Portal #07 Lolos, lalu Lulus
Portal #07 Lolos, lalu Lulus
Sesampainya di tempat kos, Malva melempar tubuhnya ke atas kasur. Ia menatap langit-langit kamar yang temaram dengan dada yang mendadak terasa sesak.
Apa betul seperti itu? Berarti keluargaku - Ibu, Bapak, Kakak-kakak - semuanya kafir? Teman-teman kuliahku juga?
Ada rasa ngilu yang asing yang pelan-pelan menyelinap ke hatinya. Kepala Malva mendadak pening, seolah isi kepalanya baru saja diperas habis-habisan dalam training tiga hari kemarin.
Menghela napas panjang, ia memejamkan mata. "Tidur dulu aja," bisiknya pada kesunyian kamar. Ia terlalu lelah untuk hatinya terobang-ambing malam ini.
Hari-hari berikutnya berjalan dalam ritme yang biasa. Malva tetap kuliah, berlatih pencak silat, dan pulang-pergi bersama Rino. Di tempat latihan, ia kerap bersitatap dengan Amran dan Husen. Senyum mereka masih sehangat biasa, membuat Malva pelan-pelan menepis kegelisahannya dan tetap menghadiri kajian kecil di rumah Amran.
Namun, di setiap kesempatan, Malva senantiasa menyelipkan sebuah doa yang lirih. Ia meminta agar Allah menuntun hatinya yang sederhana. Ia tidak punya ambisi muluk-muluk; ia hanya seorang hamba yang takut Neraka dan rindu Surga. Malva yakin, Allah tidak akan membiarkan hamba yang tulus mencari-Nya tersesat dalam gelap.
Suatu sore di sudut ruang kajian Amran, suasana yang semula santai mendadak berubah agak kaku. Amran berdeham kecil, menatap Malva dengan tatapan sungkan. “Malv, boleh gak kami pinjam mobilmu? Untuk acara training intensif yang lebih tinggi lagi.”
Malva di suatu kesempatan terkadang mengendarai mobil jip four wheel drive tua keluaran Jepang pemberian bapaknya untuk keperluan kuliah. Dan kini mobil itu sedang terparkir di depan rumah Amran. “Boleh aja, Bang. Tapi ini bensinnya boros lho,” sahut Malva polos.
“Iya, gak apa-apa… kan ada anggarannya dari panitia,” jelas Amran, ada senyum yang dipaksakan di wajahnya.
“Oh gitu, ya udah, tafadhdhal…,” sahut Malva, lidahnya mulai terbiasa dengan kosakata baru itu.
Amran tersenyum, tapi sepasang matanya menyiratkan keraguan. Ia meremas jemarinya sendiri sebelum akhirnya berkata, “Tapi… antum tidak usah ikut ya. Kami cuma pinjam mobilmu. Lagi pula training intensif ini untuk tingkatan atau marhalah yang lebih tinggi darimu. Jadi, kamu belum boleh ikut…”
Kalimat itu menyengat kecil di dada Malva. Keningnya berkerut. Ngaji kok pakai kasta-kastaan? Bayangan dikarantina tiga hari kemarin mendadak lewat di pikirannya. Ada rasa tidak nyaman yang mulai mengendap, namun Malva buru-buru menunduk, memaksa hatinya untuk kembali berprasangka baik.
Malangnya, pertanyaan-pertanyaan itu tidak mau pergi. Mereka justru menjelma menjadi gema yang bising di kepala Malva setiap kali ia menyendiri. Alih-alih merasa tenang, Malva justru merasa semakin asing dalam sirkelnya sendiri. Segalanya terasa serba eksklusif dan tertutup.
Saat menatap Rino, ada rasa kesepian yang menyergap; sahabatnya itu bahkan belum ikut training tingkat dasar, jadi mustahil bisa diajak berbagi beban ini.
Keraguan di dalam dada Malva kian hari kian menggelembung tegang dan membesar, tinggal menunggu waktu sergapan satu jarum kecil untuk meletuskannya.
Dan jarum itu mendadak datang pada kajian berikutnya di rumah Amran.
“Bang, kita menetapkan bahwa selain kelompok kita itu musyrik atau kafir, begitu bukan?” Malva memutus kalimatnya. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh sisa keberanian di rongga dadanya.
Amran terkesiap, pandangannya terkunci pada Malva. Menunggu. Sepantasanya ada kalimat lanjutan Malva. Pertanyaan Malva adalah retoris, tak butuh jawaban.
“Bukankah mereka yang di luar sana belum tahu materi yang selama ini kita kaji, Bang?” lanjut Malva, suaranya sedikit bergetar namun tegas.
“Setahuku, seseorang baru dituduh bersalah kalau aturannya sudah disampaikan dan dia sengaja melanggar. Ini … mereka belum kita beri tahu materinya, kok langsung kita vonis kafir?” Malva bertanya dengan logika fitrahnya yang paling murni. Sederhana, tapi telak.
Kata-kata Malva seperti batu besar yang menyumpal mulut Amran. Entah apa yang membuatnya demikian.
Ruangan itu seketika beku. Amran bergeming selama beberapa detik yang terasa sangat panjang. Senyum ramah yang biasa ia pasang mendadak runtuh, menyisakan raut kebingungan yang gagal ia sembunyikan.
Malva dan Rino menahan napas, menunggu jawaban dalam sarat ketegangan yang pekat.
Amran akhirnya menghela napas, menjawab dengan kalimat yang disusun teramat hati-hati. “Untuk menjawab pertanyaan antum, bukan hak ana. Insya Allah akan dijawab pemateri lain yang lebih tinggi tingkatannya dari ana …”
Batin Malva menjerit kecut. Lagi-lagi tingkatan! Ada rasa lelah yang amat sangat merayapi hatinya. Mengapa jalan menuju kebenaran harus sewajah labirin yang gelap? Jika semua hal disembunyikan, bukankah mereka tak ubahnya segerombolan orang buta yang saling menuntun?
Baiklah, kita tunggu saja si pemateri yang lebih tinggi, katanya.
Hari pertemuan dengan Sang Pemateri Tingkat Tinggi itu akhirnya tiba.
Malva datang sendirian ke rumah Amran, tanpa Rino. Di sepanjang jalan, dadanya bergemuruh hebat, debar jantungnya berpacu seperti timer bom waktu yang siap meledak. Di kepalanya, ia sudah membayangkan sosok pria berwajah garang, sangar, dan mengintimidasi. Malva lebih dahulu tiba di rumah Amran. Menunggu.
Namun, saat pintu ruangan kajian yang sempit itu terbuka, kenyataan justru menamparnya. Pria di hadapannya bertubuh kurus, berkulit cerah, dengan dagu klimis tanpa sehelai janggut pun. Pakaiannya teramat rapi - kemeja berkerah lengan pendek dengan corak kasual yang necis.
Malva terpaku sesaat.
Sosok di depannya lebih mirip pegawai kantoran daripada ideolog pergerakan bawah tanah.
Apakah penampilan ini bagian dari kamuflase agar luput dari radar intel negara? Malva tidak tahu.
Di ruang kecil itu, akhirnya mereka duduk bersila saling berhadapan di atas tikar lusuh, Amran ikut hadir di samping mereka berdua.
Malva kembali mengulang pertanyaannya, sama dengan yang ditanyakan kepada Amran yang lalu. Begitu kalimat terakhirnya selesai, keheningan langsung menyergap ruangan. Begitu sunyi, hingga suara tarikan napas Amran yang duduk di sudut pun terdengar jelas. Detak jam dinding di ruangan itu mendadak terdengar berdentang keras, berkejaran dengan detak jantung Malva yang kian berisik. Sang pemateri tidak pernah menyebutkan nama aslinya - sebuah pola aman yang belakangan disadari Malva sebagai taktik menghindari aparat.
Pria necis itu kemudian membuka Al-Qur’an dan Terjemahan kecil terbitan Departemen Agama. Saat melihat mushaf bersampul biru itu, dada Malva berdenyut pedih. Ia teringat mushaf serupa di kosannya - hadiah manis dari sang kakak yang kini tentunya dianggap kafir oleh kelompok ini.
Sang Pemateri mulai berbicara, namun isinya hanya pengulangan dari apa yang sudah Amran katakan berulang kali. Tak ada yang baru. Rasa bosan dan kecewa pelan-pelan menyeruak menggantikan rasa takut Malva. Bola matanya bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri, gestur hatinya mulai muak karena merasa dipermainkan oleh dogma yang itu-itu saja.
Gelagat jemu Malva ternyata terbaca oleh Sang Pemateri Tingkat Tinggi.
“Braaakk!!!”
Sebuah hantaman keras di lantai mengejutkan ruangan. Malva tersentak setengah mati. Hah! Ada apa? Jantungnya seakan melompat keluar begitu saja.
Barang yang terlempar dan tergeletak, bagaikan jatuh dari langit itu ternyata Al-Qur’an dan Terjemahannya. Lho kok bisa!
Kebosanan Malva kontan menguap seketika, digantikan oleh rasa ngeri yang dingin.
Sang Pemateri telah membanting kitab itu, serentak wajahnya memerah. Darahnya menggelegak mendidih meluap dari kawah jantungnya menyembur melintasi pembuluh-pembuluh darahnya naik ke kepalanya, mengakibatkan durjanya sewarna dengan darahnya.
Kata-kata kasar bernada teologis meluncur tak terkontrol dari mulutnya, dipicu oleh gestur Malva yang dianggap meremehkannya. Kebosanan Malva telah sampai pada ujung puncaknya.
Malva buru-buru memperbaiki posisi duduknya. Mata Malva membelalak, menatap lurus pria di hadapannya. Namun, setelah detik itu, telinga Malva mendadak tuli. Kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Sang Pemateri hanya terdengar sebagai dengung tanpa arti.
Pandangan Malva terkunci pada Kitab Suci yang tergeletak di lantai. Hatinya syok dan terguncang hebat, menyisakan rasa perih yang teramat dalam. Bagaimana mungkin orang-orang yang mengklaim diri paling mencintai Al-Qur'an tega membanting kalimat Allah hanya demi ego yang tersenggol?
Detik itu pula, gelembung keraguan Malva pecah menjadi sebuah kepastian yang bulat: Tempat ini salah. Pikiran Malva carut-marut. Yang ia inginkan saat ini hanyalah segera lari dan keluar dari ruangan yang mendadak terasa mencekik itu.
Dalam perjalanan pulang, angin sore pelan-pelan mendinginkan kepalanya. Logika fitrahnya kembali bekerja dengan jernih. Peristiwa bantingan Al-Qur'an itu mungkin adalah jawaban dari Allah atas doa-doanya. Menuduh seluruh umat di luar sirkel mereka sebagai kafir, namun memperlakukan kitab suci dengan emosi purba ... bahkan dilakukan oleh yang katanya tingkatannya lebih tinggi.
Apakah demikian hasil tarbiyah mereka di tingkat yang katanya lebih tinggi?
Seisi dada Malva menolak keras anomali itu.
Beberapa hari kemudian, hari ngaji yang biasa telah tiba.
Rino sudah rapi dan menghampiri Malva yang masih duduk termenung di ruang tamu kontrakan mereka. Rumah kontrakan milik emak-emak Betawi yang mereka sewa bertiga dengan kawan satu lagi, demi menghemat biaya.
"Malv, loe udah siap berangkat ngaji ke rumah Amran? Ini udah jam segini…," Rino menatap Malva dengan isyarat bola mata bertanya.
Malva bergeming, matanya menatap lantai dengan tatapan kosong.
“Kok loe santai banget, kagak siap-siap, Malv?” Rino mempertegas pertanyaannya.
Ada jeda yang berat sebelum Malva berani menatap mata sahabatnya. Ia menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan. “Rin, kita gak usah ngaji lagi ke rumah Amran…”
Rino tertegun. Detik berikutnya, sorot matanya berubah maklum. “Lho emang kenapa? Oh, aku tahu … ini ada hubungannya dengan pertanyaan loe sama Amran kemarin-kemarin itu ya?”
Malva mengangguk perlahan. Ada rasa lega yang luar biasa saat kalimat itu akhirnya keluar. “Iya. Gue kemarin dihadapkan sama pemateri yang katanya lebih tinggi tingkatannya, Rin.”
Malva jeda sejenak, menelan ludah, “Masa dia marah-marah sampai membanting Al-Qur’an di hadapanku? Cuma gara-gara gue kelihatan bosan karena penjelasannya muter-muter di situ aja.”
Suara Malva mulai meninggi, didorong oleh sisa rasa syok yang berubah menjadi ketegasan. “Begitu tahu dia berani membanting Al-Qur’an yang mulia itu, gue langsung mati rasa, Rin. Bukannya tambah yakin, gue malah makin yakin kalau ini salah. Pengajian kayak gini … bener gak sih? Jangan-jangan ini jaringan teroris gerakan bawah tanah.”
Ruang tamu kontrakan itu mendadak hening. Rino terdiam, meresapi setiap kata yang keluar dari mulut Malva. Tidak ada penolakan di garis wajahnya, yang ada hanyalah helaan napas panjang yang ikut meluruhkan ketegangan di antara mereka.
“Ya udah kalau begitu,” kata Rino akhirnya, senyum tipis terukir di wajahnya. “Mungkin ini jalan yang Allah tunjukkan buat kita menuju kebaikan. Toh banyak pengajian lain yang bisa kita ikuti, yang gak ekstrem kayak gini.”
Namun, Rino ingat ucapan Amran, "Tapi kalau kita gak ngaji lagi ke mereka, kata Amran pernah bilang yang kayak gitu dianggap murtad, keluar dari Islam, inget gak loe Malv ...?"
Malva berpikir sejenak, lalu setengah membantah, "Itu khan kata mereka, kita juga belum tahu yang benar sebetulnya gimana ... eemm, " beberapa detik Malva berpikir lagi, dan melanjutkan ucapannya, "kita harus cari pandangan pembanding dari tempat pengajian lain, dan cara pengajian Amran yang sembunyi-sembunyi itu juga membuat kita was-was tentang kebenarannya." Malva mengakhiri bantahannya.
Rino pun semakin yakin untuk meninggalkan pengajian Amran, "Iya, ya ..."
Malam itu, mereka berdua resmi lolos dari lembaran gelap tersebut dengan perasaan langgas.
Hari Ahad berikutnya, Malva pulang ke rumah orang tuanya di bilangan Johar Baru, di pusat Ibukota. Hari libur yang tenang, sampai sebuah suara bariton yang teramat familier memanggil namanya dari arah lantai bawah.
"Malv, kowé ke sini sebentar..."
"Dalem, Pak…," jawab Malva setengah berlari turun dari kamarnya.
Di ruang keluarga, sang Bapak sedang duduk di kursi goyang kesayangannya. Gerakan kursi itu melambat saat Malva mendekat.
"Lunggu-o…," tangan Bapak menunjuk kursi sofa di depannya.
Malva duduk dengan takzim, ada debar halus di dadanya melihat gurat-gurat lelah yang kian tegas di wajah bapaknya.
Bapak menatap Malva lurus-lurus. "Bapak sebentar lagi pensiun. Kamu kuliahnya masih berapa lama lagi untuk selesai dan lulus?"
Bapak menghela napas, sebuah gestur yang membuat dada Malva mendadak ngilu. "Bapak khawatir, kalau sudah pensiun nanti, enggak bisa membiayai sekolahmu lagi."
Kalimat itu ibarat lampu kuning yang berkedip darurat di kepala Malva. Menampar kesadarannya yang sempat melayang ke mana-mana. Kuliahnya sudah berjalan lima tahun dan belum juga usai. Ada rasa bersalah yang mengalir deras di nadinya - mengingat masa-masa kuliahnya yang berantakan karena salah sirkel pertemanan dulu, ditambah carut-marut birokrasi kampus saat status jurusan Arsitektur ISTN beralih dari "Terdaftar" menjadi "Diakui" yang menghanguskan beberapa mata kuliahnya. Sedangkan para mahasiswa sudah mengikuti kuliahnya dan ujian. Ini membuat waktu kuliah tidak efisien.
Melihat rambut bapaknya yang kian memutih, hati Malva berbisik perih, Bapak belum tahu kalau aku sudah pindah kos demi memperbaiki diri. Malva menunduk dalam, lalu menatap bapaknya dengan sepasang mata yang kini dipenuhi tekad baru. Mungkin inilah saatnya. Memperbaiki bagian dalam hatiku, dan membereskan bagian luar kuliahku.
"Iya, Pak…," jawab Malva lirih, ada nada berjanji dalam suaranya. "Insya Allah … semoga segera selesai. Mohon doanya, Pak."
"Yo wis, Bapak cuma mau memberitahu itu saja," sahut Bapak, garis ketegangan di wajah tua itu perlahan mengendur, menyisakan senyum lega yang sangat mahal bagi Malva.
Sejak hari itu, hidup Malva berubah total. Perubahannya bukan lagi sekadar retorika, melainkan menjelma menjadi peluh dan kerja keras di atas meja gambar. Keinginannya yang jujur untuk menjadi pribadi yang baik di hadapan Allah ia buktikan lewat integritas di ruang kuliah. Apalagi ia telah pindah kos, ia bisa lebih mandiri dalam menentukan kegiatan harian tanpa dipengaruhi teman-teman yang lama. Jika dahulu ia kerap terseret arus menyontek bersama teman-teman lamanya, kini Malva memilih berteman dengan sunyi dan belajar sungguh-sungguh.
Perubahan itu begitu radikal hingga membuat teman-teman sekelasnya terbelalak saat pengumuman nilai tengah semester keluar.
"Gila loe, Malv ... kok sekarang nilai loe keren-keren sih?" tanya salah satu temannya tak percaya.
"Dia udah sadar sekarang, dulu pingsan ... he-he-he," seloroh yang lain disambut tawa yang riuh.
Mata Malva sendiri berkaca-kaca menatap lembar hasilnya. Malva terheran-heran dengan dirinya, ketika menerima hasil mid test ataupun ujian akhir semerter, “B? …,” dan yang ini lebih terkejut lagi, “A!…,” mengapa aku sangat mudah memahami mata-mata kuliah arsitektur? Sesuatu yang dahulu mustahil ia gapai karena standarnya selalu "yang penting C dan lulus".
Ada rasa haru yang membuncah di dadanya.
Ia baru teringat hasil tes psikologinya di Universitas Indonesia selepas SMA dulu, yang menyatakan bahwa potensinya memang ada di dunia arsitektur dan seni rupa. Pantas saja aku mudah sekali mengerti dunia arsitektur, karena telah cocok dengan kepribadianku.
Ada secuil sesal yang merayap di benaknya - Kenapa gak dari dulu? Namun Malva buru-buru tersenyum dalam hati. Pena takdir telah diangkat dan tintanya telah mengering. Ini adalah ketetapan terbaik yang Allah gariskan untuknya.
"Loe mau daftar ikut ujian skripsi gak, Malv?" tanya seorang kawan di suatu siang.
Pertanyaan itu membuat Malva tertegun. Tanpa terasa, ia sudah berada di gerbang semester akhir. Ada keraguan yang sempat membisikkan kata mundur ke telinganya. Mampukah aku? Apa tahun depan saja? Namun, bayangan wajah cemas bapaknya saat membahas masa pensiun mendadak melintas. Jadi, bagaimana ya? Ikut apa tidak?
Mengusir segala keraguan yang ada. Kalau nunggu siap, gue gak akan pernah siap selamanya. "Ya udah deh, gue ikutan," jawab Malva mantap.
Maka, tercatatlah namanya dalam daftar 10 mahasiswa angkatan pertama Jurusan Arsitektur ISTN yang nekat menempuh ujian skripsi perdana dalam sejarah kampus.
"Eh, eloe udah dateng, Malv?" sapa temannya yang baru masuk ke studio gambar dengan wajah mengantuk.
Malva hanya tersenyum simpul tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas kalkir yang membentang di meja. Di atas kertas itu, goresan penanya membentuk rancangan sebuah bangunan "Apartemen di Jalan Rasuna Said, Kuningan".
Dahulu, bagi Malva menggambar hanyalah soal menggugurkan kewajiban tugas kuliah. Namun, kini setiap garis yang ditarik di atas kertas kalkir terasa seperti zikir; ada ketelitian presisi yang ia cari, ada kejujuran yang ia titipkan dalam setiap rancangan apartemennya.
Mentari pagi jam delapan baru saja menyapa jendela studio, membasuh ruangan dengan cahaya kuning yang hangat. Temannya mengira Malva adalah orang pertama yang datang pagi itu.
Mereka tidak tahu, bahwa di hari-hari ujian itu, Malva justru baru memulai dunianya saat sore menjelang. Ketika sembilan temannya pulang, Malva justru bertahan di studio ditemani keheningan malam yang pekat. Studio menjelma menjadi dunia Malva sendiri, tanpa mahasiswa lainnya.
Di bawah sorot lampu meja gambar yang kuning meredup, saat jarum jam melewati angka dua belas malam, Malva tidak hanya sedang menyusun denah lantai per lantai apartemen; ia sedang merangkai kembali kepingan masa depannya yang dulu hampir ia kubur sendiri.
Pagi harinya, ia menunggu dosen pembimbing dengan mata merah menahan kantuk demi sebuah asistensi, lalu pulang ke kosan saat teman-temannya baru berdatangan. Jadi, ketika siang hari meja gambar Malva di studio, tak ada Malva di situ. Seolah-olah dia tidak mengerjakan apa-apa, ketika 9 teman mahasiswa mengerjakan gambar pagi sampai sore. Di waktu sore mereka pulang. Begitu terus yang dilakukan Malva setiap hari.
Pola hidup "hantu studio" itu karena hatinya ciut. Sembilan temannya yang lain adalah para bintang kelas, mahasiswa-mahasiswa genius dengan rekam jejak akademis yang berkilau sejak tingkat satu. Salah satunya bahkan menjabat sebagai Ketua Himpunan. Sementara dia? Hanya Malva yang masa lalunya biasa-biasa saja. Gak apa-apa, batin Malva menenangkan dirinya yang didera lelah. Yang penting lulus, biar Bapak gak pusing lagi memikirkan biaya.
Hari pengumuman hasil kelulusan akhirnya tiba.
Papan pengumuman itu dikerubuti mahasiswa. Dengan hati yang mencelos enggak percaya diri dan tangan yang mendadak dingin, Malva memicingkan mata, mencari namanya dari urutan paling bawah - berharap setidaknya ada keajaiban kata "Lulus" di baris buntut.
Kosong. Tidak ada nama Malva di sana.
Jantungnya mendadak berdegup kencang bak dihantam godam. Aku ... gak lulus? Sisa debar-debar jantungnya berpacu seiring dengan bola mata Malva pelan-pelan merayap memanjat ke atas baris demi baris menelusuri papan pengumuman. Bola mata itu tertahan di urutan paling atas. Degup itu dan napasnya tercekat sesaat. Dan, dunia di sekitarnya seolah mendadak hening dan berhenti berputar.
"Halooo, Assalamualaikum ... Bapak?" Suara Malva bergetar hebat di dalam kotak telepon umum.
Ada bunyi klenting koin yang jatuh ke dalam mesin telepon - zaman itu belum ada HP Android - seirama dengan runtuhnya beban berton-ton yang selama ini menggelayuti pundaknya. Air mata kebahagiaan menggenang di pelupuk matanya, membuat wajahnya yang lelah berubah sumringah cerah.
"Ya, wa alaikumussalam. Ada apa, Malv?" suara bariton di seberang sana menyahut, menyiratkan keterkejutan yang kentara karena putranya hampir tidak pernah menelepon ke rumah.
"Pak… aku lulus ujian skripsi sarjana," kalimat itu meluncur bersama napasnya yang memburu, disusul tawa haru yang tak lagi bendung. "Dan nilai ujianku ... jadi yang terbaik di antara semua teman seangkatanku, Pak!"
Suasana di seberang telepon mendadak hening sesaat. Malva tahu, di Johar Baru sana, dada bapaknya pasti sedang bergemuruh hebat oleh rasa bangga yang tak terlukiskan. Sejarah mencatat namanya sebagai lulusan terbaik di angkatan pertama arsitektur kampusnya, bahkan mengungguli sang bintang kelas yang paling genius sekalipun. Subhanallah.
"Alhamdulillah …," jawab Bapak, suaranya terdengar berat dan bergetar menahan haru.
Tuntas sudah. Janji kepada sang Bapak telah ia tunaikan dengan cara yang paling indah. Di dalam kotak telepon umum yang sempit itu, Malva mendongak ke langit, tersenyum dengan air mata yang meleleh hangat di pipinya. Bahkan lebih dari itu, Malva terbaik dari yang lain.
Takdir Allah yang terindah akhirnya telah tersingkap dengan sempurna.
***





Gabung dalam percakapan