www.izzuka.com

Portal #07 Bawah Tanah

Sobat Izzuka, Kisah Nyata ini nyambung terus. Supaya kamu enggak ketinggalan PORTAL terbaru dan hal-hal DI BALIK LAYAR CERITA yang enggak di-publish di medsos, pastikan Sobat amankan tempat di Channel Telegram resmi kami dulu >
Channel Telegram Memoar Rasa Novel


Portal #07 Bawah Tanah

          Rumah itu berdiri kaku di atas tanah Ibukota. Tembok batu batanya dilapisi cat putih yang kini telah pudar, menyisakan bercak-bercak kotor dan jamur di sana-sini. Lebarnya tak seberapa, hanya muat untuk dua kamar tidur yang dipaksakan berjajar, namun memanjang ke belakang dengan lorong sempit yang remang-remang. Ini bukanlah hunian yang mengundang senyum; ini adalah tempat di mana kesederhanaan dipuja sedemikian rupa, seolah-olah mengabaikan keindahan dunia adalah satu-satunya jalan menuju surga.

          ​Terletak di belahan sekitaran antara pusat dan selatan Ibukota yang sesak, nyaris berimpitan dengan denyut jantung kota, rumah itu terasing di tengah ritme kehidupan yang egois dan serba cepat. 

         Kusen, pintu, dan jendelanya diselimuti sisa-sisa cat murah yang mengelupas parah, tampak seperti kulit yang bersisik menahan panas dan hujan selama bertahun-tahun. Tak ada anggaran untuk mengecat ulang, atau mungkin, keindahan fisik dianggap sebagai aib di sini.

          ​Malva dan Rino kini berdiri tepat di hadapan bingkai pintu yang meranggas itu. Malva menghela napas panjang, seakan mencoba mengusir sebongkah batu yang mendadak menyumbat tenggorokannya. Sebentar lagi mereka akan melangkah masuk, mengikuti sebuah kajian yang temanya masih blur

         Di sebelahnya, Rino tampak tenang-tenang saja, wajahnya polos, tak menyadari sesuatu yang mungkin sedang membayang-bayangi.

         ​Sore tadi, saat semburat jingga di langit mulai menguning kusam setelah waktu Ashar, Malva dan Rino baru saja turun dari kendaraan umum. Mereka mendarat di mulut sebuah gang sempit di daerah selatan yang padat. Gang itu, meski sesak oleh bangunan, anehnya terasa resik dan teratur, seolah-olah ada tangan besi yang mengaturnya.

​         Malva sengaja menyeret Rino, teman kos lamanya itu. Mereka berbagi nasib di satu perguruan pencak silat dan satu jurusan di bangku kuliah. Bagi Malva, Rino adalah tipe teman yang "mauan" - mudah diajak, tidak banyak cincong. Malva membutuhkan Rino. Ia membutuhkan seorang teman untuk berbagi diskusi nanti, namun lebih tepatnya: ia takut jika harus menghadapi ini sendirian.

​         Memory tentang senyuman Amran tempo hari kembali berputar di benaknya. Amran tidak memberitahu tema kajian. Ada sesuatu yang ganjil tersimpan di kedalaman matanya. 

         Duh, baru pertama kali mau serius ngaji, kok rasanya was-was begini ya? batin Malva menjerit.

         ​Rino, si teman yang terbuka dan selalu berprasangka baik, ikut tanpa penolakan sedikit pun. Sejak awal mereka ngekos bersama, Rino adalah saksi bisu yang mengikuti setiap jengkal perubahan mental Malva. Bagi Rino, ajakan Malva adalah ajakan menuju kebaikan.

         ​Mereka menyusuri gang sempit itu, mata mereka liar mencari nomor rumah yang dituju. Hingga akhirnya, mereka tiba di depan bingkai pintu rumah Amran.

​         "Assalamu'alaikum ...," Malva melempar salam, suaranya sedikit bergetar. Sunyi. Rumah itu terasa mati, tak ada tanda-tanda kehidupan dari luar. Malva dan Rino saling tatap, kebingungan mulai merayap.

         ​Tiba-tiba, sebuah suara bariton memecah keheningan dari dalam, "Wa'alaikumussalam ..." 

         Terdengar langkah kaki berat yang makin mendekat, ketukan telapak kaki di atas ubin semen terdengar ritmis seolah mengancam. Malva dan Rino tersentak, rasa lega dan cemas berbaur menjadi satu.

         ​Pintu depan terkuak dengan derit yang memilukan.

​         "Eh, Malva dan Rino... apa kabar? Masuk, masuk ...," Amran menyambut mereka. Ia menyalami keduanya, tangannya menjabat dengan genggaman yang teramat erat, mantap, dan dingin - sama persis seperti saat pertama kali berkenalan. 

         Memang begini ya, gaya bersalamannya orang-orang shalih? Malva membatin, mencoba mencari pembenaran atas ketidaknyamanannya. Mereka benar-benar baru saja melangkah masuk ke dunia asing yang mereka baru tahu sebagai dunia orang-orang takwa.

​         Amran menggiring mereka masuk ke dalam ruangan tamu yang sempit, sesak oleh kursi-kursi model lawas yang busanya sudah kempes. Suasana di dalam rumah Amran terasa mencekam, serba apa adanya, dingin, dan kaku.

         ​"Tafadhdhal duduk ..." Amran mempersilakan, senyum cair selalu melengkapi wajah seramnya yang dihiasi jenggot kasar.

​         Kata apa itu? Tafadhdhal? Sepertinya bahasa Arab, benak Malva bersuara. Islami banget. Ada rasa takjub tipis-tipis merayap di hatinya.

         ​Malva dan Rino duduk berdampingan, mata mereka mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Biasa saja. Seperti ruang tamu pada umumnya orang yang hidup sederhana. Tapi, ada yang kurang. Malva mengira ia akan menemukan kaligrafi indah di dinding, atau tumpukan kitab-kitab ulama dan al-Qur'an di atas meja. Ini tidak ada. Kosong. Dindingnya telanjang, hanya cat putih kusam yang mendominasi.

​         Merekapun terlibat pembicaraan basa-basi, layaknya kunjungan pertama ke rumah teman. Bicara tentang betapa membingungkannya mencari alamat Amran, naik kendaraan apa tadi, berangkat jam berapa, lalu lintas yang macetnya minta ampun, dan bla bla bla.

​          Di tengah obrolan yang makin hambar, mendadak Malva memotong, "Kita jadi ikut pengajian gak ya? Di mana sih pengajiannya? Ustadznya siapa, Ran?"

​         Raut wajah Amran berubah drastis. Senyum cairnya lenyap. Ia diam sejenak, tatapannya mendadak tajam dan menghujam tepat ke manik mata Malva. Hening yang mencekam mendadak mengendap di awang-awang ruang tamu yang sempit itu.

         ​"Kita ngaji di rumah ini, ya... sekarang. Pemberi materinya, untuk saat ini sementara saya sendiri. Nanti, jika kalian sudah siap masuk ke materi-materi yang mendalam dan lebih tinggi, akan ada pemateri khusus yang tingkatannya lebih tinggi lagi." Amran menjelaskan dengan nada suara yang datar, dingin, namun penuh penekanan. Mata sangarnya menatap Malva dan Rino bergantian, seolah sedang menilai kesiapan mental mereka.

​          Malva dan Rino saling berpandangan. Keheranan besar meletup di kepala mereka.
          Hei, apa-apaan ini? 

          Malva menjerit dalam batin. Ia mengira akan diajak Amran ke sebuah masjid besar, duduk di tengah ratusan jamaah, dan mendengarkan ceramah dari seorang ustadz kondang yang lembut tutur katanya. 

          Kok, ini hanya di rumah sempit saja, pemberi materinya Amran sendiri pula?
​Ganjil gak sih! Lalu peserta pengajiannya siapa saja? Jika pengajian diadakan di rumah yang sesak ini, muat berapa orang?

          Berbagai pertanyaan bertalu-talu di benak Malva, menciptakan simfoni ketakutan yang makin kencang. 

          Sementara Rino, si teman yang "mauan", hanya diam menunggu, memilih untuk ikut saja dulu.

​          "Pesertanya siapa saja, Ran?" tanya Malva lagi, mencoba mencari jawaban dari kekacauan di kepalanya.

​         "Kalian berdua," jawab Amran mantap, seringai kaku kembali muncul di wajahnya.

​          Lho, kok hanya berdua saja? 

          Malva makin tercengang. 

         Rino pun ikut terhenyak, matanya membelalak tak percaya. 

          Sejenak, hening yang mencekam kembali menguasai ruangan. 

          Mereka berdua, tak tahu dan teramat lugu, bahwa esok lusa mereka akan menghadapi masalah yang akan membingungkan hidup mereka.

​         Amran bangkit dari duduknya, gerakan tubuhnya kaku dan mendominasi, memecah keheningan yang mencekam itu, "Ayo kita mulai saja."

​         Amran melangkah menuju sebuah pintu kayu di samping ruang tamu tersebut, dan membukanya dengan paksa. Derit pintu terdengar seperti jeritan. "Kita ngaji di sini, ayo masuk saja." 

         Amran mengajak Malva dan Rino yang masih terpaku di kursi mereka.

​          Ngaji gak ya? Apa pulang saja, menolak? Tapi dengan alasan apa? Apa bisa dikira Amran tidak sopan, jika permisi saja?

         Kebingungan menyandera Malva.
          Baiklah, ikuti saja dulu. Kadung sudah di rumah Amran. Pikir Malva pasrah. 

         Rino pun bangkit dari kursinya, gerakan tubuhnya patah-patah, mengikuti langkah Malva.

​         Dan, mereka pun melangkah masuk ke ruangan tersebut.

​         Sebuah ruang yang teramat sempit untuk ukuran sebuah tempat pengajian. Ukurannya kira-kira sebesar kamar tidur rumah sederhana, hanya cukup untuk satu tempat tidur. Tak ada perabotan apapun di dalamnya, kecuali tikar anyaman plastik lusuh berwarna kusam yang terhampar menutupi lantai semen, dan sebuah whiteboard putih yang disandarkan begitu saja pada dinding suramnya. Ada sebuah spidol boardmaker hitam tergeletak menyedihkan di depan whiteboard itu.

​          Malva dan Rino memutar matanya ke sekeliling ruangan yang sumpek itu. Rasa-rasanya, ruangan ini memang khusus digunakan untuk pengajian, dan sudah teramat sering digunakan untuk hal itu. Terlihat dari tikar plastik yang terhampar, terasa teramat melekat pada lantai semen di bawahnya, bukan layaknya tikar baru yang masih memiliki sisa lipatan-lipatan kecil yang belum rata.

​          Amran duduk di samping whiteboard, gerakan tubuhnya kaku dan menguasai suasana. 

          Begitu pula Malva dan Rino, mereka mengikuti Amran dan duduk bersila di hadapannya di atas tikar kusam itu.
          Pengajian pun dimulai.

​         Amran memulai kajian layaknya pengajian pada umumnya, dengan doa khubatul hajjah, lalu bershalawat untuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, bersyukur atas nikmat Allah dan seterusnya. 

         Suara Amran datar, kaku, dan monoton. Sementara itu, pikiran Malva masih menerawang jauh tidak fokus. Hatinya berteriak kencang, benarkah yang kuikuti ini? 

          Rino tampak diam membisu dan mengikuti saja apa yang disampaikan Amran, entah apa yang sedang berkecamuk di dalam benaknya.

​         Hingga sampailah Amran pada poin materi yang membuat Malva dan Rino terhenyak, darah mereka mendadak terasa berhenti mengalir.

​          "Hukum-hukum yang dianut oleh negeri inipun, semuanya hukum jahiliyah! Kondisinya sama persis ketika zaman jahiliyah di Makkah dahulu!" Amran menegaskan, suaranya mendadak meninggi, penuh kemarahan yang tertahan. Mata sangarnya berkilat-kilat kebencian.

​          "Dengan kondisi kita sekarang ini ... sebetulnya kita belum Islam! Untuk menjadi muslim sejati, tentu mesti bersyahadat dulu, seperti para Sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dahulu!” Ia mengungkapkan dengan nada suara yang berapi-api, penuh penekanan di setiap katanya.

​          DEG!

​         Jantung Malva berdenyut kencang, nyaris meletus. Oh iya ya, kok kita Islam belum pernah syahadat, padahal itu 'kan rukun Islam yang pertama. Berarti... kita masih kafir? Gawat! Terus ... kalau tahu-tahu mati bagaimana? 

Sobat Izzuka, suka dengan cerita ini? Yuk! ngobrol langsung dengan aku penulisnya di Channel Telegram >
Channel Telegram Memoar Rasa Novel


          Pikiran Malva berkecamuk hebat. Ketakutan akan neraka mendadak merasuki jiwanya.

​          Rino tampak termangu kebingungan, wajah polosnya menyiratkan syok yang mendalam.

​          "B ... be... berarti ... untuk menjadi Islam, kami ini... mesti bersyahadat dulu, Ran?” Pertanyaan itu mendesak keluar dari mulut Malva, suaranya bergetar hebat karena rasa takut yang mencekam ulu hatinya.

​          Kembali seringai Amran melebar, sebuah senyuman kemenangan yang mengerikan di wajah seramnya. Tatapannya mendadak lembut, namun mematikan.

​         Pertanyaan Malva selanjutnya menyusul dengan cepat, didorong oleh ketakutan akan status kekafirannya. “Jika kami bersyahadat... dengan siapa?”

​          “Dengan saya ... bisa,” jawab Amran tenang, suaranya mendadak merendah seolah berbisik. 

​          Vibes ruang pengajian - tepatnya kamar tidur - mendadak senyap, dingin, dan kaku. Hening yang mencekam kembali menguasai ruangan yang pengap itu. Malva menatap Rino, mata nanarnya mengandung tanya yang mendalam: Apakah Rino sepakat?

​          Akhirnya, di bawah tekanan ketakutan akan kekafiran dan janji surga yang ditawarkan, mereka berdua menjabat tangan Amran yang kaku dan dingin secara bergantian. 

          Suara mereka bergetar hebat saat melafalkan kalimat syahadat di bawah bimbingan Amran.

​         Genggaman tangan Amran terasa sangat erat, mantap, dan dingin. Itu bukan jabat tangan biasa. Itu adalah sebuah ikatan, sebuah kontrak spiritual yang mennggentarkan.

         Saat itu juga, Malva merasakan sebuah tarikan kuat yang menyeretnya keluar dari dunia lamanya yang penuh warna, masuk ke dalam sebuah pusaran kegelapan batin yang pekat, dingin, dan kaku.

***

​          Pagi menjemput hari. Sinar sang surya lembut menyirami ibukota. Sepagi ini, manusia telah sibuk lalu lalang. Tahu sendiri, namanya juga ibu kota, entah apa yang mereka kejar.

​          Di jalan gang selebar hanya kisaran bisa dilewati sepeda motor, Malva berjalan. Matanya memerah terasa panas karena kurang tidur. Bayang-bayang kajian seorang pemateri - sampai kini ia tak tahu namanya - semalam terus berputar-putar di kepalanya, menciptakan simfoni ketakutan dan ambisi yang aneh. 

         Beberapa kali ia berpapasan dengan orang-orang yang berseliweran, entah pergi ke tempat kerjanya, atau sekedar ke warung terdekat untuk membeli keperluan dadakan di pagi hari, atau untuk apalah. Malva memandang mereka dengan pandangan nanar.

​          Sekonyong-konyong, Malva melihat dari arah berlawanan ia berjalan, dua orang berpakaian layaknya tentara, namun berwarna hijau muda. Pada baju bagian dadanya tertulis nama mereka berdua masing-masing, tepatnya di atas kantong sebelah kiri. Topi pet dengan warna yang sama melengkapi seragam dua orang itu. Pada lengan bahunya ada semacam "bagde" bertulisan "PERTAHANAN SIPIL". Ya, rupanya mereka adalah Hansip, aparat keamanan lingkungan kampung.

​         Malva memandang mereka dengan pandangan nanar. Banyak hal yang berkelebatan di pikirannya. Bayang-bayang materi training intensif semalam mendadak bangkit kembali dengan kekuatan penuh, menghantam batinnya.

​          Malva pikir dua orang ini pantas dibunuh.
         Hei!

​          Ya, mereka pantas mendapatkan kematian itu. Mereka adalah budak-budak para penyembah berhala. Mereka semua bedebah! Mereka adalah kaum kafir yang halal darahnya. Lebih dari itu, semua orang-orang di negeri ini adalah kaum jahiliyah. Mereka hidup dalam zaman penuh dengan kekafiran. Mereka layaknya orang-orang musyrik di zaman jahiliyah ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallama pertama kalinya mencanangkan dakwahnya di kota Makkah.

​          Hei! Apa yang telah terjadi pada Malva?

​          Pikiran Malva mendadak dipenuhi oleh kebencian yang mendalam, kaku, dan pekat. Wajah polos Malva yang dulu pendiam dan rendah diri kini sirna, digantikan oleh gurat kekejaman dan keangkuhan seorang penganut ideologi ekstrem. Ia memandang dunia luar dengan tatapan penuh permusuhan. Bagi Malva saat ini, dunia hanya terbagi menjadi dua: kelompoknya yang benar dan jalan kebenaran, serta dunia luar yang sesat, kafir, dan harus dimusnahkan. 

          Sebuah transformasi kejiwaan yang mengerikan baru saja terjadi dalam diri Malva.

***

​          Beberapa minggu yang lalu, seorang pemateri - dan sampai kinipun Malva tak tahu namanya - membeberkan salah satu materi yang diikuti Malva di momen “training intensif”, di sebuah rumah sederhana di bilangan masuk-masuk gang timur Ibukota. 

          Pemateri itu berbicara dengan nada suara yang berapi-api, penuh penekanan di setiap katanya. Suasananya mencekam, sumpek, dan kaku.

​         "... kita semua telah belajar di bangku Sekolah Dasar kita, bahwa di negeri kita ini terdiri sekitar tiga ratus enam puluh suku bangsa. Tiga ratus enam puluh suku bangsa itu tentu berbeda-beda, baik segi bahasa, budaya adat istiadat, bahkan keyakinannya. Nah, kondisi ini... sangat mirip sekali dengan kondisi kota Makkah, ketika wahyu dari Allah ta'ala belum turun kepada Nabi kita, Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallama. 

          Bangsa Arab juga terdiri dari berbagai macam kaum atau disebut dengan istilah qobilah. Mereka juga terdiri dari sekitar tiga ratus enam puluh qobilah, yang tentunya juga berbeda-beda dari segi bahasa, budaya dan keyakinan mereka. Masing-masing qobilah mempunyai satu bentuk patung sebagai lambang keyakinan qobilah tersebut. Patung itu mereka sembah-sembah. Jadilah patung itu berhala mereka. Mereka yakin bahwa Allah lah yang mencipta langit dan bumi, hanya saja mereka mempunyai tandingan sembahan mereka, yakni patung itu. Patung-patung masing-masing qobilah diletakkan di sekeliling Ka'bah, yaitu rumah Allah.

          Bayangkan! Sekitar tiga ratus enam puluh patung berserakan di sekitar Baitullah. 

         Kemudian, bangsa Arab tidak ingin mereka berpecah belah akibat sesembahan-sesembahan mereka yang beragam itu. Maka, mereka punya gagasan agar ada satu patung yang bisa mempersatukan mereka. 

         Akhirnya, mereka membuat patung pemersatu yang mereka namai "Hubal". Ya, cocok sekali dengan semboyan "Berbeda-beda tapi tetap satu". Semboyan ini ada di negeri kita juga. Ada dimana? Kalian pasti sudah tahu semua, tak perlu saya jelaskan. Itu 'kan pelajaran Sekolah Dasar kita. Dan, semboyan itu dibawa pada patung pemersatu tiga ratus enam puluh suku bangsa negeri kita. 

          Apa nama patung itu di negeri kita? Bahkan kalian lebih-lebih tahu tentang nama patung itu ada... yaitu Pancasila!"

​          Pemateri itu diam beberapa detik, memberikan kesempatan bagi para pendengarnya untuk menyerap kengerian dari kata-katanya. Senyum kemenangan tipis merayap di wajah seramnya. Yah, kemenangan yang telah berhasil menancapkan ideologi ekstrem tersebut di hati Malva.

​          "Patung itu telah disembah-sembah oleh orang-orang yang mengaku-ngaku sebagai orang Islam, termasuk kita!" lanjutnya semakin semangat dengan ceramahnya. 

          Malva mendengarkan dengan rasa bersalah yang mendalam, kaku, dan pekat. Ketakutan akan neraka mendadak merasuki jiwanya, kembali.

​          Pemateri diam beberapa detik. Sunyi mengambang atmosfir ruang training itu. Training telah membuat resah para pendengarnya dengan keresahan akan status diri-diri mereka. 

          Apakah benar mereka itu penyembah-penyembah berhala. Lalu, apa bedanya mereka dengan kaum musyrik di Makkah dahulu? Samakah?

​          Materi yang disampaikan pemateri dalam training intensif selama tiga hari kurang lebih memiliki vibes yang sama dengan yang disampaikan Amran dalam kajiannya, hanya saja lebih detail dan terperinci. Bahkan, disebutkan secara gamblang nama-nama tokoh dalam pemerintahan seolah-olah disamakan dengan tokoh-tokoh kamu musyrikin di zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam saat berdakwah di kota Makkah.

​          Anehnya lagi, dan sangat bertentangan dengan Islam itu sendiri, sebelum training diikuti Malva, ketika Malva mencari lokasi tempat training diadakan. Rino waktu itu memang tidak ikut, ia berhalangan. Malva telah masuk ke daerah yang jalan-jalannya hanya bisa dimasuki sepeda dan sepeda motor. Gang-gang sempit di daerah timur Ibukota. Suasananya sumpek, sesak, dan ganjil. Ia tengak-tengok ke kanan dan ke kiri mencari alamat lokasi akan diadakan traning intensif keislaman.

​         Tampak dari jauh segerombolan anak-anak muda, sepintas tidak sampai lima anak muda, sedang nongkrong kongkow-kongkow, duduk di atas bangku semen di depan suatu rumah. Rumah sederhana di pinggir jalan gang tersebut. Anak-anak muda tersebut sedang bernyanyi bersama diiringi genjéngan gitar yang dipetik salah satu dari mereka. Entah lagu apa yang sedang dilantunkan, terdengar hambar dan ganjil di telinga Malva.

​         Malva sedang mengurutkan nomor-nomor rumah yang sedang ia cari. Sampailah ia di depan rumah yang ada anak-anak muda sedang nongkrong dan bernyanyi. Nomor rumah itu cocok dengan yang ia cari.

​         Tapi, masa’ iya rumah ini?

​         Tampak anak-anak muda itulah penghuninya. Gaya hidup mereka terasa bertentangan dengan bayangan Malva tentang tempat training keislaman.

​          Dengan merasa salah lihat nomor rumah tersebut, Malva melewati saja rumah itu. Karena jika ia berhenti lama di depan rumah itu ia merasa jengah. Tentu anak-anak muda tersebut akan melihat dan mengamati dia, ada apa orang ini berhenti melihat-lihat rumah mereka?

​         Sembari lanjut berjalan, Malva membuka kertas di kantong bajunya yang bertuliskan alamat rumah tempat training yang ia dapat dari Amran. 

          Ternyata benar, nomor rumah sudah cocok dan sama. Malva berhenti, bergeming. 

          Melihat kertas itu, lalu berganti menengok agak ke belakang menatap rumah tadi, masih terlihat nomor rumahnya, sama. 

          Masa’ iya training intensif keislaman di adakan di rumah anak-anak muda dengan kebiasaan nongkrong bernyanyi, bergitar? Ganjil banget!

​          Malva ragu, mungkin ia salah alamat. Lanjut mencari apa tidak ya? 

         Rasa takut dan kebingungan kembali merayap di hatinya.

​          Namun, daripada mencari-cari tak jelas arahnya, mungkin lebih baik bertanya pada orang-orang kampung itu dulu. Apa tanya saja kepada anak-anak muda itu? Tapi, apa mereka tahu tentang training itu? Seperti tidak cocok dengan gaya hidup mereka.

​          Ah, masa bodo lah.

​          Mungkin jika tanyanya dengan kata “pengajian” mereka lebih mengerti daripada kata “training”. Kata pengajian 'kan umum, pengajian dimana-mana sering di adakan, di masjid-masjid ataupun khusus di rumah penduduk. 

         Baiklah, Malva tetapkan hatinya untuk bertanya kepada anak-anak muda itu, apalagi nomor rumah dan nama gang sudah cocok dengan yang di kertas.

​         Malva membalikkan arah badannya, kembali beberapa langkah yang telah ia lewati rumah itu. Beberapa anak muda dari mereka, tampak memandang Malva saat melangkah kembali. Ada apa dengan orang ini?

​          Sesampai kisaran dua langkah dari anak-anak muda nongkrong itu, Malva berhenti, dan menyapa, “Sori bang, ané boleh nanya nih...?” dengan logat Jakarté pelosokan agar langsung mengakrabkan dengan mereka. 

         Nyanyian dan gitaran mereka langsung berhenti mendadak. Sunyi mencekam kembali menguasai suasana.

​         "Iyé, emang kenapa?” jawab salah satu dari mereka, dengan mata nada curiga dan dingin.

​          "Ané lagi nyari alamat rumah tempat pengajian. Ané termasuk peserta yang didaftarkan ustadz ané. Alamat gang dan nomor rumahnya sih rumah ini,” Malva sambil menunjuk rumah di belakang anak-anak muda tersebut, dan menunjukkan gestur wajah tidak menyasar rumah itu, karena Malva telah berprasangka rumah anak-anak muda ini tak mungkin buat pengajian, “mungkin abang tahu atau dengar ada pengajian diadakan sekitaran sini?”

​          "Training intensif keislaman selama tiga hari ya?” salah seorang dari mereka bertanya serta merta.
          Degs!

​          Malva tersentak hebat, loh kok mereka langsung tahu. Ganjil banget!

​          “I... iya, iya...,” jawab Malva mendadak tergagap karena kaget.

​          "Kalau itu, memang di sini akhi, ahlan wa sahlan, tafadhdhal langsung masuk lewat pintu depan itu,” salah satu anak muda menunjuk pintu depan di teras rumah, dengan logat langsung berubah ramah, sejuk, namun ngislami banget. Senyum kakunya kembali muncul di wajah polosnya.
          Masih dengan keheranan, Malva bergeming. Kebingungan kembali menyandera dirinya.

​         "Ya udah, akhi masuk aja ... jangan lupa salam sebelum masuk," senyumnya yang menyuruh Malva masuk merekah ramah, menghilangkan keraguan Malva. Tetap saja Malva merasa senyum itu terasa kaku dan ganjil bagi Malva.

​         "O iya, makasih bang ...," Malva melangkah patah-patah langsung ke teras rumah di depan bingkai pintu depan. Perasaannya campur aduk antara takut, bingung, dan penasaran.

​          "Assalamualaikum ...,” Malva melontarkan salam. Suaranya sedikit bergetar hebat karena rasa takut yang mencekam ulu hatinya.

​         Pintu depan tersingkap paksa. Pintu tua itu mengerang pelan saat bagian bawahnya bergesekan dengan lantai, berderit menyilukan.

​          Malva disambut oleh sosok-sosok panitia training intensif kelompok gerakan pemberontakan bawah tanah tersebut. Wajah-wajah mereka datar, dingin, dan kaku. Mata mereka tajam bagaikan sembilu, seolah sedang menilai kesiapan mental Malva.
 
         Malva baru saja melangkah masuk ke dalam kelompok itu tanpa tahu bagaimana jalan keluar.

***

          Akhirnya Malva pulang dari training intensif teroris gerakan bawah tanah itu dalam keadaan pikirannya selalu menyalahkan semua orang, hanya dia yang benar. Sungguh telah berhasil kamp "cuci otak" mereka.

***

OIN & Amankan link-link ke seluruh draf Memoar Rasa Novel, TAP /KETUK > di bawah ini:
Channel Telegram Memoar Rasa Novel


Mau belajar menulis Kelindan Kisah-kisah Nyata via daring (online), ikuti tahapannya, TAP /KETUK > di bawah ini:

Atau, mau belajar menulis Kelindan Kisah-kisah Nyata via luring (offline), beli saja bukunya, TAP /KETUK > di bawah ini:

Mau belajar menulis Kisah Nyata via daring (online), ikuti tahapannya, TAP /KETUK > di bawah ini:

Atau, mau belajar menulis Kisah Nyata via luring (offline), beli saja bukunya, TAP /KETUK > di bawah ini:

Mau Belajar Ilmu Syar'i dengan Menuliskannya, mudah, sedikit demi sedikit, dan saban hari, TAP /KETUK > di bawah ini:
Channel Telegram Muslim Learner


Sederhana itu Lebih - Less is More. Desain bukanlah menambah-nambah biar berfungsi, tetapi desain adalah menyederhanakan agar berdaya guna.
Produk

Online Shop
Buku, Peranti belajar,
dan sebagainya



Misi


Fakta
Ciri Khas Artikel



F A Q (Frequently Asked Questions)
Pertanyaan yang sering diajukan

Silahkan chat dengan tim kami Admin akan membalas dalam beberapa menit
Bismillah, Ada yang bisa kami bantu? ...
Mulai chat...