www.izzuka.com
Menjadi Terampil Menulis
hanya dari kebiasaan menulis sederhana, mau? buruan! TAP > Yuk! menulis di sketsarumah.com.

Batu Asah

         Ash-Shabru dhiya', maknanya Sifat sabar (kesabaran) itu Cahaya. Namun, yang dimaksud cahaya di sini adalah cahaya yang disertai panas, layaknya cahaya matahari. Bahkan, sesuatu akan bercahaya, mesti terbakar lebih dahulu.

        Suatu ketika, ada seorang teman menyampaikan suatu nasehat kepadaku, "Kamu kalau mau sifat sabar, hendaknya selalu menyertai orang yang pemarah atau tersinggungan. Jika selalu bersama orang-orang yang sabar, ya kamu gak akan jadi penyabar."

        Masya Allah!

       Sekonyong-konyong aku teringat tema "menumbuhkan kebiasaan", termasuk menumbuhkan suatu sifat atau karakter yang baik, seperti sifat sabar. Sifat sabar mesti dilatih berulang-ulang dengan cara membuat resep ramuan perilaku, dengan menggunakan Tambatan sebagai Pemicunya, rumusnya:

Tambatan (tindakan orang), aku (akan) ...

Setelah orang berkata menyinggung perasaan, aku (akan) diam, dan bersyukur mengucap, "Alhamdulillah"

Atau 

Setelah orang berkata menyinggung perasaan, aku (akan) melantunkan Al-Qur'an dengan lagu Nahawand

Atau

Setelah orang berkata menyinggung perasaan, aku (akan) tersenyum, dan bersyukur mengucap, "Alhamdulillah"

         Ulang2 terus. Sampai sifat sabar itu mengkarakter diri kita.

         Kita bisa mengimajinasikan, bahwa
Kita adalah pisau yang sedang diasah.
Tambatan adalah batu asah untuk mengasah pisau (kita).
Bersyukur, tersenyum atau senandung Al-Qur'an adalah air yang untuk membasahi pisau dan batu asah yang sedang diasah.

        Proses pengasahan pisau tersebut, dengan menggesekkan pisau pada batu asah, atau bisa juga dengan gerinda. Pengasahan tersebut, dengan terjadinya friksi (gesekan) biasanya menghasilkan panas dan kering. Bahkan jika memakai gerinda mampu mengeluarkan percikan-percikan debu partikel besi pisau yang bercahaya dan membara. Untuk melancarkan pengasahan biasanya dibasuh dengan air yang dingin.

         Itulah permisalan kita, bila melakukan "riyadhah" (meminjam istilah Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi di dalam Mukhtashar Minhajul Qashidin) atau latihan jiwa, terkhusus ingin mendapatkan sifat sabar. Proses latihan jiwa sabar itu membutuhkan Tambatan atau Pemicu (batu asah) dalam hal ini adalah Pemicu Tindakan. Tindakan yang kita pakai adalah tindakan orang pemarah, atau yang tersinggungan. 

         Ketika Sang Tersinggungan marah, maka pada saat itulah kita mendapatkan tambatan atau batu asah untuk mengasah diri kita agar kesabaran kita semakin tajam. Sewajarnya jika itu terjadi, alih-alih kita emosi juga, malah kita berkesempatan untuk memanfaatkannya sebagai pijakan atau tumpuan untuk latihan mendapatkan sifat sabar.

         Hanya, saja proses kejadian tersebut memang menimbulkan panas di dada. Bahkan fakta mengatakan bahwa, seorang ulama dalam Raudhatul Uqala' yang disampaikan ustadz Usamah Mahri berkata bahwa, bila kita ada rasa kesal (Bahasa Jawa: mangkel), saking kesalnya terkadang keluar air mata, dan air mata itu terasa hangat.

        Jika demikian tepat dikatakan Ash-Shabru dhiya', Sabar itu cahaya yang panas.

        Maka, untuk meredam panas dan untuk melancarkan pengasahan pisau, biasanya dibasuh air dingin. Begitu pula untuk latihan jiwa sabar, setelah kita bergesekkan dengan Sang Pemarah, timbul rasa panas di dada, hendaknya kita basuh dengan dzikir, rasa syukur, tersenyum, dan hal-hal yang menyejukkan untuk meredam panas yang begitu meletup-letup di kalbu.

        Dan, ingat mengasah pisau tidak hanya sekali gesek, bahkan perlu digesek berkali-kali, mungkin puluhan atau ratusan kali. Riyadhah kesabaranpun perlu dilakukan berulang-ulang agar ia terekam di bawa sadar dan menjadi sifat atau karakter yang otomatis keluar ketika ada pemicunya.

        Ada pemeo, "Siapa yang sering bersentuhan dengan suatu hal, maka hilang rasa pada hal tersebut." Begitu pula, jika kita gunakan tambatan Sang Pemarah sesering mungkin, maka hilang pula rasa kita terhadap kemarahan. Tak ada respon alias biasa-biasa saja. Dingin.

       Maka, saat itulah kita banyak bersyukur, bahwa  Allah telah menganugerahkan sifat sabar kepada kita. Lebih dari itu kita menyadari ternyata kesempitan, ujian dari orang pemarah yang Allah hadirkan di hadapan kita merupakan kesempatan baik yang diberikan-Nya kepada kita menjadi sebab timbulnya sifat sabar.

         Boleh jadi sesuatu itu jelek menurut pandangan kita, ternyata baik di sisi Allah Subhana wa ta'ala. 

         Apalagi jika tambatan di sekeliling kita banyak, bukannya berharap, tetapi boleh jadi tidak bisa kita hindari, bisa berupa orang pemarah, rasa kecewa, ujian musibah, dan sebagainya. Kesabaran kita akan semakin tajam, layaknya pedang.

***
Mendesain kebiasaan BELAJAR ilmu syar'i dengan MENULISkannya, diretas bersama teman setia kopi di studio sketsarumah.com.
F A Q (Frequently Asked Questions)
Pertanyaan yang sering diajukan

Silahkan chat dengan tim kami Admin akan membalas dalam beberapa menit
Bismillah, Ada yang bisa kami bantu? ...
Mulai chat...