www.izzuka.com

#20 Diksi dan Kiasan

           Sebenarnya materi Diksi (pilihan kata) dan Kiasan, telah ditulis dalam bentuk buku "Kata" dan "Gaya Bahasa", dengan penulis yang sama. Namun, tidak mengapa kita bahas lagi dalam bentuk bab singkat, dan lebih terkait pada materi Deskripsi.

          Dan, telah kita bahas pula tentang deskripsi dengan pendekatan sikap penulis. Sehingga dengan itu pula berpengaruh kepada bagaimana pula mengolah materi tulisan deskripsi terkait dengan para pembacanya.

          Dengan demikian, timbul pertanyaan, "Alat manakah dalam bahasa yang paling baik untuk membuat deskripsi tersebut?"

          Jawabannya adalah, "Diksi (pilihan kata) dan bahasa kiasan."

          Setiap penulis ingin agar materi tulisannya mampu dilukiskan dengan kata-kata yang terasa hidup, dan harus memiliki tenaga agar mampu menyulut daya imajinasi pembaca. Dan, telah lewat bahasan kata-kata yang lebih rinci agar imajinasi pembaca terbangun. 

           Namun, ternyata tidak cukup itu saja. Setiap penulis musti menguasai beberapa teknik sekaligus, agar terjadi perpaduan yang harmonis, yaitu:

Diksi, yaitu memilih kata-kata yang tepat bagi tiap gagasan yang mengandung nuansa tertentu.
Mempergunakan secara maksimal tenaga yang terkandung dalam bahasa kiasan.
✓ Yang telah lewat dibahas, teknik pendekatan realistis.
✓ Teknik pendekatan impresionistis.
✓ Dan, sikap penulis.

Diksi

          Masalah pilihan kata adalah masalah yang sangat penting untuk; 

menggambarkan sejelas-jelasnya wujud dan perincian detail-detail dari ungkapan tulisan. 
✓ Dan, bagaimana menunjukkan hubungan dari detail-detail tersebut.

           Makna sebuah kata, bukan saja mewakili dari bentuk tersebut, tetapi ia mampu pula mempunyai tingkat-tingkat warna makna yang berlainan dari makna dasarnya. Atau dapat dikatakan, tiap kata memiliki:

✓ arti denotatif, adalah arti /makna dasar, dan
✓ arti konotatif, adalah arti /makna khusus, yakni warna makna yang baru dan perasaan yang mungkin ditimbulkan. Dan, ini lebih jelas lagi ketika kata tersebut masuk dalam suatu kalimat.

          Pilihan kata yang baik dapat diartikan 
  • memilih atau menyeleksi kata-kata dengan tepat. 
  • Karena setiap pengungkapan yang baik harus menggunakan kata-kata yang tepat
  • Bukan saja melukiskan objek semirip mungkin, tetapi mampu melahirkan setepat-tepatnya apa yang dimaksud
          Untuk bahasan ilmiah, menghendaki satu maksud atau gagasan tertentu musti memakai satu istilah atau satu pengertian. Kata dalam uraian ilmiah musti mempunyai makna denotatif.

          Namun ada penulis, pada tulisan-tulisan bersifat Impresionistis, menghendaki warna arti yang bergeser sedikit dari arti aslinya yang dapat memicu rasa dan sugesti tertentu. Inilah kata yang bermakna konotatif.

          Ada beberapa cara pilihan kata:
          
1. Pilihan kata berdasarkan sinonim, telah lewat pembahasan pada bab Deskripsi dan Pencerapan, cara merinci suatu kata kepada berbagai macam bentuk dengan nilai rasa arti yang lebih khusus. Seperti pada contoh pada kata-kata "bunyi yang nyaring", haruslah dibedakan atas bunyi nyaring manakah yang dimaksud. Bunyi mana yang harus dilukiskan dengan: dentum, degar, degam, gedebuk, gemerincing, gerdam, pekik, lolong, raung, ratap, jerit, teriak dan sebagainya

2. Pilihan kata dengan mengganti kata sifat dengan kata-kata yang bukan kata sifat. Deskripsi dengan kata-kata sifat dari suatu kualitas atau keadaan suatu objek, adalah suatu anggapan yang mudah dipahami. Namun, ada penulis yang memiliki cara mengungkapkannya atau menggantinya dengan rangkaian bukan kata sifat, tetapi tetap mempunyai makna yang sama dengan kata sifat yang melukiskan objek. 

Berikut akan diberi contoh:

✓ pertama, kutipan yang memakai kata-kata sifat.
✓ Kemudian pada contoh kedua kata-kata sifat tersebut diganti dengan rangkaian kata bukan kata-kata sifat.

          "Langit yang kuning muda, bersisik putih dengan celah-celah kuning. Dari balik garis hijau kebiruan memancar warna-warna yang amat merah, yang makin ke atas makin kabur. Jauh dari sana terdapat tumpukan awan yang berubah-ubah bentuknya karena angin. Di antara langit kebiruan bersisikkan putih terdapat bulan sabit yang pucat cahayanya."

Kutipan di atas mengandung beberapa kata sifat. Namun, kata-kata sifat tersebut belum terlalu mampu untuk menampilkan citranya kepada para pembaca. Kata-kata sifat tersebut dapat diganti dengan rangkaian kata-kata berikut ini:

          "Langit yang kuning muda, bersisik putih, di antaranya terjalin warna sepuhan emas perada. Dari balik garis hijau kebiruan memancar warna-warna yang merah menyala, yang makin ke atas hilang melayang warnanya. Jauh dari sana terdapat tumpukan awan berbagai-bagai bentuk, yang terkadang lekas berubah warna, dihembus angin kesenjaan, menyapu halus puspa warna. Di antara langit kebiruan bersisikkan putih, tersenyum simpul kemalu-maluan bulan sabit."

Sumber: Eksposisi dan Deskripsi oleh Dr. Gorys Keraf, 1982, Penerbit Nusa Indah, Flores.

          Berikut analisisnya:
  • Kata "kuning" kurang mempunyai daya imajinasi dibanding rangkaian kata "warna sepuhan emas perada", meskipun keduanya memiliki makna yang sama.
  • Rangkaian kata "amat merah" jelas artinya, tetapi rangkaian kata "merah menyala" lebih hidup dan lebih memberi sugesti.
  • Begitu pula, kelompok kata "awan berbagai-bagai bentuk, yang terkadang lekas berubah warna, dihembus angin kesenjaan, menyapu halus puspa warna" lebih jelas mendeskripsikan suasana, lebih kuat sugestinya dibanding "awan yang berubah-ubah bentuknya karena angin".
  • "Bulan sabit yang pucat cahayanya" kurang tenaga sugestinya dibandingkan dengan frasa "tersenyum simpul kemalu-maluan".
          Walaupun caranya berbeda, tetapi kedua metode tersebut terkait masalah pilihan kata atau diksi
  • Bisa cara pertama, dengan mencari sinonim-sinonimnya
  • bisa pula dengan cara kedua dengan cara mengganti kata-kata dengan kata-kata berjenis lain yang lebih segar, lebih hidup dan bersugesti.
          Contoh lain lagi:
  • Melihat seorang anak yang "menangis tersedu-sedu" karena meminta sesuatu kepada ibunya, apakah cukup jika dikatakan "Anak itu menangis"? Kata "menangis" telah menyatakan secara umum apa yang dimaksudkan, tetapi jauh lebih bersugesti jika kata tersebut diganti dengan "merengek-rengek".
  • Begitu pula, apakah cukup mengatakan "Team ahli itu memeriksa kemungkinan mendirikan sebuah pabrik peleburan besi di Cilegon"? Alangkah lebih tepatnya  "memeriksa" diganti dengan "meneliti".
  • "Polisi telah mengadakan penyelidikan terhadap pembunuhan itu." Maka, kata "penyelidikan" lebih tepat jika diganti dengan "pengusutan" atau bahkan dengan kata "penyidikan".

          Kita mengetahui, bahwa kata-kata tersebut bersinonim, kata-kata yang memiliki makna sama atau hampir sama. Namun, ternyata tiap-tiap katanya mempunyai arti cakupan yang berlainan, warna arti, dan nilai rasa yang berbeda.

          Maka dari itu seorang penulis haruslah mengerti dengan tepat menggunakan kata sesuai jenis tulisannya. 
  • Untuk jenis wacana tulisan ilmiah atau uraian teknis hendaknya memakai kata-kata bersifat denotatif
  • Sedangkan, untuk jenis wacana tulisan yang bertujuan mencari efek sifat kehidupan, seperti tulisan kisah, memerlukan banyak kata bersifat konotatif.
          Bahasa itu hidup dan berkembang, maka sepantasnya penulis selalu mengikuti perkembangan bahasa dari waktu ke waktu, yaitu:

✓ bagaimana suatu kata tumbuh,
✓ bagaimana makna kata berubah dan berkembang,
✓ bagaimana kedua hal di atas dapat menyebabkan suatu bahasa berubah dan berkembang pula,
✓ perubahan dan perkembangan bahasa, dapat diikuti dengan menggunakan kamus, kamus tesaurus. Dengan kamus dapat diketahui kata-kata mana yang telah mengalami perubahan bentuk dan arti.
✓ Kata-kata yang telah bersifat stereotip, yang telah tidak memiliki tenaga hidup, sebaiknya tidak dipakai lagi.
✓ Begitu pula, kata-kata yang sudah terlalu sering dipakai pada suatu masa tertentu, yang ngetren, lebih baik dihindari.

          Untuk materi bahasan Kiasan, akan dibicarakan pada bab berikutnya.

***

Mau belajar menulis Kisah Nyata via daring (online), ikuti tahapannya, TAP /KETUK > di bawah ini:

Atau, mau belajar menulis Kisah Nyata via luring (offline), beli saja bukunya, TAP /KETUK > di bawah ini:
Buku Menulis
Kisah Inspiratif

rasa Novel - 55k


Mau Belajar Ilmu Syar'i dengan Menuliskannya, mudah, sedikit demi sedikit, dan saban hari, TAP /KETUK > di bawah ini:
WhatsApp Salafy Asyik Belajar dan Menulis

Sederhana itu Lebih - Less is More. Desain bukanlah menambah-nambah biar berfungsi, tetapi desain adalah menyederhanakan agar berdaya guna.
Produk

Online Shop
Buku, Peranti belajar,
dan sebagainya



Misi


Fakta
Ciri Khas Artikel



F A Q (Frequently Asked Questions)
Pertanyaan yang sering diajukan

Silahkan chat dengan tim kami Admin akan membalas dalam beberapa menit
Bismillah, Ada yang bisa kami bantu? ...
Mulai chat...