Portal #01 - Kandas
Hari telah jauh melewati titik kulminasinya, sang mentari telah tumbang larut dari puncaknya. Malva masih fokus mengemudikan mesin roda empat 4x4 nya menyusuri jalanan aspal agak lebar, di daerah Turangga, kota Paris van Java.
Temannya lulusan satu SMA, Ato duduk di bagian belakang mobil itu. Sedang teman lama satu SMP, Dijah duduk di depan, di kursi kiri. Tiga pasang mata mereka, beredar ke kanan dan kiri. Terkadang pula mata mereka menyusuri rumah-rumah sepanjang jalan. Bagi tugas, Malva fokus memperhatikan jalanan dan tetap waspada terhadap lalu lintas yang lalu lalang, sedang Ato menyusuri pandangannya sebelah kanan jalan, dan Dijah menelusuri sisi kiri jalan.
Mereka bertiga, memang sedang mencari sesuatu seharian ini. Yaitu rumah yang menyewakan kamar kos-kosan. Dari pagi mereka telah mengitari Kota Kembang tersebut. Dan, sampai saat ini mereka belum menemukannya, sedangkan redupnya cahaya mentari telah membalut kota itu.
"Malv! Éh itu ada rumah besar, di teras ada keluarganya yang sedang duduk-duduk sore, mungkin bisa ditanya ...," tiba-tiba Dijah melantingkan begitu saja kalimat, dan tetap menatap rumah itu yang ada di kiri jalan, dan melanjutkan, "dari tadi kita belum dapat kos-kosan yang kalian cari, gak ada salahnya coba tanya, siapa tahu ...".
Dijah adalah teman sepermainan Malva waktu kecil sampai seusia SMP, ketika orang tuanya dan orang tua Malva tinggal satu kota, di Bengkulu untuk tugas dari pemerintah. Kini Dijah tinggal di kota Bandung ini, tempat ia melanjutkan sekolahnya. Malva sengaja mengajaknya untuk membantu sebagai petunjuk mencari kamar kos-kosan.
Esok lusa saat Malva telah berilmu agama, baru ia tahu ada perintah dari Sang Pencipta untuk “ghadul bashar” yakni menundukkan pandangan ketika terlihat seseorang lawan jenis yang bukan mahram kita. Dan, lebih dari itu dilarang oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk bercampur baur dengan lawan jenis yang bukan mahramnya.
Baiklah, kita ikuti saja kisah panjang si Malva ini - sebuah perjalanan yang kelak membawanya mengalami berbagai perubahan, digerakkan oleh ambisi-ambisinya, hingga berujung pada perbaikan diri dan pelajaran hidup yang begitu berharga.
Malva dan Ato, sejatinya tinggal di ibukota, dan satu sekolah. Mereka berdua telah lulus dari SMA Negeri 3 Teladan di bilangan Setiabudi, Jaksel.
Mereka berdua telah sepakat akan tinggal sementara di Bandung untuk mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa di perguruan tinggi negeri yang dinamakan Proyek Perintis 1 (PP1). Malva dan Ato berencana membidik sekolah idamannya Institut Teknologi Bandung (ITB), sebagai jurusan utama yang dipilihnya.
Malva ingin masuk di Jurusan Arsitektur atau Senirupa ITB. Pilihan itu dikarenakan ketika di Jakarta telah mengikuti tes psikologi di Fakultas Psikologi UI, dan berdasarkan kepribadiannya, ia cocok dijuruskan di jurusan Arsitektur atau Senirupa. Mantap sudah!
Proyek Perintis 1 sejatinya bisa diikuti dari kota mana saja, termasuk dari ibukota, walaupun memilih sekolah di lain kota sebagai pilihan jurusan dan sekolahnya. Namun, kabar-kabari katanya jika mengikuti PP1 di kota sekolah yang dibidik, itu menjadi skala prioritas diterima di sekolah tersebut.
Maka, Malva dan Ato pun berhasrat mengikuti PP1 di kota tempat ITB berada. Untuk itulah mereka akan "ngekos" sementara waktu. Dan, pada hari-hari sebelum hari tes PP1, mereka juga akan mengikuti suatu Bimbingan Tes Belajar, sebagai persiapannya.
Benar juga, pikir Malva, seharian capek mencari kos-kosan, dan hari telah sore, waktunya "cooling down" mengantar pulang Dijah ke rumahnya kembali. Belum lagi mobil yang dikendarai adalah jenis jip, yang tak senyaman mobil sedan. Pun, jangan-jangan orang tua Dijah akan bertanya-tanya, kemana saja seharian anak satu ini. Zaman itu belum ada gadget Android, sehingga tidak bisa begitu saja langsung memberi kabar.
Di samping itu entah tak terpikir mencari iklan kamar kos-kosan, misal di koran atau misal pusat informasi kampus sekolah, tempat para mahasiswa mendapatkan info kos-kosan. Dijah tak tahu bagaimana mencari informasi tersebut, sehingga ketika Malva dan Ato menjemput di rumahnya daerah Buah Batu, ya langsung jalan saja.
Baiklah, untuk hari ini terakhir kali dicoba untuk menanyakan rumah tersebut. Malva langsung menghentikan kendaraan offroad nya, memarkir di pinggir jalan yang cukup lebar. Mematikan mesin, gak pake lama turun dan melangkah menuju teras rumah besar itu tempat keluarga itu duduk-duduk santai. Dijah dan Ato menunggu di mobil.
Keluarga rumah besar itu, serta merta memandang ke arah datangnya Malva yang semakin mendekat. Wajah-wajah bertanya, siapa? Ada apa?
"Permisi ...," Malva menyapa, lalu melanjutkan, "mohon maaf mengganggu sebentar, apakah rumah atau keluarga ini menyewakan kamar untuk dikosin?" paras dan hati Malva penuh harap dan menatap satu persatu keluarga tersebut, di antaranya ada ibu paruh baya dan seorang bapak.
Ibu paruh baya langsung bereaksi, "Eee ... rumah kami enggak ngekosin, kang ...," sejenak, tapi lanjut bertanya, "Emang akang, cari kos-kosan ya?" dengan logat Sundanya yang kental.
"Iya bu ...," singkat jawaban Malva.
Kemudian, ibu itu bertanya lagi, "Kenapa kang kok mau ngekos?"
Malvapun menjelaskan, panjang lebar tujuan ia dan temannya Ato ingin ngekos jauh-jauh dari ibukota.
Ibu paruh baya itupun memandang ke bapak di sebelahnya, yang sepertinya suaminya. Entah mungkin memakai bahasa hati ke hati, seperti ada yang mereka bahas, tanpa suara, hanya ekspresi wajah. Bapak itu pun, membelalakkan matanya, dan mengangkat bahu.
Malva merasa tak ada lagi yang perlu dibicarakan dan diharapkan, akhirnya ia beranjak dan pamit, "Ya udah bu, bapak, aku dan teman-teman mau lanjut ... terima kasih, permisi ...," Malva rada lemes.
Ibu dan bapak itu tersenyum, "Mangga ..."
Malva membalikkan badan, melangkah menuju mobil, tempat Ato dan Dijah menunggu dengan cemas. Namun, masih terdengar bisik-bisik antara ibu dan bapak itu.
Satu menit kemudian.
Dan, Malva hampir melewati pintu pagar halaman rumah itu yang luas menuju mobil.
"Kang! Sebentar ...!" terdengar suara ibu paruh baya itu seakan menarik baju t-shirt outfit gaya tentara yang dipakai Malva, sehingga langkahnya tersendat, dan berhenti.
Malvapun terkesiap, ada apa? Apa tadi aku tidak sopan? Sehingga ibu itu marah? Lalu, ia membalikkan badan menghadap ibu dan bapak tersebut.
Ibu itu melambaikan tangan sambil berdiri, bapak di sampingnya masih duduk di kursi. "Sini Kang ...!"
Malvapun heran, dan berjalan mendekati ibu dan bapak itu kembali. Sepertinya ibu tersebut begitu antusias ada yang hendak disampaikan. Malva sambil bergegas, bertanya dalam hati, ada apa? Urusan apa? Kenal saja belum, bertemu pun baru.
Ketika telah berhadapan sejarak 3 langkah, ibu itu berkata, "Begini, akang ... Baru saja kami bincang-bincang dengan Bapak, melihat kalian anak-anak serius sekali jauh-jauh dari Jakarta, dan semangat mengikuti tes pendaftaran sekolah di sini demi keterima di ITB ...," ibu menghela nafas sedikit untuk menjeda penjelasannya, "jadi di lantai atas ada kamar kosong, dan juga ada kamar mandinya, kami pikir tak ada salahnya kami sewakan buat kalian berdua."
Ibu itu tersenyum ramah "welcome" banget.
"Mana teman anak yang satu lagi?" mengubah panggilan "akang" menjadi "anak" membuat vibes dekat, hangat, dan memberi kemudahan. Bapak di sebelahnya pun tersenyum cerah, ekspresi selamat datang.
Malva terpana, kakinya melekat di tempat ia berdiri, seakan tak bisa geser. Iapun mendadak bungah dan lega. Hilang sudah rasa capek, "Beneran nih bu?" logat Betawinya tak bisa ia tahan.
Sementara Ato dan Dijah di mobil yang berjarak sepelemparan batu, tak sanggup mendengar perbincangan Malva dan ibu pemilik rumah besar. Mereka terlihat terheran-heran, ada apa kok Malva balik lagi menuju ibu dan bapak yang di teras tersebut.
Anggukan dan senyuman Ibu dan bapak pemilik sebagai jawaban, "Tapi nak, kamu dan temanmu lihat dulu ke atas, dan kami pikirkan juga berapa harga sewanya."
"Aku bilang ke temanku ya bu ...," Malva membalas anggukan itu, tak menunggu lama dan bersegera ke mobil, sebelum ibu dan bapak pemilik rumah besar berubah pikiran.
Akhirnya, Malva dan Ato melihat kamar tidur di lantai atas rumah besar itu yang terletak di bagian belakang rumah. Harga sewanyapun pantas.
Sore itu Malva dan Ato mengantar Dijah pulang ke rumahnya, dengan rasa puas.
Hari-hari berikutnya, kegiatan Malva dan Ato setiap pagi berangkat untuk mengikuti bimbingan tes belajar persiapan PP1 di suatu bimbingan tes kota Bandung. Pulang dari bimbingan tes terkadang siang atau sore hari.
Ibu dan bapak pemilik rumah besar sangat baik dan ramah. Sesekali mereka menyediakan snack, bahkan makan siang atau makan malam, yang padahal biaya sewa kos tidak termasuk fasilitas tersebut.
Suatu hari, di pagi hari Malva dan Ato, seperti biasanya akan berangkat ke tempat bimbingan tes. Namun, Malva ada sedikit masalah.
"To, perut gué sakit, ...," sambil memegang perut bagian bawah, Malva meringis.
Ato agak bingung, "Kenapa loe? Bérak loe ga beres ya? Apa loe masuk angin mungkin? Maag kali ya ...?"
Malva sejatinya ia tahu sakit perut apa, karena ketika di Jakarta terkadang sakit perut seperti ini datang begitu saja. Lalu ia menjawab pertanyaan Ato, "Gué terkadang sakit perut kayak gini, ... kagak bisa kentut, ... jadi saluran buang air besar kayak mampet gitu ...," Malva agak agih terbata-bata, meringis, dan memegang perutnya, lantas lanjut bilang, "loe berangkat aja ke bimbingan tes, pakai aja mobilnya, ... tolong gué diizinin dulu."
"Loe ga pa pa, gué tinggal? Ntar kalo ada apa-apa sama loe, gimana? Emang perut loé kok bisanya begitu, kenapa?" Ato menghela nafas, lantas, "ada-ada aja loe ...".
Malva menatap dan meyakinkan Ato, "Ga pa pa, tinggal aja. Gue udah biasa sakit begini. Biasanya gue baringan terus konsentrasi biar kentut, nanti kalau udah kentut, ya udah beres," jeda sebentar lanjut, "gue begini nih, soalnya gue khan pernah sakit usus buntu, trus dioperasi bedah. Ternyata pas dioperasi, ketahuan usus buntu gué tuh, udah pecah. Jadi kotoran udah nyebar sebagian di rongga perut. Waktu sakit itu untung gué langsung dibawa ke IGD, langsung masuk ruang operasi. Gué lihat perut gué bagian kanan agak bawah dispidolin, ditandai sebelah mana yang mau dibelék, udah kayak kerajinan tangan aja ... he-he-he ...," Malva masih sempat bercanda, padahal sambil menahan sakit.
Ato menyimak dengan perhatian, dan bertanya, "Emang kalau usus buntu udah pecah, dan nyebar akibatnya apa?"
"Ya, tubuh keracunan lah, loe bayangin misal jantung, dan paru-paru kena tinja loe apa akibatnya coba? Matilah!" Malva ingat kembali peristiwa ketika dioperasi perutnya, lantas, "nah, untung gué gak mati, kalo gak loe sekarang mungkin gak lihat gué di sini, he-he-he."
Malva lanjut dengan penjelasannya, "Penyebaran kotoran di rongga perut gué waktu itu belum sempat nyebar kemana-mana, trus perut gue dibersihin. Waktu opname rawat inap paska operasi ada selang masuk ke perut gue, kayaknya buat buang kotoran yang masih tersisa. Tapi kayaknya masih ada bekasnya, walau sudah steril. Nah, akhirnya gué kadangkala gak bisa kentut 'n berak gini."
"Udéh loe buruan berangkat To, entar loe telat lagi gara-gara gué, udéh jam berapé nih!" Malva mengingatkan.
Ato terkesiap, "Ya udah, gué berangkat yé, semoga loe cepet sembuh. Mau sekalian dibeliin obat gak?"
"Kagak usah, obat apaan lah, obatnya ya kentut itu ... he-he-he," sahut Malva, tertawa campur meringis. Bagaimana tidak, rasanya perut tidak bisa buang angin, keras, kaku seperti kram.
Dan, ternyata sampai Ato pulang dari bimbingan tes, Malva belum sanggup buang angin, apalagi buang air besar.
Hari kedua, Malva masih sama kondisinya, bahkan Malva semakin lemas. Perutnya semakin mengeras. Sakit sekali. Ato bingung, tak tahu akan berbuat apa.
Hari ketiga, Malva tidak hanya tak bisa buang angin dan tak mampu buang air besar, lebih dari itu apa saja yang ia makan, keluar dari mulutnya , dia muntahkan kembali. Kondisinya semakin lemah, dan parah. Gestur, mimik wajah Ato semakin panik.
"Loe gue bawa ke Rumah Sakit aja, Malv ... gimana?" Ato memberi usul yang memang pada saat pantas dilontarkan, lalu "perut loé udah kayak batu, mana loé muntah mulu, gak ada makanan sedikitpun yang bisa masuk .." Ato sangat tegang.
Malva, bergeming. Ia hanya berbaring di tempat tidur kamar kos tersebut. Lama ia berpikir, mempertimbangkan apa yang harus ia lakukan. Sementara perutnya membatu, menyulut rasa sakit yang luar biasa. Semacam kram, tapi ini di perut.
Jika dia ke rumah sakit, tentu mesti memberi kabar ibu dan ayah di Jakarta, mereka pasti panik. Sebenarnya di Bandung sini ada saudara yang bisa dimintai bantuannya. Mereka adalah suami istri dengan 3 anak. Sang suami seorang dokter, Malva memanggilnya "pakdé". Istrinya adalah kakak ibunya, ya masih budé terhadap Malva. Dulu ketika Malva kecil, sering menginap di rumah mereka yang besar, di Bandung ketika keluarga Malva liburan akhir semester sekolah.
Tapi, ... Malva tak mau mereka repot gara-gara dia. Malva berada di Bandung saja, ia tak memberi tahu keberadaannya kepada keluarga tersebut, sejak awal.
Pedih perutnya semakin meliputi dirinya. Keringat dingin mengucur.
Malva pun mengangguk, "Ya udah To, kita ke rumah sakit, gué udah gak tahan ..."
Maka, ga pake lama, Malva berjalan tertatih-tatih, sambil bersandar pada Ato. Ato membantu menuruni tangga dari ruang tengah kamar kos tersebut, lanjut menuju mobil. Bergegas menuju salah satu rumah sakit di kota itu.
Sesampainya di Instalasi Gawat Darurat rumah sakit, Malva semakin lemah, sulit berdiri karena menahan rasa sakit perutnya plus mual yang berkepanjangan, akibat tak ada makanan maupun minuman yang masuk ke perutnya. Akhirnya ia langsung dibaringkan di brankar (tempat tidur beroda untuk memindahkan pasien Instalasi Gawat Darurat), lalu didorong dan bersegera dibawa ke ruang rawat pasien Instalasi Gawat Darurat.
Dokter jagapun segera memeriksa, dan bertanya-tanya mengapa Malva sampai sakit seperti ini. Malva pun menjelaskan dari pertama dia menderita sakit usus buntu, sejak kelas 1 SMA di Jakarta.
Setelah itu, dokter jaga bincang-bincang dengan para perawat, seperti ada yang dirembugkan dengan serius.
Ato menunggu cemas di ruang tunggu, dan sesekali menjenguk Malva ke ruang periksa.
Ternyata, dokter spesialis bedah yang berwenang menangani penyakit usus buntu, tidak sedang berada di tempat. Kasus sakit yang diderita Malva selayaknya ditangani dokter spesialis bedah. Krusialnya, kondisi Malva mesti segera ditangani.
Malva, menahan sakit dan mulai dibayang-bayangi kematian. Malva membayangkan, jika ususnya pecah, tentu akan meracuni dan menginfeksi seluruh organ tubuhnya, resiko nyawa melayang. Pikirannya bercampur aduk dengan rasa pedih perutnya yang kian membatu.
Malva berusaha mengurangi rasa sakitnya, terkadang ia duduk selonjor di atas brankar, lalu berganti berbaring, duduk lagi, berbaring, duduk ...
Saat itulah Malva ingat Rabbnya, akankah ia siap menghadap kepada-Nya? Malva teringat dan terbayang ketika kelas 4 SD, melihat tetangga teman mainnya, berangkat shalat Jum'at, kenapa dia tak tahu orang Islam mesti shalat Jum'at. Malva merasa belum sempat mengetahui ilmu agama dan mengamalkan, siapkah ia mati?
Mengapa ketika usia belasan saat SMP dan menginjak usia di SMA, ia tak bersegera mencari tahu, apa yang akan ia hadapi setelah mati? Malah sibuk ikut kegiatan remaja, seperti klub basket dan memperbanyak teman.
Ada sesal di kalbu Malva.
Esok lusa, saat Malva telah matang usianya, dan ia berusaha belajar ilmu syar'i setiap hari di rumah, ia akan tahu bahwa,
Demikianlah, permisalan manusia di dunia,
1. di antara mereka ada yang bersiap dan sadar jika Malaikal Maut datang, dan tidak merasa menyesal.
2. di antara mereka ada yang terperdaya, tertipu dan suka menunda-nunda, dan akhirnya menelan penyesalan yang pahit, ketika waktu melanjutkan perjalanan (menuju akhirat - ed.).
(Talbis Iblis bab #13 Talbis Iblis terhadap Manusia secara Umum berupa Angan-angan yang Panjang karya Ibnul Jauzy)
Karena rasa sakit yang tak tertahan, Malvapun serta merta memanggil perawat, "Suster, perutku sakit sekali. Apa tidak diberi obat, agar hilang rasa sakitnya ..."
Para perawat berdatangan, dan menenangkan dengan kata-kata dan kalimat yang membuat Malva sabar. Lalu mereka beranjak, menemui dokter jaga. Berbincang-bincang kembali. Dokter jaga tak berani melakukan tindakan terhadap Malva, karena ia memang bukan dokter spesialis bedah.
Akhirnya dokter jaga mencoba menghubungi dokter bedah melalui telpon, dan berhasil, lalu menjelaskan kondisi Malva.
Setelah berbicara dengan dokter bedah via telpon agak lama, dokter jaga menemui Malva, menyampaikan pesan dokter bedah, "Dokter bedah menyampaikan, perut kamu mesti dibedah lagi, dokter bedah mau akan datang ke sini ... bagaimana?"
Hah! Dibedah lagi, dibongkar lagi? Malva mati kata, ia bergeming. Ia ingat saat awal sakit usus buntu, mengapa pula dokter yang bernama dokter Bayu yang praktek di rumah sendiri, dan okter itu, yang mengobati dia, terlambat menyuruh ke rumah sakit?
Akibatnya begitu masuk IGD, dokter bedah di rumah sakit Pelni di daerah Bendungan Hilir Jakarta, berpikir hal itu darurat, langsung memerintahkan untuk dibedah. Padahal operasi usus buntu yang normal, biasanya puasa dulu, lalu keesokannya baru dioperasi. Malva masih sempat melihat perutnya dispidoli, sebelum dibius total. Dan, ternyata usus buntunya telah pecah, alhamdulillah Malva masih tertolong, isi usus belum sempat menyebar ke organ tubuh lainnya.
Kini kejadian itu akan terulang lagi. Ia akan mengalami kondisi di antara hidup dan mati?
Nyeri perutnya masih menyayat-nyayat, akhirnya Malva bilang ke dokter jaga, "Iya dok bedah saja, jika hanya itu obatnya, aku sudah tidak kuat menahan sakit, sakit sekali dok ..."
Baiklah, lalu dokter jaga mempersiapkan segala sesuatunya, sambil menunggu kedatangan dokter bedah. Di antaranya juga surat pernyataaan wakil Malva - biasanya keluarga pasien - untuk ditandatangani, dan menerima dengan suka rela, bila terjadi hal yang tidak diinginkan, seperti kematian pasien akibat menjalani operasi bedah.
Dokter jaga, menyerahkan surat itu untuk ditandatangani Ato, yang sedang menunggu dengan tegang pula. Namun, Ato menolak, tentu saja menolak, karena Ato sejatinya bukan keluarga Malva, ia hanya teman.
Dokter jaga sempat bingung, lalu siapa yang akan menandatangani surat pernyataan tersebut?
Baiklah, dokter jaga lalu menemui Malva yang sedang menanggung nyeri perut yang berkepanjangan.
Lalu ia menjelaskan, "Maaf adik Malva, sakit ya, sabar ya ... ada yang perlu saya sampaikan," dokter menahan nafas matanya redup seakan ikut merasakan nyeri yang diderita Malva, lalu, "Adik Malva ini khan mau dioperasi oleh dokter bedah, sambil menunggu kedatangan dokter bedah, ada yang perlu dilengkapi secara adminitrasi, yaitu ada keluarga adik Malva yang mesti menandatangani surat pernyataan, untuk menyetujui operasi bedah tersebut ..."
Malva ingat, dulu ketika dioperasi usus buntu memang diantar ibunya, dan ia tak mengetahui jika ada proses administrasi seperti itu. Kini ia baru tahu, prosedurnya harus begitu, kenapa ya?
Pikiran Malva menerawang. Mungkin, dikhawatirkan akan ada apa-apa, misal pasien yang dioperasi meninggal, sehingga tidak ada tuntutan kepada dokter atau pihak rumah sakit dari keluarga pasien.
Hah! Meninggal, mati? Berarti, Malva memang betul-betul antara hidup dan mati.
Lalu, siapa yang akan tanda tangan surat pernyataan itu? Ibu dan Bapak di Jakarta, belum tahu kalau Malva sakit, saudara yang di Bandung belum sempat pula diberitahu, pun akan merepotkan sekali, kalau tahu.
Nyeri perut Malva, semakin tak tertahankan. Pedih, perih, campur aduk. Jika tak segera dioperasi usus buntu Malva pecah bagaimana? Malva gemetar, dan menggigil.
Akhirnya, dengan jantung berdebar-debar, Malva ambil keputusan, "Dok, aku tanda tangani sendiri saja ..."
Dokter jaga terperanjat, "Apa tidak sebaiknya orang tua adik Malva, atau mungkin ada saudara di Bandung sini?" dokter mengusulkan.
"Repot dok, ibu dan bapakku di Jakarta, aku belum beritahu, kalau aku sakit. Saudara di Bandung juga nanti-nanti saja memberitahukannya ... Aku udah gak tahan dok, sakit sekali," bulir-bulir air dingin dari kening Malva, menjagung. Matanyapun mulai menghangat menahan rasa sakit yang amat sangat.
"Adik Malva, yakin? Nanti jika ada apa-apa mau menanggung sendiri?" Dokter jaga memastikan tekat Malva.
"Iya dok ..., habis bagaimana lagi?" Malva merasa terdesak, bercampur dengan rasa ingin segera sembuh dan hilang rasa sakitnya. Malva pikir, mati pun juga akan hilang rasa sakitnya, Malva telah berada pada titik kepasrahan penuh kepada Rabbnya.
Maka, penandatanganan surat pernyataan dilaksanakan, disaksikan Ato. Lalu, Malva menunggu nasib berikutnya. Dokter spesialis bedah bersiap menuju rumah sakit.
Saat-saat tegang bercampur aduk dengan nyeri. 15 menit, 30 menit, 45 menit, 1 jam ... waktu bagaikan ulat merayap menggeliat sangat lambat.
Sekonyong-konyong, dalam rasa sakit yang memuncak dan keadaan tubuh lemah, Malva sayup-sayup mendengar dering telpon di Gedung IGD ini. Entah siapa yang menelpon, Malva juga tak mampu mendengar percakapannya.
Tak berapa lama, beberapa perawat mendatangi Malva yang berbaring di tempat tidur pasien IGD tak berdaya, dan salah satunya berkata, "Baru saja, dokter bedah menelpon, mengatakan bahwa sebelum dokter tiba di sini untuk melakukan operasi pembedahan, dia menyuruh kami mencoba memompa perut adik Malva ..."
Malva hanya sanggup mengangguk. Yang penting hilang rasa sakitnya.
***
Samar-samar, Malva melihat wajah seseorang, tetapi bukan dokter jaga, beserta para perawat mengelilinginya yang sedang berbaring di tempat tidur rawat inap. Ia belum pernah melihatnya. Sepertinya dokter juga dari outfit pakaiannya. Orang itu tersenyum kepadanya.
"Selamat sore, adik Malva ... bersyukurlah kamu sudah bisa buang air besar ...," Orang itu berkata dengan lembut, dan melanjutkan, "kamu tidak jadi dibedah," senyumnya mengakhiri katanya.
Malva dalam lemasnya, ingat bahwa tadi sore perutnya di pompa melalui duburnya, dan isi perutnya telah keluar semua. Ia sekarang telah dipindah dari ruang IGD di ruang rawat inap rumah sakit. Dan, orang yang menemuinya ini dengan outfit layaknya dokter, pasti dokter spesialis bedah yang sejatinya akan membedah perutnya.
***
Hari itu, hari pengumuman hasil Proyek Perintis 1 di Stadion Senayan Jakarta. Di tangan Malva telah terpegang lembaran-lembaran kertas lebar, selebar koran berita. Ia mencari-cari namanya, mengurutkan nama-nama di bagian Institut Teknologi Bandung, jurusan Arsitektur. Ternyata tak ada namanya di sana.
Malvapun murung seketika.
Ketika waktu itu di Bandung, setelah Malva sembuh dari rumah sakit dan pulang ke tempat kosnya, ia masih sempat meneruskan ikut bimbingan tes dan ikut tes masuk pendaftaran perguruan tinggi negeri.
Begitu pula, tes masuk jurusan Seni rupa ITB memang secara khusus melakukan tes, dan Malva telah mengikutinya, ternyata juga tak ada namanya di pengumuman hasil tes tersebut. Dua kali gagal sudah, Malva begitu sedihnya.
Sakit, gagal dan gagal. Malang betul nasibnya.
Maka, kandaslah sudah hasrat Malva, yang telah muncul sejak kecil. Ia masih ingat waktu kecil seusia kelas 1 SD, sering diajak ibu dan ayahnya bersilaturahim ke pamannya di kota Surabaya. Pamannya menjadi sosok figur cita-citanya sejak kecil. Ia seorang arsitek.
***




_copy_1456x2609.webp)


Gabung dalam percakapan