Portal #04 Introver
Sore itu, saat matahari mulai redup, mahasiswa-mahasiswapun telah raib dari hiruk-pikuk perkuliahan. Jalan umum di belakang komplek sekolah tinggi terasa lengang, hanya sesekali kendaraan beroda dua melintas. Malva berjalan kaki di jalan itu menuju suatu rumah kos yang terletak di tepi jalan yang hampir setiap hari ia lewati ketika berangkat kuliah.
Jarak dari rumah kos Malva yang lama, hanya setendangan bola yang paling jauh di suatu lapangan bola.
Malva mempercepat langkahnya, seolah-olah ia ingin segera meninggalkan teman-teman lamanya, saat teringat imajinasi tarik-menarik di hati Malva, kemarin malam. Telah lama sekali, ia telah menelantarkan janjinya pada dirinya. Waktunya semakin sedikit. Oi, mana tahu Malva kapan mati. Ia harus berlomba dengan waktu, waktu bagaikan pedang. Jika ia lengah, maka waktu akan memangkasnya.
Tanpa terasa, Malva telah berdiri tegak di hadapan gerbang rumah kos itu. Rumah kos baru yang sering ia lihat saat sering melewati jalan itu. Jalan itu pula, adalah jalan pulang dari gedung kuliah Arsitektur menuju rumah kosnya yang lama.
Dahulu, Malva tak terpikir sama sekali akan pindah ke rumah kos yang ada di hadapannya, kini. Mengapa? Karena rumah kos itu kosong tanpa penghuni. Mungkin karena baru, atau memang tidak ada mahasiswa yang berani mengawali untuk menghuni disitu.
Namun, sejak Malva berubah pikirannya seratus delapan puluh derajat dalam memaknai hidup ini, maka justru rumah kos yang seperti inilah yang ia cari. Malva ingin suasana ketenangan, tepatnya menenangkan diri. Ia ingin menyendiri dan banyak-banyak merenung.
Jika Malva tahu harus bagaimana waktu itu, mungkin ia sudah memutuskan untuk berhenti kuliah dan "nyantri" di suatu pondok pesantren. Ah, sudahlah. Yang di Atas Langit Mahatahu yang terbaik untuknya. Tinta telah kering, semua telah tertulis di catatan takdir-takdir. Mau kembali masa lalu ya tak mungkin.
Rumah kos itu terbangun di atas sebidang tanah yang memanjang ke belakang. Berkisar sembilan meter lebar depan, sedangkan ke belakang sangat panjang. Entah berapa, Malva tak bisa mengira-ngira. Bangunan rumah kos dua lantai itu berbentuk huruf U, mengelilingi sebuah taman terbuka di bagian tengah lahan tersebut. Seluruh kamar kos di rumah itu masih baru dan masih kosong semua.
Malva masuk ke halaman rumah kos itu, dan disambut penjaga rumah kos yang ternyata seorang anak muda, bermata lebar, rambut ikal. Memakai kaus oblong putih.
"Silahkan bang, mau cari kamar kos?" sambutnya dengan ramah, dan seharusnya ia memang begitu agar rumah kosannya laku.
Malva mengangguk sambil tersenyum. Sejak kejadian entah di alam mimpi atau di alam bawah sadar Malva malam itu, ia bukanlah lagi seorang yang cuék dan tak peduli kepada orang lain. Ia telah mengubah drastis tampilan dan perilaku dirinya menjadi orang yang santun, ramah dan berusaha menjaga sikap.
Karena, Malva yakin dan percaya, jika ia berusaha memperbaiki diri meniru-niru orang baik, maka kebaikan-kebaikan akan datang dengan sendirinya kepadanya seperti tersedot magnet yang kuat.
"Saya bisa lihat yang di lantai atas?" tanya Malva sembari mendongakkan kepala dan matanya memberi isyarat ke lantai atas rumah kos itu. Ia punya ide, jika ia tinggal di kamar lantai atas tentu lebih tenang suasananya.
Penjaga rumah kos tersenyum memberi isyarat tangan, silahkan.
Benar saja, setibanya di lantai atas, Malva langsung menjatuhkan pilihan kamar yang berada di sisi Barat. Rumah kos tersebut menghadap ke Selatan. Kamar berukuran tiga meter kali empat meter dengan kamar mandi di dalam itu cukup nyaman. Tak ada ruang makan, ruang tamu dan dapur layaknya rumah kos kontrakan Malva yang lama.
Sempit memang, akan tetapi untuk apa tempat tinggal luas, namun hati sesak dan sempit. Lebih baik, tempat tinggal sempit tetapi hati lapang, luas dan segar.
Maka, pada sore itu juga, Malva mulai memindahkan barang-barangnya sedikit demi sedikit dari rumah kos kontrakan yang lama menuju kamar kosnya yang baru. Semakin cepat, semakin baik. Malva sangat takut jika terbetik dalam pikirannya, kembali ingin bersama-sama temannya, yang hal itu akan menghalangi dirinya untuk berubah menjadi dirinya sendiri.
"Pindahan sekarang Malv, seriusan nih?" Rudi bertanya, kelopak mata membelalak, alis matanya terangkat, mulutnya agak terngaga, terheran-heran.
Malva tak bersuara, terlihat simpul senyumnya, menatap temannya itu penuh arti, sambil mengangkuti barang-barangnya.
***
Telah berbilang hari, Malva tinggal di kamar kos yang baru. Beberapa hari pula, ia bingung apa yang harus ia lakukan. Suasana baru yang sepi dari teman-teman lamanya membuat canggung dirinya.
Kadang kala, apabila ia bosan di dalam kamar, Malva keluar dari kamarnya. Ia duduk-duduk di teras lantai atas. Ada semacam balkon luas yang disediakan di rumah kos itu. Malva melempar pandangan ke taman di bawah, ke jalan di depan rumah kos dan menerawang masa lalunya yang enggak jelas mau kemana.
Malva kini, selalu ingat kematian. Nampak jelas dalam hidup yang ia jalani, dan sering ia dengar berita-berita kematian. Kemanakah orang-orang yang telah mati itu? Ia merasa lambat laun pasti menuju kesana, ke momen kematian itu. Ia pasti akan merasakannya. Karena ia yakin setiap makhluq bernyawa di dunia ini pasti mengalaminya. Malva tidak pernah mendengar ada makhluq di dunia ini yang hidup terus abadi. Kemanakah kalian wahai orang-orang yang telah mati?
Sore itu, angin lembut membelai permukaan kulit. Setelah melakukan kegiatan perkuliahan pagi sampai siang, seperti biasa Malva duduk termenung di balkon rumah kosnya. Pikiran melayang menembus masalalu kembali. Tanpa kesimpulan, random dan acak. Lalu, dia masuk ke kamarnya, rebahan di tempat tidur. Pandangannya masih mengapung di langit-langit.
Tiba-tiba mata Malva tertumbuk pada suatu buku yang telah ia letakkan di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Buku itu kecil, tetapi tebal dengan "cover" dari plastik lentur berwarna biru. Ia ingat, buku itu hadiah dari kakaknya ketika ia berulang tahun entah yang ke berapa.
Malva meraih buku itu, ia baca judulnya yang ada di "cover" nya. "Al Qur'an dan Terjemahannya".
Iya memang, Malva sudah sering lihat buku itu tergeletak di atas meja manapun yang ada di kamarnya. Entah di kamar kos yang lama, atau di kamar rumahnya sendiri yang ada di Johar Baru, di pusat Ibukota, tetapi sering pula ia tak tertarik untuk membacanya.
Akan tetapi, anehnya Malva merasa selalu merasa penting untuk selalu membawa buku itu kemanapun ia berada untuk tinggal. Ia juga tak tahu mengapa. Mungkin janji pada dirinya ketika belasan tahun lalu itulah begitu "nusuk banget" dalam sanubarinya, sehingga Malva merasa harus memiliki pegangan hidup yang sewaktu-waktu dapat ia gunakan sebagai petunjuk.
Kardia Malva berdetak lebih kencang tapi perlahan, dengan membaca huruf demi huruf buku "Al Qur'an dan Terjemahannya". Dari Daftar Isi, kemudian Bab Satu: Sejarah Al Qur'an, lalu Bab Dua: Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallama, dan ... pada sub Bab Perlunya Al Qur'an diturunkan, Malva terperanjat.
Malva baru kali ini memahami, ternyata agama-agama lain selain Islam telah kadaluarsa. Dan, agama-agama itu hanya untuk kaumnya saja, bukan untuk seluruh umat manusia. Semua agama-agama itu telah diganti dengan agama untuk seluruh umat manusia, yaitu Islam. Yang Maha Pencipta itu hanya satu, dan itu diakui oleh seluruh agama ataupun seluruh manusia. Maka, tidak mungkin Dia yang Maha Pencipta menurunkan aturan berbeda-beda untuk seluruh umat manusia di akhir zaman ini. Untuk itulah Al Qur'an diturunkan, dan Islam sebagai agama seluruh umat manusia. Subhanallah!
Malva baru mengerti dan mencerna ini. Sebelumnya, ia masih memahami bahwa semua agama sama baiknya, tujuannya baik semua. Jadi, siapapun dia boleh memilih agama dan keyakinan manapun, yang penting tujuannya baik semua.
Rupanya, Malva mengetahui hal yang menyesatkan, yang mungkin juga diyakini oleh orang-orang yang tidak mengetahui tentang hal ini.
Sungguh, betapa sore ini Yang di Atas Langit sana telah memberi pengetahuan dan petunjuk pada Malva melalui buku yang ia bawa kemanapun ia pergi. Seolah-olah seberkas cahaya ilmu telah melesat menerobos masuk ke dalam kalbunya. Kegelapan dan kesesatan telah berganti terangnya jalan menuju jalan yang lurus. Mudah-mudahan.
Hati Malva pun berbicara kepada dirinya sendiri, "Jika demikian selain Islam betapa kasihannya mereka."
Kemudian, akhirnya ia sangat bersyukur dan bahkan banyak-banyak bersyukur, karena ia telah dilahirkan dalam keadaan langsung telah menjadi muslim. Takdir dari Atas Langit telah memutuskan Malva telah keluar dari kandungan ibunya yang muslimah dan dari ayahnya yang muslim pula. Malva tidak perlu bersusah payah untuk mencari agama yang benar.
Setelah menyelesaikan bacaan bab dua buku tersebut, Malva terhenti sejenak. Pikirannya kembali menelusup awang-awang. Ia merasa ada sesuatu masalah lain yang sedang menghadangnya.
Kemanakah ia hendak mengetahui lebih dalam tentang Islam? Malva berpikir lagi. Yang terbayang dalam benaknya, Islam ya identik dengan masjid. Apakah ke masjid terdekat? Atau di masjid kampus, atau kemana?
Tentang Syurga dan Neraka, ingatan Malva tiba-tiba teringat buku cerita yang pernah ayahnya belikan ketika kelas satu SD.
Tentang seorang yang sholeh yang akhirnya mendapat nikmat kubur, kiamat, mudah ketika di padang Mahsyar, mendapat buku catatan amal dengan tangan kanan, amalan baiknya lebih berat, mudah melewati jembatan Shiroth, dan akhirnya masuk Syurga dengan berbagai kenikmatannya.
Malva ingat pula,
dalam cerita itu ada seorang yang jahat yang akan menerima kesengsaraan-kesengsaraan ketika dicabut nyawanya, mendapat siksa kubur, sengsara di padang Mahsyar, timbangan amal keburukan yang lebih berat, menerima catatan amal dengan tangan kiri, dan jatuh ke dalam Neraka ketika menyebrangi jembatan Shiroth.
Cerita itu terpampang kembali, begitu jelasnya di depan matanya. Sehingga, semakin meneguhkan dirinya untuk bersungguh-sungguh mencari jalannya.
Sunyi menelusup di kamar tidur kos, lalu merasuk ke segala sudut ruang kamar. Malva menatap langit-langit, tetapi pikiran dan mata hatinya menembus itu semua.
***
Suatu ketika, bapak Malva memanggilnya, "Malv kowé ke sini sebentar ..."
Hari itu, hari Ahad, hari libur. Dan, biasanya Malva di akhir minggu pulang ke rumahnya yang di Johar Baru, di pusat Ibukota.
"Dalem pak ...," Malva dari kamarnya yang di lantai atas, turun tangga dan menghampiri ayahnya yang sedang duduk di kursi goyang kesayangannya seperti biasanya.
"Lunggu - o ...," Bapak memerintah Malva untuk duduk, sembari telunjuk tangan Bapak menunjuk ke kursi di ruang keluarga dekat Bapak santai di kursi goyang itu.
Malva duduk di kursi ruang keluarga, dengan perhatian menunggu titah bapaknya.
"Bapak sebentar lagi pensiun, kamu kuliahnya masih berapa lama untuk selesai dan lulus?" lalu bapak melanjutkan, "Bapak khawatir, kalau sudah pensiun enggak bisa membiayai sekolahmu lagi." Bapak mewanti-wanti, seolah-olah ibarat lampu kuning menyala, sebelum lampu merah menyala.
Kuliah Malva memang telah berjalan lima tahun, ia belum juga lulus. Ada beberapa faktor, disamping Malva kurang semangat sebelum pindah kos, jurusan Arsitektur ISTN masih baru, terkadang ada penyesuaian mata kuliah ketika status "Terdaftar" menjadi "Diakui", ada mata kuliah yang tidak dipakai lagi sehingga hangus. Sedangkan para mahasiswa sudah mengikuti kuliahnya dan ujian. Ini membuat waktu kuliah tidak efisien.
Malva langsung terkesima, terperanjat dan pikirannya semrawut kemana-mana. Namun, hati Malva berkata, "Bapak belum tahu aku pindah kos ...," lalu Malva merenung sebentar, "Mungkin inilah saat yang tepat memperbaiki bagian dalam yaitu: hatiku dan bagian luarku yaitu: kuliahku."
Kemudian, Malva pun merespon pernyataan bapaknya, "Iya Pak insya Allah, semoga segera selesai, mohon doanya."
"Yo wis, Bapak cuma mau memberitahu itu saja," sahut Bapak terlihat lebih tenang dan lega.
Maka, sejak itu Malva mulai serius belajar dan kuliah. Apalagi ia telah pindah kos, ia bisa lebih mandiri dalam menentukan kegiatan harian tanpa dipengaruhi teman-teman yang lama.
Begitu pula, dengan hasrat ingin mengkaji Islam, membuat ia berusaha jujur, dan baik kepada setiap orang. Hal itu, menambah keseriusan dalam belajar dan kuliah. Dahulu jika ujian, ia terbawa ikut teman-temannya menyontek, tetapi sekarang Malva belajar sungguh-sungguh.
"Gilé loe, Malv ... kok sekarang nilai loe kerén-kerén sih?" tanya teman-temannya.
Ada yang "nyeletuk", "Dia udéh sadar sekarang, dulu pingsan ... he-he-he."
Nilai mid test dan ujian Malva antara A dan B. Padahal dahulu paling mentok, yang penting dapat nilai C.
Malva sempat heran juga dengan dirinya, mengapa sangat mudah memahami mata-mata kuliah arsitektur.
Lalu, ia baru ingat dulu ketika lulus SMA, khan pernah ikut tes psikologi di Universitas Indonesia, dijuruskan ke arsitektur atau senirupa. Pantas saja mudah sekali mengerti dunia arsitektur, karena telah cocok dengan kepribadiannya.
Duh, kenapa enggak dari dulu? Allah telah memerintahkan pena takdir, dan tintanya telah kering, bagaimana pula Malva bisa kembali ke masa lalu? Malva belum menyadari bahwa itu terbaik baginya.
"Loe mau daftar ikut ujian skripsi gak, Malv?" di suatu kesempatan salah satu temannya menawarkan.
Ah, tanpa sadar Malva telah menginjak masa semester terakhir kuliahannya. Malva sempat ragu,"Mampukah aku? Apa tahun depan saja?"
Namun, Malva ingat pesan bapaknya, bahwa bapak mau pensiun, khawatir tidak sanggup membiayainya lagi. Jika lihat dirinya siap apa tidak mengikuti ujian terakhir kelulusan, tidak akan siap selamanya. Jadi, bagaimana ya? Ikut apa tidak?
"Ya udah deh gué ikutan ...," akhirnya Malva memutuskan. Mantap.
Maka, inilah angkatan pertama dari jurusan Arsitektur ISTN yang akan menjadi lulusan pertama sebagai arsitek. Jika dihitung berapa orang yang mendaftar pertamakali ini, hanya 10 orang.
"Éh eloe udeh dateng Malv?" sapa temannya yang baru masuk ke ruang studio gambar Arsitektur ISTN, tempat 10 mahasiswa menjalani ujian pada tahap desain gambar dari hasil skripsi mereka.
Malva hanya tersenyum simpul tipis, dan melanjutkan desain gambar bangunan hasil skripsinya. Malva mengambil judul "Apartemen" di jalan Rasuna Said, Kuningan - Jakarta Selatan.
Hari memang masih pagi, mentari masih terasa hangat membasuh gedung dan pepohonan di jurusan Arsitektur ISTN, sekitar jam 8 pagi.
Malva dikira temannya paling pertama telah berada di studio itu. Iya, karena belum ada satupun dari 10 mahasiswa tersebut ada di ruangan studio.
Sejatinya, di hari-hari ujian akhir tahap desain gambar di studio, Malva datang ke studio sore hari, lalu dia menggambar sampai malam, lanjut sampai pagi tidak tidur. Lalu, ia menunggu dosen pembimbing untuk asistensi yang biasa datang pagi hari. Setelah asistensi, ia pulang untuk istirahat di kosannya.
Jadi, ketika siang hari meja gambar Malva di studio, tak ada Malva di situ. Seolah-olah dia tidak mengerjakan apa-apa, ketika 9 teman mahasiswa mengerjakan gambar pagi sampai sore. Di waktu sore mereka pulang. Begitu terus yang dilakukan Malva setiap hari.
Malva agak ragu apakah ia bisa lulus sebagai arsitek? Karena 9 mahasiswa teman-teman yang ikut, itu semuanya pintar-pintar, jago-jago desain. Selama kuliah prestasinya bagus-bagus. Bahkan ada temannya yang sangat pintar, dari awal tingkat pertama telah menunjukkan kecerdasannya di dunia ilmu arsitektur. Dia juga menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Arsitektur. Sedangkan Malva, selama kuliah ketika belum pindah kos, tidak semangat dan nilai-nilai hasil ujian mata kuliahnya sedang-sedang saja.
Ya, gak pa palah, yang penting bisa lulus ujian, juga udah lumayan, Bapak Malva tidak kepikiran lagi untuk bayar kuliah Malva.
***
"Halooo, assalamualaikum ... Bapak?" Malva menelpon sambil berdiri di dalam box telpon umum. Zaman itu belum ada HP Android. Malva, hatinya sedang berbunga-bunga, wajahnyapun begitu sumringah cerah.
"Ya, wa alaikumussalam, ada apa Malv?" sahutan suara Bapak terdengar di seberang sana. Jika Malva bisa melihat wajah bapaknya, tentu gestur wajah itu terheran-heran menampakkan sedikit keterkejutannya, karena jarang sekali Malva menelpon bapaknya.
"Pak, aku lulus ujian skripsi sarjana, dengan nilai terbaik di antara teman-temanku yang ikut ujian juga!" begitu girangnya hati Malva memberi kabar kepada bapaknya, setelah mengikuti pengumuman hasil ujian skripsi angkatan pertama jurusan Arsitektur Institut Sains dan Teknologi Nasional. Bahkan, nilai ujian skripsi Malva di atas mahasiswa Arsitektur yang paling jago dan paling pintar saat itu. Subhanallah.
"Alhamdulillah ..., " tentu Bapak sangat bangga dengan putra satu-satunya ini.
Tuntas sudah Malva menunaikan pesan Bapak, bahkan lebih dari itu, ia menjadi terbaik pada angkatan pertama di jurusan arsitektur kampusnya, sejarah mencatat.
Dan, takdir telah tersingkap.
***





Gabung dalam percakapan