#23 Perluasan Kosa Kata
1. Pendahuluan
Untuk memahami bagaimana seseorang dapat menguasai kosa kata seperti keadaannya sekarang ini, marilah kita menengok sebentar ke belakang. Pada saat ini, sebagai orang yang telah dewasa, kita sanggup mengutarakan pikiran dan perasaan kita melalui rangkaian kata-kata dalam konstruksi yang tidak terbilang banyaknya. Dengan sendirinya hal ini adalah suatu karya besar dalam kehidupan individual tiap orang, tetapi tidak pernah terlintas dalam pikiran kita untuk mengaguminya sebagai suatu karya besar.
Akan lebih masuk di akal, kalau seorang yang bernama Adi, seorang Indonesia asli, dilahirkan dan dibesarkan di Indonesia dalam lingkungan sebuah keluarga desa, dapat menguasai dan berbicara dengan fasih sebuah bahasa asing, bahasa Arab misalnya. Masuk “di akal”, karena kita mengetahui bahwa ia mempelajari bahasa itu di sebuah SMA anu, dari seorang guru yang baik, dan kemudian meneruskan pelajarannya ke Fakultas Sastra Jurusan Bahasa Arab, dan selanjutnya meneruskan studinya ke Madinah, Saudi Arabia. Di samping itu, mungkin ia akan dikagumi karena dalam waktu yang singkat ia sudah menyesuaikan dirinya sebagai seolah-olah seorang Arab, sedangkan kawan-kawannya belum mencapai keadaan itu.
Dengan mudah kita bisa menerima di akal bahwa pengetahuannya itu diperoleh dengan belajar; belajar dengan giat dan tekun. Seseorang yang tidak berpendidikan pun dapat memahami hal itu.
Tetapi, menguasai bahasa secara alamiah tidak perlu dipikirkan dan tidak perlu dikagumi, karena semua orang dapat berbuat demikian. Semua orang mulai belajar berbicara dengan mempelajari kata-kata secara individual.
Penguasaan kaidah-kaidah tata bahasa hanya melalui pola-pola kalimat orang dewasa. Pola-pola ini terbatas, sedangkan kosa kata tak dapat dibatasi. Kosa kata harus terus-menerus diperbanyak dan diperluas,
pertama-tama, sesuai dengan tuntutan usia yang semakin dewasa yang ingin mengetahui semua hal,
kedua, sesuai dengan perkembangan dan kemajuan masyarakat yang selalu menciptakan kata-kata baru.
Untuk mudah berkomunikasi dengan anggota masyarakat yang lain, setiap orang perlu memperluas kosa katanya, perlu mengetahui sebanyak-banyaknya perbendaharaan kata dalam bahasanya.
2. Tingkat Perluasan Kosa Kata
Apakah semudah itu juga kita memahami cara penguasaan bahasa khususnya kosa kata seorang putra Indonesia yang berumur dua sampai empat tahun, yang berumur dua puluh tahun atau yang berusia lebih dari empat puluh tahun?
Dalam hal ini terjadilah beberapa proses yang berjalan perlahan-lahan, tetapi pasti menuju kepada suatu kesanggupan dan kemampuan berbahasa yang baik dan teratur.
2.1. Masa Kanak-kanak
Perluasan kosa kata pada anak-anak lebih ditekankan kepada kosa kata,- khususnya kesanggupan untuk nominasi gagasan-gagasan yang konkret. Ia hanya memerlukan istilah untuk menyebutkan kata-kata secara terlepas.
- Semakin dewasa, ia ingin mengetahui sebanyak-banyaknya nama barang-barang yang berada di sekitarnya.
- Ia ingin mengetahui kata-kata bagi kebutuhan pokoknya: makan, minum, nama-nama bagian tubuh, menyebutkan anggota keluarga.
- Ia ingin mengetahui bagaimana menyebutkan bagian-bagian rumah, dan semua yang ada di sekitarnya.
Pendeknya ia ingin mengetahui tentang semua yang dilihat, dirasakan atau didengarnya setiap hari. Peranan orang tua, sanak saudara dan kenalan dekat (konteks lingkungan), sangat penting artinya dalam perluasan kosa kata dasarnya.
Nama barang-barang yang ada di sekitarnya itu mudah diingat karena setiap hari selalu harus berurusan dengan barang-barang itu. Bila ia melupakan nama dari salah satu barang tersebut, segera ia akan menanyakannya. Faktor ini menyebabkan bahwa kata-kata itu hidup, dan bukan saja hidup tetapi juga aktif dipergunakan dalam komunikasinya yang masih sederhana itu.
2.2. Masa Remaja
Pada waktu anak mulai menginjak bangku sekolah, proses tadi masih berjalan terus ditambah dengan proses yang sengaja diadakan untuk menguasai bahasanya dan memperluas kosa katanya. Proses yang sengaja diadakan ini adalah proses belajar, baik melalui pelajaran bahasa maupun melalui mata pelajaran lainnya. Dalam mata pelajaran non bahasa diberikan juga bermacam-macam pengertian dan istilah, walaupun lambat tetapi pasti tetap melangkah maju. Proses ini berlangsung mulai dari sekolah dasar terus ke sekolah lanjutan.
Sebaliknya, proses yang lama seperti yang berlangsung pada masa kanak-kanak yang belum bersekolah, berjalan terus dalam ruang lingkup yang lebih luas.
- Bila tadinya ia hanya berkenalan dengan lingkungan keluarga dekat,
- maka sekarang ia sudah melangkah lebih jauh mengenal orang-orang sekitar, orang-orang sedesa atau sekampung, orang-orang sekota, seperhimpunan dan sebagainya.
Semua proses ini akan disertai proses perluasan kosa kata tentang berbagai hal yang baru dialaminya itu.
2.3. Masa Dewasa
Pada seorang yang meningkat dewasa, kedua proses tadi berjalan terus. Proses perluasan berjalan lebih intensif karena sebagai seorang yang dianggap matang dalam masyarakat, ia harus mengetahui berbagai hal, bermacam-macam keahlian dan ketrampilan dan harus pula berkomunikasi dengan anggota masyarakatnya mengenai semua hal itu.Dalam dunia modern ini, proses perluasan kosa kata melalui belajar dilanjutkan dengan pendidikan di dunia perguruan tinggi, yang mengintensifkan pengetahuan seseorang dalam bidang pengetahuan tertentu, khususnya menyangkut persoalan-persoalan yang lebih abstrak. Pada sekolah lanjutan proses abstraksi juga sudah dimulai, namun belum seberapa. Di sekolah setingkat perguruan tinggi, dapat dikatakan seseorang betul-betul ditempa menjadi manusia yang matang untuk masyarakat. Pengetahuan teoritis di bangku belajar kemudian dimatangkan lagi melalui pengalaman-pengalaman dengan bertukar pikiran dan berkomunikasi dengan anggota masyarakat lainnya.
Dari uraian singkat di atas, dapatlah dilihat bahwa;
sebagian besar dari waktu hidup seseorang dipergunakan untuk bertukar pikiran atau berkomunikasi dengan orang lain, mulai dengan orang tua, sanak-saudara, kawan-kawan dan teman-teman sejawat, dengan atasan atau bawahan kita. Pendeknya, dengan segala macam lapisan masyarakat, dimana saja, terjadilah komunikasi itu.
Komunikasi ini secara khusus akan lahir dalam bentuk memberi dan menerima nasihat-nasihat dan petunjuk-petunjuk bagi langkah kita sehari-hari; berupa memberi dan menerima perintah dalam usaha kontrol sosial; berupa memberi atau menerima informasi, dan dalam mengemukakan pendapat tentang masalah-masalah yang dihadapi.
Singkatnya,
segala segi kegiatan dan kemasyarakatan harus disalurkan dan ditanggapi dengan bahasa.
3. Cara Memperluas Kosa Kata
Pada awal bagian ini telah dikemukakan bagaimana proses penguasaan kosa kata pada bermacam-macam tingkat usia seseorang. Semua tingkatan usia itu sebenarnya mengandung juga bermacam-macam cara bagaimana seseorang dapat memperluas kosa katanya. Cara memperluas kosa kata seseorang antara lain dapat dikemukakan: melalui proses belajar, melalui konteks, melalui kamus, kamus sinonim dan thesaurus, dan dengan menganalisa kata-kata.
3.1. Proses Belajar
Perluasan kosa kata melalui proses belajar dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan. Peranan yang aktif adalah pendidiknya. Para pendidik, melalui pelajaran bahasa dan mata pelajaran lainnya memperkenalkan bermacam-macam istilah yang baru. Istilah yang baru itu harus diberikan bersama uraian mengenai gagasan yang tepat. Kesalahan atau kekurangcermatan akan mengakibatkan anak didik salah dalam mewarisi pengertian yang tepat.3.2. Konteks
Yang dimaksud dengan konteks adalah;lingkungan yang dimasuki sebuah kata.
Dan sesungguhnya, dalam banyak hal kosa kata diperluas melalui sebuah konteks, baik lisan maupun tertulis. Pengertian kata yang diperoleh dengan cara itu tergantung dari ketajaman orang yang mengamati teks itu, atau bermacam-macam teks lainnya yang juga mengandung kata yang sama.
Konteks dapat membuat perbedaan pengertian yang sangat menyolok. Bahkan kombinasi yang sama dari kata-kata dapat menghasilkan makna yang sangat berbeda dalam lingkungan kontekstual yang berlainan, misalnya:
Saya bisa membaca.Ia menelan bisa ular itu.Resi itu bertapa bertahun-tahun di gua itu.Ia tidak menyampaikan resi surat itu kepada ayahnya.Rumahnya terletak dekat tambang batu bara.Kapal tambang itu terbalik antara kedua pulau itu.Roman orang itu masih terbayang dalam ingatan saya.Ia telah menyelesaikan roman itu dalam sehari.
Kita dapat memperbanyak contoh-contoh di atas. Dari contoh-contoh yang singkat di atas tampak jelas bahwa konteks sangat banyak membantu menetapkan arti sebuah kata.
Pada waktu berjumpa dengan kata-kata baru, kita harus mengamati konteksnya untuk memperkirakan makna kata itu. Bila kita sungguh-sungguh waspada dan mengamati dengan seksama, maka konteks itu sendiri bisa memberi kepada kita gagasan yang jelas dari kata-kata yang baru dijumpai itu. Sehinggga pada saat kita berjumpa sekali lagi dengan kata itu dalam konteks yang mirip atau berlainan, kita akan teringat kembali kepada perkiraan makna yang dahulu. Di sini semakin pasti bagi kita, apakah perkiraan kita itu tepat atau tidak.
Proses yang terjadi berulang kali itu lambat laun memperbanyak kosa kata yang tertera dalam ingatan kita. Semuanya bersama-sama membentuk perbendaharaan kata atau kosa kata kita.
Kosa kata atau perbendaharaan kata itu tidak lain daripada;
daftar kata-kata yang segera kita ketahui artinya bila mendengarnya kembali, walaupun jarang atau tidak pernah digunakan lagi dalam percakapan atau tulisan kita sendiri.
Proses pemahaman melalui konteks tidak selalu mudah seperti digambarkan di atas. Kadang-kadang dirasakan bahwa sebuah konteks sangat membingungkan, terlebih-lebih kalau kita membaca tanpa kewaspadaan, misalnya:
Bisa ular bisa membunuh orang.Tambang kapal tambang itu putus semua.Tanggal dua gigi saya tanggal dua.
Contoh-contoh di atas agak membingungkan karena bersifat ambivalen (dua hal yang bertentangan). Konteks yang lebih luas barangkali dapat juga membantu kita memecahkan ambigunya.
Banyak kata sering dijumpai, namun tidak pernah ditangkap artinya secara tepat. Kadang-kadang terjadi bahwa kita telah menetapkan makna suatu kata secara meyakinkan, tetapi kemudian ternyata dugaan itu salah sama sekali. Kita sering mendengar kata-kata seperti: manipulasi, tender, subsider, eksepsi, dan sebagainya, tetapi apakah kita mengetahui maknanya dengan tepat? Kekurangtepatan tanggapan terhadap arti sebuah kata, sering membawa akibat yang besar, yaitu perubahan makna.
Menghadapi bahasa lisan, metode memahami kata melalui konteks ini sangat besar manfaatnya. Dalam menghadapi sebuah ceramah atau pidato, hadirin atau pendengar tidak akan menghentikan pembicara hanya sekedar untuk menanyakan makna sebuah kata yang baru saja diucapkan. Kalau hal ini diperkenankan, maka betapa terganggunya uraian lisan itu, karena setiap kali akan dihentikan oleh seorang pendengar hanya untuk mengetahui makna sebuah kata.
Pendengar harus memiliki ketajaman untuk menganalisa makna kata yang dipergunakan itu. Jalan lain tidak ada. Ia bisa mempergunakan sebuah kamus, tetapi berarti ia akan menghilangkan waktu untuk mencari makna kata itu di kamus dan tidak memberikan perhatian pada bagian uraian lisan berikutnya.
Bagaimanapun juga,
memperluas kosa kata melalui konteks merupakan sebuah cara atau metode yang terbaik.
Cara ini, yang biasa dipergunakan juga oleh para leksikograf (orang yang ahli dalam penyusunan kamus),
- yang biasanya juga dicantumkan dalam kamus contoh-contoh penggunaan kata di dalam suatu konteks kalimat,
- membuat kita lebih sensitif terhadap makna kata yang didengar atau dibaca.
Cara inilah yang memberi sumbangan terbesar dalam perluasan kosa kata seseorang.
***
Tugas Latihan
Apa makna kata yang dicetak miring di bawah ini!
1. Tenaga teras sudah hadir semua di tempat upacara.2. Mereka mengambil teras pohon itu untuk dijadikan tiang utama.3. Ia sudah menunggu sejam lamanya di teras depan.Yang mana dari ketiga kata di atas adalah kata yang sama?
4. Wajahnya berseri kegirangan karena lulus dalam ujian.5. Pertandingan berakhir dengan seri.6. Seri cerita itu sudah berakhir beberapa waktu yang lalu.Ketiga kata seri di atas adalah: homonim, polisemi?
7. Ia memang orang yang sangat kritis dalam setiap masalah.8. Tempat itu sangat kritis karena setiap tahun dilanda banjir.Kata kritis merupakan homonim yang homofon atau homograf?
Gabung dalam percakapan