www.izzuka.com

#32 Kategori Cerita: Institusionalisasi - Terperangkap di Kelompok Buruk

          Untuk Pembahasan lebih rinci tentang Kategori Cerita, kita bahas terlebih dahulu Kategori Cerita Institusionalisasi. Karena, ada kemungkinan sering dijumpai kondisi-kondisi kenyataan seperti tersebut di kehidupan kita sebagai Ahlus Sunnah.

          Persoalan bergabung atau tidak bergabung merupakan inti dari cerita dengan kategori Institusionalisasi. Pilihan akhir, menjadi anggota di dalam sebuah kelompok ataukah menempuh jalan sendiri.

          Jawabannya, tidak selalu mudah.

          Indikator utama dari suatu cerita Institusionalisasi adalah ceritanya mengenai banyak orang, sekalipun narator (sudut pandang pencerita) tunggal.

          Institusi atau kelompok orang bisa hadir dalam berbagai ukuran dan bentuk. 
  • Bisa kecil, misalkan suatu keluarga
  • Bisa juga seukuran kota kecil atau kota besar. 
  • Mereka juga bisa muncul dalam bentuk sub bagian masyarakat seperti kelompok kelas pekerja, atau kelompok kelas atas (elit) atau suatu partai tertentu. 
  • Bisa pula berbentuk organisasi terlihat nyata yang bergerak bidang tertentu semisal pendidikan, dakwah, 
  • Kelompok wira usaha. 
  • Bisa juga dalam bentuk lembaga fiktif atau imajiner, komunitas yang tampak damai dan indah tetapi ternyata menipu seperti negara di dalam negara (negara atau gerakan bawah tanah), 
  • Kelompok militan pemberontak Khawarij (teroris) yang memberontak kepada pemerintah muslim yang sah, 
  • komunitas-komunitas atau kelompok-kelompok yang tak nampak secara jelas, 
  • dan banyak lagi.
          Cerita model seperti ini, adalah tentang kelompok yang dihuni oleh tokoh utama dan hubungan antara tokoh utama dengan kelompok tersebut, yang tersirat di dalamnya perjalanan hidup pribadi sang tokoh utama.

          Institusi manapun, elemen penting dalam cerita berkategori Institusionalisasi adalah;

✓ Sebuah kelompok
✓ Sebuah pilihan
✓ Sebuah pengorbanan
          
          Kelompok-kelompok tersebut bisa jadi berupa:

✓ Kelompok tempat tokoh utama dilahirkan.
✓ Kelompok tempat tokoh utama dibawa masuk ke dalamnya dan seringnya di luar kehendak tokoh utama.
✓ Kelompok tempat tokoh utama diminta bergabung ke dalamnya.
          
          Institusi-institusi ini bisa menimbulkan suatu suasana dunia tersendiri bagi orang-orang di dalamnya. Bahkan orang-orang di luarnyapun melihat kelompok tersebut seperti suatu dunia tersendiri pula.

          Dan, penulis cerita ini secara simultan menunjukkan:

Pertimbangan, yang terpusat pada tokoh utama, mengenai pro dan kontra menjadi anggota institusi.

Eksplorasi kelompok tersebut, seperti 
  • apa makna dunia tersendiri kelompok tersebut, 
  • siapa anggota-anggotanya, 
  • apa aturan-aturannya, dan 
  • mudahkah seseorang terpengaruh kelompok tersebut sehingga sampai-sampai seseorang kehilangan jati dirinya.
          Para pembaca akan mudah memahami tema "kelompok" atau "institusi" ini. 

          Mengapa? 

          Karena manusia sejak awal lahir merupakan bagian dari suatu kelompok. Manusia terlahir dalam suatu keluarga, tergabung dalam suatu sekolah atau pondok pesantren, mendapat pekerjaan di suatu perusahaan, dan terkadang menjadi anggota suatu komunitas. Dan, ia selalu menimbang pro dan kontra dari suatu kelompok setiap hari dalam kehidupannya.

          Maka, memang secara biologis atau alami manusia terprogram dalam kelompok-kelompok. Sejak dahulu, manusia akan berpikir apakah selamat jika ia mengembara sendiri, dan ia selalu bertanya-tanya dalam dirinya bahayakah jika ia membentuk jalan sendiri, apakah itu pilihan terbaik?

          Dan, selalu ada pertanyaan-pertanyaan berikutnya:

✓ Bisakah ia sepenuhnya mempercayai bahwa orang lain atau kelompok tersebut akan memiliki niat baik kepadanya?
✓ Ataukah adakah waktunya ketika ia harus mengandalkan dirinya sendiri?
✓ Manakah yang lebih absurd? Kelompok itu atau ia yang meninggalkannya?
          
          Itulah sumber nama kategori cerita Institusionalisasi. 
  • Kita akan melihat ketidak masuk akalan yang ada dalam kelompok. 
  • Karena memang terkadang dinamika kelompok sering aneh dan merusak sosok-sosok di dalamnya. 
  • Mentalitas kelompok mampu melawan segala nalar dan logika. 
  • Bersikap setia kepada kelompok boleh jadi akan menentang akal sehat, 
  • bahkan lebih buruk lagi, sanggup bertolak belakang dengan keimanan
  • Lebih kejam lagi, memorakporandakan kelangsungan hidup, tetapi sosok anggota kelompok tersebut masih melakukan. 
          Telah dikenal di antaranya, 
  • kelompok teroris dengan "bom bunuh diri" nya, 
  • dan kelompok sufi kelas dunia dengan "perjalanan dakwah" nya sampai menelantarkan keluarga yang ditinggal, 
  • kelompok radikal komunis dengan "menghalalkan segala cara" dengan pembunuhan dan penganiayaannya, 
  • dan banyak lagi.
          Saat seseorang bergabung dengan suatu kelompok, ia sering kehilangan suatu bagian besar dari dirinya sendiri, yaitu jati diri. Ia bagaikan boneka-boneka yang dikendalikan pengendali bayangan, sosok tak kasat mata.

          Jadi, kita sebagai penulis memiliki tugas lumayan paradoks:

Menggambarkan kelompok tersebut dengan penggambaran yang monumental tetapi buruk atau baik, sekaligus
✓ mengungkap masalah hilangnya identitas seseorang di dalamnya.
          
          Selagi kita sebagai penulis "menguliti lapisan demi lapisan" lembaga kelompok tersebut dengan menarik kepada pembaca, sehingga sampai-sampai pembaca akan bertanya dalam dirinya sendiri:

✓ Apa yang akan aku lakukan bila berada pada posisi tokoh utama?
✓ Apakah aku akan bergabung atau tidak? (jika tokoh utama masih berada di luar kelompok).
✓ Apakah aku akan menetap atau pergi? (jika tokoh utama telah berada di dalam kelompok).

          Itulah pilihan dalam inti setiap cerita Institusionalisasi, yakni elemen kedua dalam kategori cerita tersebut.
          
          Untuk lebih memahami elemen pilihan ini, biasanya ada 3 karakter umum yang muncul, yaitu:

1. Tokoh utama dalam cerita ini sering kali seorang pendatang baru dalam kelompok tersebut. Ia begitu naif. Ia mengenal kelompok diperkenalkan oleh seseorang yang lebih berpengalaman. Seseorang yang menunjukkan aturan-aturan kelompok kepada sang naif, memperkenalkan dunia baru yang masih asing bagi sang tokoh utama yang naif. Tokoh utama naif itu seolah-olah "mata" pembaca ke dunia kelompok tersebut, saat tokoh utama mempelajari, pembacapun mempelajarinya.

2. Tokoh utama yang memang sudah menjadi anggota kelompok. Ia telah tertanam dalam sistem, tetapi tokoh utama itu lambat laun mulai meragukan kelompoknya. Atau terkadang, ia telah meragukannya bertahun-tahun tetapi tak berdaya. Ia terjebak. Dan, gagasan untuk meninggalkannya dianggap ide tak masuk akal awalnya. Saat cerita dimulai, telah ada sesuatu yang berbeda pada tokoh utama. Ia merasa tak sepenuhnya cocok berada di kelompok itu. Watak tokoh utama menentang sistem. Dan, ketika kita mulai masuk ke inti cerita, sang tokoh utama benar-benar mengambil tindakan atas keraguannya.

3. Tokoh adalah orang institusi yang merupakan perwujudan sistem kelompok. Tokoh "orang perusahaan" yang mempercayai sistem. Tokoh ini bukan saja hanya menjadi bagian dari kelompok, bahkan tokoh ini sanggup membela institusi sampai mati. Tokoh ini merupakan perwujudan "keabsurdan" dunia ini. Inilah yang terjadi bila tokoh tersebut percaya buta pada kelompoknya tanpa keraguan sedikitpun. Karena kesetiaannya yang "kekeh", ia terlihat ganjil dan aneh seperti robot. Ia menukar keselamatan jiwanya demi keselamatan yang tokoh dambakan di dalam sistem.

          Tokoh utama si naif atau si anggota kelompok sama-sama memiliki peranan penting untuk mengungkap keanehan institusi, baik menjadi orang luar (naif) atau orang dalam (anggota yang memberontak). Keduanya akhirnya, 

berhasil menyelesaikan tugasnya dengan menantang karakter tokoh institusi.

          Orang perusahaan melambangkan satu sisi pilihan yang harus diambil oleh tokoh utama dalam cerita Institusionalisasi: bertahan di dalam kelompok atau segera enyah darinya. Dan, pilihan itu begitu sulitnya seiring dengan jalannya cerita. 

Kesetiaan tokoh utama akan diuji, semakin  jauh terbenam di dalam drama kelompok dan aturan-aturan yang semakin "menggila", atau berlepas diri.
          
          Pada akhirnya cerita Institusionalisasi akan berakhir pada elemen ketiga: pengorbanan
  • Pengorbanan sang tokoh utama menjadi peringatan bahayanya memasuki suatu institusi yang tak jelas, dan ternyata buruk. 
  • Pesan yang lebih dalam pada cerita tersebut adalah mendengarkan suara hatinya tokoh utama.
          Kita semua butuh menjadi bagian suatu kelompok untuk bertahan hidup dan ini naluri kita sebagai manusia sejak lahir. Namun jiwa manusia secara pribadi mandiri kita - identitas jati diri kita - adalah hal utama yang mau tidak mau mesti kita rawat dan lindungi. Berhati-hatilah terhadap "sihir kelompok", jadilah diri-sendiri.

          Sebagai rangkuman, mengingatkan kita 3 elemen cerita dengan kategori Institusionalisasi:

1. Sebuah Kelompok: keluarga, organisasi, usaha bisnis, komunitas atau suatu kelompok fiktif atau imajiner yaitu suatu masalah yang unik yang dapat menarik dan menyatukan orang banyak.

2. Sebuah Pilihan: konflik berlanjutan antara si naif atau anggota kelompok yang memberontak dengan "orang perusahaan". Biasanya berkisar pada pertanyaan untuk bergabung atau tidak (bagi si naif), atau menetap atau pergi (bagi orang anggota yang memberontak).

3. Pengorbanan: yang mengarah pada salah satu dari tiga kemungkinan: bergabung, membebaskan diri, atau menghancurkannya.

Kisah Fulan, jelas-jelas bisa masuk kategori cerita ini. Ia mesti masuk kelompok teroris dalam negeri, dan keluar, lalu masuk kelompok teroris kelas internasional, dan ternyata mempunyai manhaj yang sama yaitu Khawarij alias teroris. Lalu, Fulan keluar kembali, dan masuk kelompok sufi internasional. Dan, akhirnya bertemu kelompok Ahlus Sunnah. Fulan mengira berakhirlah perjalanannya. Namun, ternyata perjalanannya tidak sampai di situ, ada tokoh kelompok tersebut yang absurd. Dia pun mesti mental dari komunitas yang berada di ibukota itu, dan bergabung dengan manhaj yang sama yaitu Ahlus Sunnah di telapak kaki Merapi.

***
          
Mau belajar menulis Kisah Nyata via daring (online), ikuti tahapannya, TAP /KETUK > di bawah ini:

Atau, mau belajar menulis Kisah Nyata via luring (offline), beli saja bukunya, TAP /KETUK > di bawah ini:
Buku Menulis
Kisah Inspiratif

rasa Novel - 55k


Mau belajar menulis Kelindan Kisah-kisah Nyata via daring (online), ikuti tahapannya, TAP /KETUK > di bawah ini:

Atau, mau belajar menulis Kelindan Kisah-kisah Nyata via luring (offline), beli saja bukunya, TAP /KETUK > di bawah ini:

Mau Belajar Ilmu Syar'i dengan Menuliskannya, mudah, sedikit demi sedikit, dan saban hari, TAP /KETUK > di bawah ini:
WhatsApp Salafy Asyik Belajar dan Menulis

Sederhana itu Lebih - Less is More. Desain bukanlah menambah-nambah biar berfungsi, tetapi desain adalah menyederhanakan agar berdaya guna.
Produk

Online Shop
Buku, Peranti belajar,
dan sebagainya



Misi


Fakta
Ciri Khas Artikel



F A Q (Frequently Asked Questions)
Pertanyaan yang sering diajukan

Silahkan chat dengan tim kami Admin akan membalas dalam beberapa menit
Bismillah, Ada yang bisa kami bantu? ...
Mulai chat...