Shutdown Autopilot
[SELINGAN SERU: Story Telling]
Shutdown Autopilot
Gerakan salam baru aja selesai. Cedar gak langsung beranjak. Dia diem, nunduk natap dua telapak tangannya di atas lutut. Kipas angin berderit pelan, tapi dadanya mendadak terasa kayak ruangan kosong yang bising oleh sunyi.
Satu lagi checklist ibadah kelar malam ini. Hafalan aman, gerakan presisi. Tapi kok rasanya ... flat banget? Kosong. Begitu sajadah dilipet, Cedar tau dia tetep Cedar yang kemaren - yang gampang kesulut emosi, yang growth jiwanya stuck di tempat. Di luar sana juga sama; masjid selalu ramé, tapi kenapa tingkat toxicity di sekitar gak berkurang? Ada missing link.
Sebagai sosok yang suka nge-bedah konsep behavior, mulut Cedar menggigit kerah t-shirtnya, kebiasaan Cedar kalau lagi mikir. Otaknya langsung nge-mapping rumus tindakan.
Tindakan kita baru bisa keeksekusi kalau ada tiga variabel:
- Trigger (Asbab),
- Ability (Qudrah), dan
- Motivation (Iman).
Di atas sajadah, dua variabel pertama miliknya udah jalan genius banget lewat automatic subconscious system. Trigger-nya dapet yakni suara adzan. Ability-nya beres - mulut fasihkan doa lafaz Arab. Tapi variabel ketiga? Lost in transition. Mode autopilo_ udah nge-ghosting jiwanya sendiri.
Cedar nunduk, ngeremas ujung kain sajadah yang agak kasar. Dadanya mendadak nyesek.
Dia inget momen tempo hari, pas dia coba nge-rem balapan di lidahnya. Pas mulutnya ngeja doa iftitah, "Allahumma ba’id bayni ...”, dia maksa batinnya buat deep talk, nyeret artinya masuk ke hulu hati: Ya Allah, jauhkan aku dari kesalahan-kesalahanku ... Saat itu, ada rasa anget yang tiba-tiba ngeganjel di tenggorokannya.
Cedar sadar, khusyu’ itu bukan instant healing yang jatuh dari langit. Khusyu’ itu effort sadar yang sengaja dihadirin pas raga bergerak (Qudrah) dan hati serentak nyuapin makna sebagai asupan Iman. Tanpa itu, shalat cuma menyusut jadi ritual olahraga religius. Wajar kalau gagal mencegah kemungkaran dalam keseharian.
Cedar bangkit, tangannya tertuju ke keypad HP. Jarinya ngunci di link blognya belajar.icu ke bab: Pasal Ketiga: Tanda-tanda Penyakit Kalbu, dan Bagaimana Mengobatinya untuk Sehat Kembali, dan Penjelasan Cara Manusia Mengetahui Aib-aib (kekurangan-kekurangan) pada Dirinya kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin. Pas matanya nemu sebaris kalimat dari Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, dada Cedar rasanya kayak kena mental hit:
“Manusiapun menganggap amalan-amalan lahiriah sebagai ibadah, tetapi hakikatnya itu adalah adat (kebiasaan - ed.). Inilah tanda-tanda asal dari segala penyakit kalbu.”
Ada titik bening yang mendadak nge-genang di pelupuk matanya. Nge-biasain kebaikan sampai masuk subconscious itu emang bener biar gak berat. Tapi kalau stuck di sana, itu petaka.
Rutinitas cuma gerbang luar, ruhnya ada pada mindfulness niat yang terus dihidupin.
Cedar nutup HP itu pelan. Nyoba narik napas dalem-dalem, nyuci sisa kepalsuan di dadanya. Mode autopilot-nya resmi di-shutdown.
Kedua tangannya terangkat perlahan ke dekat telinga. Kulitnya meremang. "Allahu Akbar.” Kali ini, dia berusaha melawan, gak mau jiwanya ketinggalan di belakang.
Catataan: Story Telling ini kisah nyata, tetapi nama Cedar adalah nama samaran, untuk menjaga privacy tokoh tersebut dalam cerita.
***






Gabung dalam percakapan