumpa lagi dengan Malva seperti perjumpaan antara dua sahabat lama yang kental.
“Kamu tanya aku?” hati Malva berbalik bertanya setengah kurang percaya bahwa suara itu tertuju kepadanya.
“Iya, kepada siapa lagi?” jawab suara itu meyakinkan diri Malva.
“Aku lagi ngantuk, emang kenapa?” jawab Malva agak ketakutan.
“Aku datang menagih janji,” suara itu mengubah arah pembicaraan. Agaknya inilah maksud dia yang sebenarnya mengapa datang kepada Malva. Jantung Malva seperti berhenti sesaat. Janji?
“Janji apa?” tanya hati Malva terheran-heran. Agaknya ia tak pernah berjanji apa-apa kepada suara itu. Tetapi Malva berusaha mencoba mengingat-ingat kembali. Malva hanya ingat bahwa ia pernah bertemu dengan suara itu tadi, entah berapa tahun yang lalu dan dimana.
“Bukankah kamu pernah berjanji padaku bahwa, kamu ingin menjadi dirimu yang sebenarnya?” suara itu menegaskan dan mengingatkan kepada Malva.
“Apa benar aku janji seperti itu? Dimana? Kapan?” hati Malva balas bertanya.
Sekonyong-konyong, ada aroma anak kecil dan debu jalanan Nusa Indah yang menyeruak ke hidung Malva. Terlihat jelas di bola matanya, sarung Ardea, mobil-mobilan truk dan penjara pagar bambu itu. Dan, suara tercekat seperti duri ikan tersangkut di kerongkongan. Lalu, suara itu kini malah mampu menggelegar, menagih hutang lama.
“13 tahun yang lalu, ketika kamu masih kelas 4 SD, di Bumi Rafflesia, komplek Nusa Indah, kilometer tiga setengah, hari Jum’at, pukul 12 siang. Ketika itu kamu sedang bermain di halaman rumahmu setelah pulang sekolah. Kamu melihat temanmu yang tinggal di rumah bersebelahan dengan rumahmu sedang berjalan memakai sarung. Dia lewat di depan rumahmu. Lalu kamu bertanya kepadanya, ‘Eh, endak kemano? ‘Diapun menjawab singkat, ‘Sholat Jum’at.’Aku ada disana waktu itu, kemudian akupun bertanya kepadamu, ‘Mengapa kamu tidak pergi sholat Jum’at juga? khan kamu orang Islam?’‘Mana aku tahu …,’ jawab hatimu merasa terpojok.‘Sekarang aku beritahu supaya kamu tahu, bahwa orang Islam harus sholat.’‘Oo… begitu ya, mengapa aku tidak tahu ya?‘ jawab hatimu lagi makin heran.‘Iya memang kamu tidak tahu, karena kamu dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan keluarga abangan. Bahkan sebagian saudara-saudara ibu dan ayahmu beragama Kristen. Ada juga yang beragama Kejawen, sehingga wajar kalau kamu sampai umur 9 tahun ini tidak tahu menahu tentang Islam.‘‘Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Kemana tempat aku bertanya tentang agamaku sedangkan sekelilingku abangan semuanya,’ tanya hatimu seraya meminta nasehat.‘Lakukan apa yang sanggup kamu lakukan.’‘Tidak bisa!’ bantah hatimu keras.‘Kenapa tidak bisa?’‘Maksudku, untuk sekarang tidak mungkin, aku bingung dengan kondisi keluargaku, dan aku tidak mau cukup sampai pada apa-apa yang mampu aku lakukan. Tetapi aku berjanji pada suatu saat nanti, kalau Allah memberi kesempatan dan kekuatan padaku, aku akan mencari apa-apa yang harus aku ketahui. Aku takut kalau aku nanti mati, aku enggak tahu jalan buat ketemu Allah, karena aku enggak tahu cara shalat.’ Janji hatimu dengan berapi-api.
"Masih ingatkah kamu dengan kata hatimu yang dulu kamu telah ikrarkan kepadaku? Apakah kamu sudah lupa dengan itu semua?” suara itu bicara terus tanpa memberi kesempatan kepada hati Malva untuk membantah, bahkan bertanya sekalipun.
Lambat laun Malva mulai ingat kejadian itu. Ingatannya makin lama makin terang benderang. Bagaikan kabut pagi hari yang mulai menipis berganti dengan terang surya. Kejadian itu seolah-olah video dokumenter yang telah lama disimpan dalam lemari besi pengaman, dan sekarang sedang diputar ulang. Jelas sekali. Kejadian itu memang telah tergores begitu tajam di sanubarinya. Sehingga begitu tersingkap, seakan-akan terlihat jelas sekali di depan mata.
“Eh, kok ngelamun? Bagaimana? Mau bayar janjimu apa tidak?” tagih suara itu menghentikan perjalanan jiwa Malva ke masa lalu.
“Eeemm…, bagaimana ya?”
“Lho kok bagaimana? Kapan lagi? Aku sudah menunggu terlalu lama,” desak suara itu lagi.
“Tapi sepertinya aku belum siap. Mengapa kamu datang begitu tiba-tiba? Mengapa kamu tidak memberi tahu kepadaku jauh-jauh hari sebelumnya?” hati Malva berkilah seperti orang berhutang menghindar dari wajibnya membayar hutang.
“Ingatlah, kematian juga akan datang tiba-tiba,” ancam suara itu.
Aku tak tahu mengapa, tetapi kalimat itu membuat dadaku runtuh seketika.
Tiba-tiba di belakang Malva ada suara lain, “Jangan hiraukan dia Malv …,” suara yang lebih lembut merayu menghanyutkan, manis dan enak didengar, seperti suara penyiar radio sembari makan permen.
Malva terkejut setengah mati. Ia berpaling ke belakang. Malva tidak melihat siapa-siapa kecuali dirinya sendiri yang masih terjaga dan teman-temanku yang telah terlelap. Suara menawan hati Malva.
“Malv, jangan dengarkan dia. Kalau kamu ikuti dia kamu mungkin di dunia ini akan hidup enak, tetapi setelah mati kamu akan celaka. Tapi kalau kamu ikuti aku, walaupun di dunia hidupmu sengsara, tapi nanti di akhirat sudah jelas dan pasti kamu akan bahagia selama-lamanya,” suara berhenti sejenak, lalu, “Dan lagi di dunia ini kamu khan belum tahu hidupmu enak atau tidak. Yang pasti pasti aja deh!” lanjut suara yang pertama mengajak Malva seraya menasehatinya.
Sunyi menyusupi malam, tetapi kepala dan hati Malva tidak.
“Malva kita khan sahabat. Apa kamu tega mengkhianati persahabatan yang sudah kita pupuk begitu lama. Kalau kamu terus bersamaku niscaya kamu akan enak terus. Soal kabar-kabar setelah mati belum tentu benar. Kamu masih muda dan gagah, mobil ada, teman banyak, hidupmu masih panjang. Kalau mau yang pasti pasti aja, ya… ini lihat saja yang di hadapanmu. Nggak usah jauh-jauh mikirnya, …” tambah suara merdu merayu berusaha lanjut melambungkan keraguan kepada Malva.
Kesadaran Malva masih belum hilang.
“Tidak! sekarang aku tidak mau kalah lagi dengannya! Sekaranglah saatnya aku merebut yang dari awal sebenarnya milikku,” kata suara yang pertama mulai mengarah teguh dan kokoh.
Ruangan dan benda-benda mulai blur di mata Malva.
“Malva, kamu tidak akan mau!” suara yang lembut, terus menebar persuasi kepada Malva.
“Malva ayooo, kembalilah …”
“Malv!…”
“…”
“…”
Malam semakin larut. Gravitasi semakin menguasai Malva. Kelopak matanya semakin berat mengatup. Kesadaran Malva kian lenyap.
Sebelum kesadaran Malva hilang sama sekali, kata-kata masih tertinggal di gendang telinga Malva, “Malva … kembali … kepadaku …,” sayup-sayup Malva mendengar suara yang pertama di antara saling pengaruh dengan suara yang menawan.
Setelah itu Malva tak bisa mendengar kelanjutannya lagi.
***
Pagi yang cerah. Malva baru saja bangun dari tidurnya, dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Ia melihat teman-temannya sudah bangun pula. Tak ada yang berubah, tetapi entah mengapa, Malva tidak lagi merasa berada di tempat yang sama.
Malva mengamati satu persatu, teman-teman satu rumah kontrakan kosnya. Mereka rata-rata bukan teman-teman yang baik. Ada yang tidak sholat, kalaupun ada yang sholat, sholatnya "bolong-bolong". Bahkan mereka ada yang kerjanya mabuk-mabukan, main judi dengan modal uang kuliah dari orang tuanya.
Suara yang pertama datang itu masih ada, tetapi berbisik sesuatu. Dan, membuat Malva tak bisa tinggal lagi di rumah kos ini.
Hati Malva selalu menolak itu semua, karena senantiasa dibayang-bayangi peristiwa tak terlupakan belasan tahun yang lalu, menggores tajam di kalbunya, tentang "shalat Jum'at" teman tetangganya, Ardea ketika ia berusia kelas 4 SD.
Malva memanggil Rino, salah satu teman kosnya di rumah itu.
"Rin, …” Malva menguatkan hati, menatap Rino, lalu membuang bola matanya, “gué … mau pindah kos," terbata tak tega melontarkannya.
***






Gabung dalam percakapan