Al-Khumul
Dulu, aku merasa bangga ketika duduk di samping para ustadz ternama. Setiap kali aku menyalurkan dana dari para dermawan kepada pondok pesantren, aku merasa kedudukanku naik.
Orang-orang melihatku sebagai sosok yang dekat dengan asatidzah. Aku menikmati sorotan itu, merasa dihormati dan tervalidasi.
Suatu hari, ketika aku masih tinggal di ibukota, aku disuruh bantu-bantu urusan sekolah Islam yang dipimpin seorang senior yang menjadi petinggi sekolah tersebut.
Ketika petinggi itu mendapatkan nasihat atau kritikan membangun, ia melakukan perlawanan.
Dia membantah dengan keras, "Coba mereka yang memimpin, aku yakin mereka nggak bisa!", sambil membanting dokumen sekolah yang ia sedang pegang, dalam vibes panasnya rapat pengurus sekolah.
Aku terdiam, merenung. Benarkah demikian? Apakah kedudukan lebih penting daripada pengembangan demi kemajuan sekolah?
Dia menggunakan kekuasaan dan pengaruhnya untuk membungkam suara-suara yang berbeda, menganggap setiap kritik sebagai ancaman terhadap kedudukannya.
Namun, suatu hari aku membaca perkataan Imam az-Zuhri rahimahullah:
"Tidaklah kami melihat zuhud terhadap sesuatu yang lebih sedikit daripada kepemimpinan. Kami saksikan seorang lelaki zuhud terhadap makanan, minuman, dan harta - tetapi jika kepemimpinannya tercabut, ia akan mempertahankannya dan melakukan perlawanan."
Aku tersentak, dan itu sungguh nusuk hatiku. Aku mulai termenung, apakah aku benar-benar ikhlas membantu pondok pesantren? Ataukah aku hanya mencari pengakuan dan kedudukan di mata manusia? Lagipula itu juga bukan uangku. Aneh juga aku ini.
Seniorku yang di ibukota itu juga kok sampai muntab begitu ya ...
Aku pun mulai mempelajari kitab-kitab ulama Salaf tentang hati (kalbu) dan keikhlasan. Aku menemukan konsep al-Khumul, yaitu keinginan untuk tidak dikenal dan tidak mencari ketenaran.
Ternyata, para ulama Salaf lebih memilih untuk tidak terkenal, karena mereka takut ketenaran akan merusak keikhlasan mereka.
Sejak saat itu, aku berusaha untuk tidak lagi mencari kedekatan dengan para ustadz demi pengakuan. Jika aku mendekati mereka, itu semata-mata untuk menuntut ilmu dan bertanya tentang permasalahan agama.
Perjalanan ini tidak mudah. Terkadang, godaan untuk kembali mencari pengakuan muncul.
Namun, aku terus mengingatkan diriku bahwa yang terpenting adalah bagaimana Allah menilai amalanku, bukan bagaimana manusia melihatku.
Semoga Allah senantiasa membimbing hatiku dan seniorku untuk tetap ikhlas dan menjauhkan dari penyakit kalbu, cinta kedudukan yang kronis.
Catatan: Kisah ini nyata, dialami sendiri oleh penulis. Tak disebutkan nama-nama tokoh pendukung, demi menjaga privacy mereka.
***






Gabung dalam percakapan