www.izzuka.com
Menjadi Terampil Menulis
hanya dari kebiasaan menulis sederhana, mau? buruan! TAP > Yuk! menulis di sketsarumah.com.

Rizki mengejar

          "Besok buka apa tidak?" itu teks-teks yang aku ketik di keypadku.
          Tak berapa lama, tertulis di bagian atas gawai cerdasku, "Toko Oke mengetik ..."
          Aku tunggu dengan cemas, karena itu akan menentukan apa yang harus aku lakukan hari ini.
          "Buka ...," ternyata hanya kata itu yang di ketik dari hp toko Oke. Entah siapa yang membalas, karyawan toko atau si Bapak pemilik toko. 
          Toko Oke adalah toko buku, alat tulis, dan fotokopi yang cukup lengkap di dekat perempatan pasar di kecamatan aku tinggal. Aku butuh memastikan toko itu, apakah besok buka atau tidak. Karena aku butuh untuk menfotokopi materi ajar yang diperlukan besok. Lumayan banyak materi yang segera untuk difotokopikan, sejumlah para pelajar yang ada. Satu kelas sekitar 40 an pelajar. 
          Sedangkan hari ini, aku sedang ada keperluan lain yang mendesak, sehingga aku tak sempat menggandakan materi tersebut. Jadi, aku pastikan saja bahwa esok hari toko Oke buka, karena aku lihat di kalender resmi pemerintah kita, angka tanggal besok berwarna merah.
          Maka, keesokan harinya, pagi-pagi ketika jam kerja mulai berdetak, aku telah meluncur di atas CB ku, ke perempatan pasar kecamatan. 
          Sesampai di perempatan, lampu lalu lintas menyala merah. Aku langsung membelokkan stang CB ku ke kanan, naik ke trotoar, dan memang ke arah situlah toko Oke.  
        "Arrrgh, kenapa pintu lipat besi berwarna biru itu masih tertutup rapat?" aku terkesiap.
          "Bukankah ini telah pukul 7 lewat? Biasa toko Oke jam 7 pagi telah buka, walau yang stenbai pemiliknya yaitu si Bapak, karena karyawannya baru berdatangan sekitar jam 8."
          Akupun segera mengambil gawaiku, ketik pasword, buka aplikasi, search nama Toko Oke.
          "Assalamualaikum, pak katanya hari ini buka, kok masih tutup? Saya sudah di depan toko," tanyaku via aplikasi pesan.
          Centang dua.
          Biru.
          Tak ada jawaban, diam.
          Aku tunggu beberapa menit, mungkin belum buka, atau pemilik toko agak terlambat datang. Tetap tak ada jawaban.
          Seperti tak ada kehidupan, di seberang sana. Tetapi, aku yakin aplikasi pesan di sana dibuka, faktanya centang dua, dan biru.
          Menunggu, aku masih duduk di atas sadel CBku. 3 menit, 4 menit, 5 menit ...
          Habis sudah quota sabarku.
          Aku engkol stater mesin CB, pulang 
          Sesampaiku di rumah, buka HP lagi, aku ketik, "Katanya hari ini buka? Bagaimana ini?"
          Masih tak ada ketikan di seberang sana.
          Dongkol, campur aduk, terbayang aku mesti fotokopi di kantor ponpes. Mesin fotokopi kolaborasi dengan printer itu kecepatannya lambat sekali. Mana sering "hang" pula.
          Bagaimanapun juga, aku mesti mengisi quota sabarku kembali yang telah kosong, untuk mulai fotokopi di kantor ponpes.
          Sejak itupun, aku tak pernah ke Toko Oke untuk keperluan alat tulis. Aku beralih ke toko alat tulis "Lestari". Sebuah kios kecil, salah satu dari kios-kios yang menyatu dengan pasar tradisional di perempatan kecamatan.
          Kios itu tak senyaman Toko Oke. Toko Oke besar, dengan rak-rak swalayan alat tulis, dan dengan karyawan sekitar 5 orang, 4 wanita dan 1 pria. Sehingga jika kita berkunjung ke toko Oke, sebagian besar karyawan wanitalah yang menyambut kita. Bahkan, Toko Oke memiliki cabang toko di lokasi hanya tetangga kecamatan. Sebaliknya toko Lestari sangat kecil di layani 2 orang pria, dan di depan kios selalu duduk di atas kursi kecil seorang wanita tua renta, bahkan jika berjalan badannya bongkok dan tertatih-tatih. Jika kita membeli sesuatu, kita akan berdiri di emperan toko, tak bisa masuk ke dalam, karena begitu sempitnya.
          Alat tulis yang dijual memenuhi rak sampai setinggi plafon, bahkan itupun masih ada yang diletakkan di atas lantai. Toko Lestari tidak hanya berjualan alat tulis, tetapi menjual juga keperluan yang sering kita gunakan. 
          Sandal-sandal, mainan anak-anak, dan berbagai alat rumah tangga bergelantungan. Sungguh penuh sesak.
          Dua orang pria yang melayani, begitu ramah dan empati. Pernah suatu ketika aku membeli lakban berwarna hitam begitu banyaknya. Sampai-sampai salah seorang pria dari mereka berdua - sampai sekarang aku belum tanya nama mereka berdua - bertanya, "Beli lakban begitu banyak untuk apa pak?"
          "Oo, untuk ibu saya yang sakit," jawabku singkat.
          Wajah pria berkumis itu heran, "Untuk ibu yang sakit? Maksudnya bagaimana pak?"
          "Jadi ibu saya sakit stroke, hanya bisa berbaring di tempat tidur, nah tempat tidurnya dialasi perlak. Agar nyaman perlak tersebut dilapisi kain yang lembut. Kain lembut tersebut agar tidak berantakan, dilakban pada perlaknya," panjang lebar akhirnya aku menjelaskan.
          "Ooo begitu, diginikan saja pak ... atau digitukan ...," pria berkumis itu mengusulkan berbagai usulan, "khan boros pak, kalau setiap ganti perlak dan kain mesti memakai lakban ... berapa uang yang bapak keluarkan untuk lakban, misalkan dalam seminggu, sebulan ...," lanjutnya begitu empatinya.
          Masya Allah, akupun berpikir ini pria yang juga pemilik toko tersebut, tak berpikir untung rugi. Buat apa dia peduli begitu? Bukankah semakin banyak barang toko dia laku, semakin untung?
          Padahal, sebelumnya aku juga sering beli lakban yang begitu banyak, terkadang sampai 5, atau 6 gelondong sekali beli di toko Oke. Namun, toko Oke tak pernah bertanya untuk apa lakban-lakban itu, yang penting laku terjual, ada omzet untuk hari ini.
          Akupun mulai tersentuh kalbuku terhadap toko Lestari, dan saat itu pula aku menoleh sebelah kiriku, melihat ibu tua renta yang selalu duduk di depan kios Lestari, "Mas ini ibunya mas ya?" balas kepoku. Masa iya ia begitu perhatian dan peduli kepada ibuku yang sakit, aku bergeming cuek-cuek saja.
          "Iya ...," jawabnya singkat.
          Ibu itupun tersenyum kepadaku.
          Pikirankupun menembus dunia abstrakku, mengapa ini terjadi semua. Ya, mungkin aku ditakdirkan untuk tidak ke toko Oke lagi karena banyaknya karyawan wanita, sehingga setiap belanja ke sana terjadi campur baur antara kaum pria dan wanita dalam satu ruangan. Fitnah wanita. Dengan berbelanja di toko Lestari, aku terhindar dari fitnah tersebut. Di samping itu, tentu belanjanya aku di toko Lestari banyak meringankan beban keluarga tersebut, yang memiliki ibu tua renta dan bongkok pula, ketika berjalan tertatih-tatih.
          Boleh jadi sesuatu itu jelek menurut anggapan kita, tapi baik bagi akhirat kita.
          Aku tidak hanya belanja macam-macam di toko Lestari, akhirnya jika menfotokopi materi atau apalah ke toko Lestari. Padahal semula, aku telah berlangganan fotokopi di toko Oke. Fotokopi yang aku tawarkan tidak tanggung-tanggung, sangat banyak. Karena seringnya terkait urusan pelajar, entah materi, ulangan, ujian dan sebagainya.
          Sehingga, suatu saat pernah aku terpaksa berbelanja di toko Oke, karena di toko Lestari tak tersedia stok barangnya, bapak pemilik toko Oke pun bertanya, "Kemana saja, kok ndak kelihatan ... apa ndak perlu fotokopi-fotokopi lagi?"
          Akupun hanya tersenyum kecut bin masam.
          
***

          Kisaran 4 jam yang lalu sang surya telah memanjat lintasannya sejak saat keluar dari persembunyiannya. Cuaca hari ini terang benderang, bahkan cenderung terik. Daftar belanja telah aku kantongi. Aku merasa akan banyak yang akan aku beli. Repot, jika CBku menyertaiku. Kali ini, aku memakai roda empat.
          Tujuan pertamaku adalah ke ATM. Aku harus membawa uang kontan yang lumayan, karena catatan belanjaku kini, berbilang baris. ATM cukup jauh, menempuh perjalanan kisaran 15 menit. Tidak seperti di kota besar anjungan ATM berserakan dimana-mana. Ini kota kabupaten, ATM hanya ada di pusat kota. 
          Setelah menarik lembaran-lembaran berharga itu dari mesinnya, aku berpikir, daftar belanjaku lumayan banyak, mungkin aku beli saja di grosiran, tentu lebih murah dan lebih hemat.
          Ada toko besar di pusat kota, dengan diskon lumayan besar. Para toko kecil biasanya "kulakan" di sana. Akhirnya aku arahkan mesin beroda empat ke arah sana, karena cukup dekat dari anjungan ATM. 
          Namun, serta merta aku ingat sosok ibu yang tua renta, bongkok jika berjalan tertatih-tatih dan  yang selalu duduk di depan kios kecil itu.
          Gak pake lama, aku banting setir mengubah arah tujuan, kios kecil Lestari.
          Sesampai di depan kios kecil itu, aku memarkir mobil agak jauh, karena jika berhenti dekat perempatan akan menggangu lalu lintas, tentunya. Akupun turun dan berjalan menuju kios kecil itu.
          Begitu langkahku berhenti tepat di depan kios itu, aku melongok ke dalam kios dari emperannya.           
          Kosong.
          Lho, kok kosong? Tak ada seorangpun di dalam. Kemana pria yang biasa melayani? Tetapi, kios terbuka. Mungkin ia kemanalah sebentar, ada urusan kecil dekat-dekat sini saja.
          "Mase sakit, pak ...," suara tua renta itu tiba-tiba menerobos begitu saja di gendang telingaku.
          Akupun menoleh, mencari asal muasal suara itu. Betul saja ibu itu, sedang duduk seperti biasanya di atas kursi kecil agak di sebelah kiri kios.
          "Eh, sakit bu ... sakit apa?" tanyaku agak tersentak, karena baru kali ini, peristiwa tersebut terjadi. Biasa mas nya itu sehat-sehat saja, bahkan cenderung berbadan kekar dan gagah. Bisa sakit juga rupanya.
          "Masuk angin ...," jawab ibu itu sambil tersenyum.
          Ah, cuma masuk angin, paling tidak berapa lama kembali ke kios. Mungkin "kerokan" dulu di rumah.
          "Kapan kembali ke sini bu ...," harapku agar cepat selesai urusan jual beli ini. Barang-barang yang akan aku beli dibutuhkan esok hari, sehingga mau tidak mau mesti terbeli hari ini.
          "Besok saja, pak kembali ke sini," ibu itu memberi usulan.
          Hah, besok? Aku mesti membawanya besok pagi ke ponpes, pagi-pagi sekali jam pertama pelajaran para pelajar pukul 07.30. Mana barang-barang itu mesti aku rangkai dulu hari ini. Begitu jadi, siap untuk dibawa keesokan harinya. Bila membelinya besok, mana sempatlah.
          "Kenapa besok bu, apa hari ini tidak bisa? Saya perlu barang-barang yang saya beli hari ini, karena pagi-pagi mesti saya bawa untuk para pelajar ...," aku melihat ibu itu dengan penuh harap, "khan cuma masuk angin mas e bu ...," kembali aku memohon, siapa tahu pria itu bisa dipanggil, atau bagaimanalah caranya agar bisa hadir untuk melayani penjualan seperti biasanya.
          "Ndak bisa pak, mas e itu punya sakit paru-paru, karena kemalaman tidurnya kemaren, akhirnya sakit ...," semakin rinci ibu itu menjelaskan.
          Aku mengira hanya masuk angin biasa, ternyata itu hanya akibat kecil dari penyakit yang lebih berat diderita mas tersebut. Duh, bagaimana ini?
          "Saya mau beli banyak barang bu ...," tawarku lagi. Siapa tahu ibu itu berubah pikiran mau memanggil mas tersebut.
          Ibu itu menggelengkan kepala, tak ada tawar-menawar bagi orang sakit berat. Benar juga. Pasti pria itu sakit berat, tak bisa menuju kios.
          Aduh, masa' aku mesti beli di toko lain? Toko Oke? Tetapi, aku segera menepis usulan pikiranku yang tiba-tiba muncul. Aku tak segera beranjak. Aku masih melongok-longok ke dalam toko. Aku tahu, aku pernah beli barang-barang tersebut di kios ini. Barang-barang itu, waktu itu mas nya ambil di rak bagian atas, bahkan harus naik di atas kursi untuk menggapainya. Manalah mungkin ibu tua itu mengambilkannya. Bisa-bisa celaka dia jika naik kursi menggapai-gapai barang-barang itu.
          Ketika aku masih berdiri gelisah, datanglah seseorang, "Mau beli apa pak?" tanya orang itu, mengejutkanku dari lamunanku. Dia bukan pria yang biasa melayani kios kecil itu. Mungkin, sedari tadi ia telah memperhatikan perbincangan yang agak rusuh antara aku dan ibu tua tersebut.
          Serta merta aku tunjukkan daftar belanjaku di secarik potongan kertas bekas.
          "Apa ini pak?" kembali orang itu bertanya, belakangan aku tahu ia adalah salah satu tukang ojek yang mangkal dekat kios tersebut. Memang di depan agak ke kiri kios biasa banyak ojek yang mangkal menunggu penumpang untuk di antar ke dalam lingkungan pemukiman sekitar kecamatan.
          Akupun menjelaskan, "Saya butuh map binder dan isinya ..."
          Bapak tukang ojek itu membaca potongan kertas bekas itu, "Dua puluh lima, ... dua puluh empat ...," bapak tukang ojek masih keheranan, "Ini dua puluh lima, dan dua puluh empat apa pak?" ia lanjut bertanya meminta penjelasan.
          "Dua puluh lima pack map binder yang isi 12 tiap pack nya, dan dua puluh empat pack isi binder yang isi 100 setiap pack nya ...biasa itu yang saya beli ...," jelasku kepada bapak tukang ojek itu.
          "Wuih ... banyak ini," ia terkesiap, "berapa harganya biasa bapak beli?" bapak tukang ojek itu semakin ingin tahu.
          "Se pack map binder 30 ribu, sedang isi binder se pack nya 7.500 ...," aku kembali mengingat-ingat harga yang pernah aku beli barang-barang tersebut di kios ini.
          Bapak tukang ojek itu, diam sesaat, berhitung, dan setengah menjerit, "Wah, banyak itu belanjaan sekitar di atas 500 ribu ..."
          "Bu, belanjaan bapak ini banyak lho ... sayang jika tidak dijualin," ia menoleh ke ibu tua yang masih duduk di kursi kecil.
          Ibu tua terdiam sesaat, lalu berkata, "Saya ndak tahu barang-barang itu kayak apa dan tempatnya ditaruh dimana..."
          Bapak ojekpun langsung menyambar sembari menoleh kepadaku, "Biasa mas e ambil barang-barang itu di sebelah mana?" sambil melongok-longok ke dalam kios, matanya bergerak ke sana-sini mencari.
          "Seingatku mas e ambil di rak bagian atas, mesti naik-naik pak ...." akupun menerawang ke atas mencari-cari letak barang-barang itu, mana terhalang barang-barang lain pula yang digantung, bergelantungan bagai rimba raya alat-alat rumah tangga.
          "Yaaah, susah ambilnya, mana bisa ibu ini ambil ...," bapak ojekpun lemas tak bisa menolong. Mungkin maksud dia, jika barang-barang itu diletakkan di bawah ia bisa menunjukkan kepada ibu tua. Karena mana tahulah ibu tua itu dengan benda bernama "binder", "isi binder", apalagi loosleaf ukuran A5 seukuran kertas novel. Mungkin dengar saja baru kali ini.
          Namun ternyata bukan itu masalahnya. Masalahnya barang-barang itu berada di puncak rak, takkan tergapai. Bahkan membahayakan ibu tua renta bongkok jika sampai naik-naik.
          Bapak ojekpun, juga tak enak kalau sampai masuk-masuk ke dalam kios. Ia bermaksud menunjukkan benda-benda itu dari luar kios.
          "Yaah, sayang sekali ... orderan gede, tapi gak bisa diproses ...," keluh bapak ojek, seolah-olah dia sendiri pemilik kios itu. Memelas ia memandang ibu tua. Kasihan.
          Ibu itupun tersenyum pasrah.
          "Jadi saya beli dimana? Toko Oke?" aku seakan bertanya kepada diriku sendiri. 
          Bapak tukang ojek dan ibu tua itu memandangiku, seolah menunggu keputusan hakim di pengadilan. Mungkin dibenak mereka berpikir, "Mengapa tidak besok saja belinya?" Ya, aku harus mendapatkannya hari ini.
          Akhirnya, aku berkata lirih, "Ya sudah, terpaksa aku ke toko Oke ...," dan mulai melangkahkan kakiku mengarah ke toko Oke. Rasanya, kakiku seakan ada beban puluhan kilogram yang menggelantung. Begitu berat meninggalkan ibu tua itu.
          Ibu tua dan tukang ojek itu memandangku, seolah melepas orang yang sangat diharapkan untuk masih tinggal bersama mereka.
          Apa boleh buat.
          Sesampainya di toko Oke, secepatnya aku masuk ke toko yang telah lama aku tak bertandang ke situ. Aku disambut beberapa karyawan toko itu, salah satunya pria. Namun karyawan pria tidak menyambut, dia asyik duduk di kursi kecil sambil tap-tap gawainya. Cuek aja.
          "Cari apa pak?" begitu sapaan salah satu karyawan wanita toko itu.
          "Isi binder, yang isi 100 ukuran A5," jawabku singkat. Aku tak mau berlama-lama di toko ini, karena banyaknya karyawan wanita. Dan, memang ada keengganan ke toko Oke, sejak peristiwa gagal fotokopi, kala itu.
          "Itu di situ ...," kata karyawan wanita itu dengan dingin, sambil menunjuk salah satu etalase dari sekian belasan rak dan etalase di toko tersebut, saking lumayan besar toko tersebut. Sangat kontras dengan kios Lestari. Karyawan wanita itu tidak bergeser dari tempat berdirinya. Tak ada keinginan untuk memanduku menemukan isi binder tersebut. 
          Akhirnya aku cari-cari sendiri letak looseleaf itu. Ternyata di bagian bawah etalase, sampai-sampai aku mesti jongkok di depan etalase untuk menemukannya.
          Nah, akhirnya ketemu juga. Aku lihat harganya, "Kok lebih mahal harganya daripada harga di kios Lestari?" kalbuku berkata. Lumayan selisihnya jika beli banyak. Baik, aku tunda dulu keputusannya.
          "Kalau map yang berlubang dua, bisa diisi looseleaf dimana mbak?" aku pikir memastikan dulu barang-barang yang aku cari ada semua, baru aku putuskan untuk membelinya.
          "Itu di sana ... di rak belakang," karyawan wanita itu benar-benar bergeming, bagaikan ada magnet gravitasi yang hebat di telapak sandalnya. Sampai-sampai untuk menunjukkan tempat barang yang aku tanyapun, malas sekali.
          Akhirnya, aku menuju belakang toko Oke, melewati di depan karyawan pria yang sedang duduk asyik dengan gadgetnya. Tetap cuek juga.
          Sampai di rak belakang, aku kesulitan mencari map yang aku maksud. Lihat ke atas, bawah, samping rak, aku tak menemukan map tersebut. Perasaanku campur aduk. Kesal dicuekin, dan ingat peristiwa gagal fotokopi gara-gara toko Oke tak jadi buka, tanpa konfirmasi dari pihak toko kepadaku, sampai detik inipun. Belum lagi suasana campur baur dengan karyawan-karyawan wanita. Semakin tak betah dan malas aku mencari barang-barang tersebut.
          Kembali terbayang wajah ibu tua renta berjalan bongkok tertatih-tatih. Akupun juga terbayang wajah ibuku yang terkapar di atas pembaringan tak bisa berbuat apa-apa akibat stroke. Kalbuku menderu-deru. Nafasku memburu. Emosiku seakan masuk ke dalam mesin molen pengaduk beton cor bercampur antara rasa marah dan haru. 
          Paras ibu tua itu kembali membayang-bayangi imajinasiku. Tentu ia masih duduk di sana, menunggu pembeli. Entah anak sekolah yang hanya membeli pinsil atau penghapus yang ibu tua itu bisa menggapainya di etalase depan kios kecil itu. Atau sekedar anak-anak beli mainan lato-lato. 
          Letupan-letupan di dadaku yang semula seperti petasan cabe rawit, mendadak semakin besar berubah menjadi letusan-letusan petasan kembang api.
          Meledak sudah. Kali ini, seperti granat menjebol jantungku. Akupun beranjak.
          Berjalan cepat, secepatnya keluar dari toko Oke. Melintas begitu saja di antara karyawan-karyawan toko yang terheran-heran.
          "Gimana pak? Jadi beli?" itu saja kalimat yang terlontar dari salah satu mereka.
          "Enggak," jawabku singkat, cepat tanpa menoleh sama sekali, dan akhirnya aku telah berada di luar toko. Lega rasanya.
          Balik ke kios Lestari. Aku tak tahu bagaimana caranya agar aku mendapatkan belanjaanku di kios itu. Sepertinya tak mungkin ibu tua itu naik-naik menggapai rak. Sangat berbahaya.
          Pokoknya aku kembali ke kios itu dulu. Bisa beli apa tidak, bagaimana nanti.
          Kebalikan dari yang tadi kuberjalan dari kios ke toko Oke. Jika tadi begitu berat meninggalkan kios, kini aku begitu cepatnya melangkah kembali ke kios. Seakan ada magnet begitu kuat mengisap ke arahnya.
          Belum sampai ke kios, aku telah terlihat oleh bapak tukang ojek. Ia memandangku keheranan. Mimik wajahnya tercetak suatu raut seolah bertanya, ada apa?
          Begitu sampai di depannya tanpa ba bi bu, akupun berujar, "Lebih mahal ...," kata-kataku terjeda sejenak, lalu, "bapak bisa bantu ambilkan barang-barang itu di rak atas?" lalu lanjutku, "khan ibu itu tak mungkin naik-naik, bisa jatuh nanti ..."
          Bapak ojek itu mengalihkan pandangan ke arah ibu tua yang masih duduk di kursi kecil, meminta persetujuan.
          Anggukan sedikit ibu tua sudah cukup untuk bapak ojek itu melakukannya, segera.
         Proses pengambilan barang-barang berlangsung mudah. Bapak tukang ojek naik ke kursi menggapai barang-barang tersebut. Bahkan akupun ikut masuk ke dalam kios, membantu menyambut barang-barang tersebut.
         Paras wajah ibu tua yang cerah sudah cukup menunjukkan persetujuannya. Ndak masalah.
         Ternyata, stok loose leaf isi 100 ukuran A5, sampai habis terkuras semua untuk kebutuhanku.
         Ibu tua, sibuk dengan kalkulatornya. Menghitung. "Isi bindernya saya korting ...," Masya Allah, "Semua 517 ribu 5 ratus ...," lanjutnya.
         "Ibu masih kuat pikirannya untuk menghitung ...," begitu komentar bapak tukang ojek takjub.
         Aku bayar. Transaksi selesai.
         
***

          Kini, aku telah di belakang kemudi roda empat, meluncur perlahan. Pulang.
          Masih terngiang-ngiang di gendang telingaku kata-kata dengan nada berat gurunda kami dalam rekaman kajian "Taman Orang-orang Berakal dan Hiburan Bagi Orang-orang yang Mempunyai Keutamaan", menyitir perkataan sahabat Ali bin Abu Thalib radhiyallahu anhu, kurang lebih, "Rizki itu ada dua, satu rizki yang kita kejar dengan usaha kita, satu lagi rizki mengejar kita."
          Terbayang imajinasiku, pria yang menjaga kios kecil tersebut, sedang terkapar di atas pembaringannya, sakit di rumahnya. Bahkan, ia tak tahu menahu apa saja yang telah terjadi baru saja, di kiosnya menjelang siang ini.
          Dan, aku masih ingat pula kata-kata terakhir ibu tua renta dan bongkok tertatih-tatih jika berjalan, sebelum aku beranjak meninggalkan kios kecil itu untuk pulang, "Pak jangan bilang-bilang ke toko Oke ya, kalau di sini lebih murah ..."
          Kalbuku, kini baru menjawab, "Bukan, bukan karena itu, sungguh."
          
***

Buku Menulis
Kisah Inspiratif

rasa Novel - 55k

Mendesain kebiasaan BELAJAR ilmu syar'i dengan MENULISkannya, diretas bersama teman setia kopi di studio sketsarumah.com.
F A Q (Frequently Asked Questions)
Pertanyaan yang sering diajukan

Silahkan chat dengan tim kami Admin akan membalas dalam beberapa menit
Bismillah, Ada yang bisa kami bantu? ...
Mulai chat...