www.izzuka.com
Menjadi Terampil Menulis
hanya dari kebiasaan menulis sederhana, mau? buruan! TAP > Yuk! menulis di sketsarumah.com.

Al-Ilmu sebelum bercanda

         Di dalam Kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin karya Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, pada tema Bencana-bencana Ucapan, tentang bercanda disebutkan:
 
           Canda yang ringan tidaklah dilarang selama benar (tidak mengandung kedustaan).

          Sesungguhnya Nabi Shallallahu alaihi wasallam pernah bercanda, dan tak berkata (bercanda) kecuali di atas kebenaran. Bahwa, beliau pernah berkata kepada seorang lelaki,
          "Wahai pemilik dua telinga!" (dishahihkan al-Albani dalam Shahih Tirmidzi)

          Dan, beliau shalallahu alaihi wasallam bersabda kepada lelaki lainnya,
          "Sesungguhnya kami akan membawamu di atas anak unta." (dishahihkan oleh al-Albani)

          Beliau shalallahu alaihi wasallam pernah berkata juga kepada seorang wanita tua,
          "Sesungguhnya wanita tua tidak akan masuk ke Syurga (al-Jannah)." Kemudian beliau membaca firman Allah,
          "Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) secara langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan." (al-Waqi'ah: 35-36, (dishahihkan oleh al-Albani)

          Dan, beliau shalallahu alaihi wasallam pernah bertanya kepada wanita tua lainnya,
          "Apakah suamimu itu lelaki yang ada warna putih di atanya?"

          Telah sepakat, canda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memenuhi 3 unsur:%

1.Benar dan jujur.
2. Ditujukan kepada para wanita dan anak-anak, dan kepada pria yang lemah yang butuh dididik dengan adab.
3. Sangat jarang beliau lakukan.

          Maka, tak sepantasnya untuk selalu ingin bercanda terus-menerus, dengan berdalih canda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Sebab, hukum sesuatu yang sangat jarang dilakukan tidak berarti hukum sesuatu yang terus menerus dilakukan.

          Maka, jika ada orang-orang di rumah menonton permainan orang-orang Habasyah, siang dan malam, dengan dalih bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri untuk Aisyah radhiallahu 'anha dan mengizinkannya untuk menonton permainan orang-orang Habasyah, tentu dalih tersebut salah. Sebab beliau sangat jarang melakukan yang demikian.

         Oleh karena itu, berlebihan dalam bercanda dan terus-menerus melakukannya adalah terlarang, sebab hal tersebut akan menjatuhkan harga diri (kewibawaan) dan memunculkan dendam dan kebencian.

          Adapun kepada anak-anak kecil itu diperbolehkan dilakukan oleh yang besar, jika terdesak.

          Bercanda yang ringan, seperti yang sudah disebutkan dan telah dicontohkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, di dalamnya terkandung kegembiraan dan kebaikan jiwa.

***

           Dari penukilan di atas, ternyata bercanda itu hanya dilakukan kepada:

Para wanita

Anak-anak kecil, jika terdesak. Karena di dalam kajian Raudhatul Uqala' karya Ibnu Hibban, ustadz Usamah Mahri melarang bercanda dengan anak kecil, karena akan menjatuhkan wibawa kita. Sehingga dikhawatirkan jika kita menasehati anak-anak, mereka akan meremehkan (tidak menganggap).

Laki-laki yang lemah untuk mengajari adab. Mungkin lemah disini maksudnya "tersinggungan" layaknya wanita. Emosional memang watak wanita. Wujudnya lelaki tetapi perasaannya wanita, akalnya pun lemah. Sehingga jika mengajari atau menasehati dengan kata-kata agak keras, dia "mutung" alias "ngambek". Jadi, diajari adab dengan canda.

Kepada yang sederajat, seperti guru dengan guru, atasan dengan atasan, dan sebagainya. Hal ini juga, disampaikan dalam Raudhatul Uqala' oleh ustadz Usamah Mahri pula, bahwa Ibrahim bin Adham ketika sedang bercanda dengan teman-temannya, tiba-tiba masuk seseorang yang kurang akrab di antara mereka, langsung Ibrahim bin Adham berkata, "Awas ada mata-mata!"

         Demikian pula, fakta pengalaman seorang pelajar ketika berkumpul acara ngopi bersama asatidzah. Sang pelajar heran dengan salah satu asatidzah tersebut, karena ia sangat mengenal ustadz tersebut, termasuk gurunya ketika belajar di kelas pondok pesantren. 

          Mengapa?

          Kata sang pelajar ustadz tersebut, bahwa dalam acara ngopi bersama tersebut, ustadz tersebut becanda kepada asatidzah yang lain, layaknya sesama santri. Padahal sepengetahuan sang pelajar ustadz tersebut jika di pondok pesantren cukup pendiam, tidak pernah bercanda, dan penuh wibawa ketika mengajar.

         Namun, sangat disayangkan, fakta di sekeliling dunia Salafiyin, kita baik daring maupun luring, terkadang kita dapati di grup-grup WhatsApp Salafy, sering kali bercanda, hampir setiap hari. Padahal di situ ada berbagai ikhwah dengan berbagai sifat, bermacam-macam suku, ada yang tersinggungan, ada yang mungkin tidak sederajat.

          Akibatnya, pernah kita dapati ada yang tersinggung, dan keluar dari grup. Bahkan hal semacam itu sering dijumpai. Kadang pula yang dikeluarkan adalah pihak yang sering bercanda, karena telah menyinggung perasaan temannya yang lain. 

          Semua itu, dikarena tidak perhatian terhadap ilmu adab-adab dalam bercanda, dan mengamalkannya.

         Maka dari itu, seorang Salafy yang menjunjung tinggi amaliyah di atas ranah ilmiyah, mungkin kita telah pernah membaca atau tahu tema bercanda ini, tetapi hanya kurang murojaah saja. Oleh sebab itu status kita sebagai Salafy itu tak usah dirisaukan, itu akan ada dengan sendirinya, jika kita fokus diproses belajar ilmu syar'i, sesering mungkin. Melebihi seringnya makan dan minum setiap hari.

          Yang biasa terjadi pada kita adalah terpancing untuk komentar, dan punya hasrat supaya orang tertawa, seringnya begitu.

          Dan, mungkin ada tujuan baik juga, supaya tidak tegang, ada semakin akrab dan tidak terkesan sosok yang monumental. Selalu ingin timbul kesan berorientasi ke bawah (bottom).

          Mungkin boleh jadi bisa begitu, cuma mestinya jarang-jarang dan candanya ringan.

          Dulu, admin pernah tinggal di suatu komunitas, pengampu dakwah di komunitas tersebut, sering bercanda, bahkan hampir tiap hari, kepada siapa saja. Mungkin ia ingin memberi kesan akrab, tapi ya akhirnya menurunkan kewibawaannya.

          Dan, arahan dan nasehatnya kurang "digugu" dalam artian tidak langsung dilaksanakan. Akhirnya berakibat gerak dakwah yang kurang "sat set"

          Ya ini pengalaman fakta saja, baru ingat setelah baca ilmunya, "Iya juga ya, ulama udah tahu duluan ..."

***

WhatsAb Sabar
WhatsApp Salafy Asyik Belajar Saban Hari

Mendesain kebiasaan BELAJAR ilmu syar'i dengan MENULISkannya, diretas bersama teman setia kopi di studio sketsarumah.com.
F A Q (Frequently Asked Questions)
Pertanyaan yang sering diajukan

Silahkan chat dengan tim kami Admin akan membalas dalam beberapa menit
Bismillah, Ada yang bisa kami bantu? ...
Mulai chat...