www.izzuka.com
Menjadi Terampil Menulis
hanya dari kebiasaan menulis sederhana, mau? buruan! TAP > Yuk! menulis di sketsarumah.com.

#12 Rute 9 - Titik Plot Tengah

Fungsinya, menandai bagian tengah biografi, boleh jadi dengan kekalahan semu atau kemenangan semu, sekaligus pertaruhan cerita semakin meningkat.

Posisinya, 50%

          Titik plot tengah merupakan persimpangan berbagai hal. Titik ini juga merupakan tengah-tengahnya Bagian Tengah. Dan, ini sangat penting bagi proses transformasi sang tokoh utama.

          Ada yang bilang, ketika biografi masuk ke bagian ini, maka kekacauan yang terjadi. Ini bagian yang sulit ditulis, karena kejadian-kejadian berantakan, rumit, kurang fokus dan sulit dilalui. Dan, bila itu yang terjadi, berarti sang penulis kehilangan kesempatan emasnya.

          Titik ini merupakan pusat dari alur transformasi sang tokoh utama. Jadi, titik plot tengah merupakan momen penting. Ada 3 hal yang sangat penting di dalamnya:
1. Sang tokoh utama mengalami sebuah kemenangan semu atau kekalahan semu.
2. Pertaruhan cerita semakin meningkat.
3. Cerita eksternal dan cerita internal bersinggungan dengan suatu cara.

Kemenangan semu atau kekalahan semu

          Titik Tengah merupakan titik kulminasi atau titik tertinggi bagi jalur menanjak atau menurun pada rute Keseruan. Karena, rute Keseruan biasanya mendorong menuju Titik Tengah dan memberi suatu definisi pada Tituk Tengah.

          Nah, jika tokoh utama sukses di dunia jungkir balik. Kita memiliki kemenangan semu pada Titik Tengah ini.

          Mengapa disebut kemenangan semu?

          Karena memang, sang tokoh utama belum sungguh-sungguh menang. Sejatinya tokoh utama belum memahami betul tema atau pelajaran hidupnya.

          Dalam kemenangan semu, sang tokoh utama biasanya merasa cukup percaya diri, bahwa ia telah mendapatkan "sesuatu" yang mereka "inginkan" yaitu tujuan eksternal pada Bagian Awal.

          Dalam hal cerita Ngadiman adalah "ingin jadi orang baik".

          Namun, ternyata kemenangan tokoh utama tidak utuh, karena ia belum bertransformasi dengan cara yang benar. Sang tokoh utama masih memiliki kekurangan-kekurangan, dan belum mengatasi masalah besarnya. Keinginannya masih dangkal.
          
Dalam kisah Ngadiman, ia diminta membantu membuat suatu program pendidikan bagi anak-anak muslim. Ini suatu pekerjaan baru baginya, dan suatu jalan untuk menuju "menjadi orang baik". Dan, Ngadiman cukup berhasil dalam bantuannya tersebut. Namun, apakah Ngadiman telah melakukan sesuatu demi menjalani hidupnya sendiri dengan maksimal (sesuai tema pelajaran hidupnya). Ternyata tidak juga. Malahan ia berlarut-larut pada program tersebut yang ternyata ada beberapa hal yang tak sesuai dengan metode pendidikan Islam.

          Di sisi lain, jika tokoh utama kita mengalami proses menurun pada Rute Keseruan, Titik Tengah akan berupa kekalahan semu. Jalur menurunnya mencapai titik terendah. Tokoh utama seperti kehilangan arah. Mungkin ia belum mendapatkan keinginannya, atau telah mendapatkan tetapi tidak terlalu memuaskan. Bahkan tokoh utama merasa harus mulai dari nol kembali.

          Mengapa disebut kekalahan semu?

          Ya, karena hal yang sama pada kemenangan semu, yaitu tokoh utama belum menyadari hakikat sebenarnya pelajaran hidupnya.

          Dengan adanya Titik Tengah tempat gagalnya tokoh utama mendapatkan keinginan eksternalnya, maka tokoh utama mengira hidupnya telah berakhir, karena tokoh utama tak mendapatkan sesuatu yang menurutnya akan memperbaiki segalanya. Jelas sekali, akan ada cerita yang lebih besar lagi.

Dalam cerita biografi Ngadiman pun, di sini ternyata bisa dilihat dari sudut pandang ini. Ketika ia belum menemukan metode belajar prinsip hidup yang dianggap benar (kemenangan semu). Yaitu ketika Ngadiman telah mencapai beberapa metode prinsip hidup yakni Islam (tujuan eksternal "ingin menjadi orang baik"). Dan, ternyata karena ada beberapa jalan yang ada pada kelompok-kelompok sempalan Islam, itu malahan membuat Ngadiman semakin bingung. Ia semakin tak mengerti apa tujuan prinsip hidup Islam tersebut. Kelompok-kelompok Islam tersebut tidak menawarkan prinsip hidup yang jelas seperti yang Ngadiman harapkan. Yang ia dapat hanyalah semakin bimbang, resah dan ragu terhadap apa yang ia jalani. Sehingga Ngadiman mengalami penurunan sampai titik terendah, saat ia menemukan manhaj (mirip) Salaf. Ia merasa harus mulai dari nol kembali, untuk mempelajari hakikat prinsip hidup Islam yang benar. Walaupun ini hanya kemenangan semu nantinya.

          Entah itu kekalahan semu, lalu menuju kemenangan semu, yang jelas taruhan cerita semakin naik intensitasnya.

          Pada Titik Tengah ini, sang tokoh utama telah melakukan peluang untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan yang ada pada Bagian Tengah yang terjungkir balik. Namun, tokoh utama sejatinya masih diarahkan oleh keinginannya, bukan yang dibutuhkannya.

          Dan, pada Titik Tengah inilah sang tokoh utama menuju akhir waktu, tidak ada lagi hanya keseruan-keseruan. Namun, kini yang ada saatnya adalah: keseriusan, tidak main-main, memasuki lintasan aksi baru menuju perubahan yang sesungguhnya dibutuhkan olehnya.

          Dalam rute Titik Tengah ini, terkadang peralihan dari keinginan menuju kebutuhan terlihat samar. Ini dikarenakan adanya persinggungan antara cerita eksternal dengan cerita internal. Yaitu ketika tokoh utama mulai melepaskan apa yang diinginkannya menuju apa yang ia butuhkan. Sang tokoh utama masih hal yang harus ia tempuh. 

          Namun, ketika taruhan cerita semakin meningkat, tokoh utama tak bisa mundur kembali. Tokoh utama sadar bahwa ia tak bisa menempuh jalan yang ia akan lalui dengan cara sebelumnya. Bisa jadi karena itu adalah kekalahan semu atau kemenangan semu. Tetapi tokoh utama akan merasakan kekurangan sesuatu.

          Peralihan dari keinginan menuju kebutuhan terjadi pada suatu persimpangan, ya persimpangan Titik Tengah. Persimpangan antara cerita eksternal dengan cerita internal. Seringkali pada Titik Tengah ini kedua cerita saling bersinggungan. Berarti antara tokoh-tokoh pada cerita eksternal dengan tokoh-tokoh cerita internal akan terjalin atau bersinggungan jalan dengan cara tertentu. Hal ini, jelas-jelas menunjukkan suatu petunjuk visual (yaitu dengan membaca) kepada para pembaca tentang bergesernya keinginan kepada kebutuhan tokoh utama dalam pelajaran hidupnya.

          Titik Tengah telah mengubah arah cerita. Hal tersebut membuat tokoh utama semakin sulit untuk kembali kepada sosok ketika ia berada di cerita eksternal. Sang tokoh utama semakin sulit berpaling dan kembali pada dunia Bagian Awalnya.

          Sebuah petualangan yang hebat, pastilah akan semakin naik tensinya secara berkelanjutan. Plot demi plot kisah menunjukkan sang tokoh utama senantiasa bergerak maju. Karena semakin meningkat kualitas pelajaran hidup yang didapat tokoh utama, membuat ia tak bisa mundur lagi.

Pada rute Titik Tengah ini, kisah Ngadiman ada di bab-bab:

Bab #40 Versus
Perseteruan Manhaj Teroris VS Ahlus Sunnah

Bab #41 Kemelut perpecahan
Pertentangan pendapat tentang proyek bar, tambahan pula mulai mengenal Ahlus Sunnah. Semakin jelas perseteruannya. Diakhiri pindah ke Srengseng, dalam keadaan pekerjaan hanya sebagai pengajar tak tetap.

Bab #42 Reformasi
Kerusuhan 1998

***

Buku Menulis
Kisah Inspiratif

rasa Novel - 55k

Mendesain kebiasaan BELAJAR ilmu syar'i dengan MENULISkannya, diretas bersama teman setia kopi di studio sketsarumah.com.
F A Q (Frequently Asked Questions)
Pertanyaan yang sering diajukan

Silahkan chat dengan tim kami Admin akan membalas dalam beberapa menit
Bismillah, Ada yang bisa kami bantu? ...
Mulai chat...