www.izzuka.com

#27 Aspek-aspek Titik Pandangan Deskripsi Tempat

          Ada beberapa aspek lagi terkait titik pandangan darimana pengamat berada untuk mendeskripsiksn suatu tempat atau hal. Diantaranya:

Lokasi jarak

         3 pola sudut titik pandangan pada bab sebelum ini, semua yang diungkapkan adalah terkait dengan aspek lokasi jarak. 

         Pada pola statis terlihat contoh deskripsi dengan kata-kata "di hadapan", "di belakang", sehingga mampu kita imajinasiksn berapa kisaran jarak antara pengamat terhadap objek. Tentu hanya sekitar beberapa meter.

         Begitu pula pada pola bergerak, malahan pada contoh deskripsi diungkap jelas-jelas jaraknya; 5 meter, 2 meter dan 1 meter.

         Adapun pada pola kerangka, lokasi jarak pengamat tidak begitu tersurat secara rinci dikarenakan deskripsi suatu sudut kecil kota dengan segala aktivitasnya, boleh jadi diamati secara global saja, bisa dari dekat, bisa pula dari jarak pandang yang jauh.

Waktu lokasi

          Waktu terjadinya uraian deskripsi suatu lokasi, tempat atau hal sangatlah memegang peranan penting.

          Deskripsi suatu jalan yang ramai pada pagi hari tentulah akan berlainan dengan keadaan siang, sore, lebih-lebih pada malam hari. Deskripsi mustinya sesuai dengan kesibukan-kesibukan manusia pada waktu-waktu tersebut.

          Cahaya-cahaya matahari, atau lampu-lampu jalanan pun akan menimbulkan nuansa pada benda-benda yang berlainan, tergantung waktu pendeskripsian.

          Maka dari itulah, konsistensi ruang dan waktu merupakan faktor yang sangat penting untuk mendapatkan hasil deskripsi yang betul-betul mendekati keadaan sebenarnya.

          Dengan demikian, deskripsi yang optimal dapat dimunculkan gabungan dari salah satu pola statis, bergerak ataupun kerangka dengan waktu di lokasi tersebut, sesuai perubahan waktu nya juga.

          Perhatikan contoh berikut, deskripsi dengan pola bergerak dijalin dengan waktu lokasi ketika pagi hari:

          Pagi itu seperti pagi-pagi biasanya. Sang surya satu jam yang lalu telah menampakkan wajahnya. Biasa? Ya, karena aku biasa melewati jalan ini hampir setiap pagi. Melaju dari kompleks perumahanku menuju sekolahku. Banyak kendaraan angkot susul-menyusul, sodok-menyodok berusaha lebih dahulu menyekop anak-anak sekolah yang telah menanti supir-supir mereka yang kadang sama, kadang pula lain orang setiap harinya. Anak-anak sekolah memang majikan bagi supir-supir angkot ketika hari mulai beranjak. Kesibukan sepagi ini memang biasa didominasi klan berbaju atasan putih, dan bawahan merah tua, biru tua atau abu-abu.  

          Klan karyawanpun tak kalah ikut meramaikan suasana pagi bersemangat ini. Akan tetapi, baru terlihat satu-dua pegawai berkendara sepeda motor. Masih terlalu pagi. Kalaupun itu karyawan, paling-paling adalah bagian kebersihan. Pegawai kebersihan memang selalu kebagian paling awal dan paling rajin. Mau tak mau, musti, tidak boleh tidak.

          Bundaran Simpang Limo Ratu Samban telah terkunci pada bidikan ujung mataku. Begitu sampai bundaran itu, aku melaju memiringkan badan ke kiri, bagaikan balapan MotoGP, berbelok ke kiri, menurun menuju jalan Anggut Atas. Jalan Anggut Atas agak lebih mulus dibandingkan jalan sebelum aku sampai persimpangan Bundaran Simpang Limo Ratu Samban. Persimpangan bercabang menjadi beberapa cabang jalan. Salah satunya yang sedang aku susuri. O iya, hampir lupa cerita, aku melaju dengan mengendarai sepeda balap kesayanganku, sepeda yang aku beli dengan uang tabunganku sendiri. 

          Tanpa terasa aku telah sampai melintas di depan Rumah Pengasingan seorang pemimpin dari Ibukota, lalu lanjut ke jalan Anggut Bawah. Jalanpun tanpa terasa berlanjut menurun dengan landai, seperti nama jalannya.

          Tepat di depan Rumah Sakit Umum, tiba-tiba sepedaku oleng. Jok sepeda yang aku duduki terasa bergoyang-goyang ke kiri dan kanan, walaupun tak terlalu ekstrem. Segera aku tekan tuas rem untuk menonaktifkan sang kereta angin. Berhenti.

          Aku merasakan ketinggian sepeda agak merendah. Aku melongok ke bawah, ke arah roda belakang. Pasti dari situ penyakitnya. Benar saja, aku telah mengira. Ban sepeda belakangku kempes. Wah, pasti bocor, ada sesuatu entah paku atau apalah yang menembus ban itu. Sudah jodohnya.

          Aku tengok kiri, tengok kanan, lihat ke belakang, lihat ke depan, kepalaku seperti periskop mencari bengkel tambal ban sepeda. Bagaimanalah ada bengkel tambal ban sepeda yang sudah buka? Masih terlalu pagi. Atmosfir ibu kota propinsi yang terletak di bagian selatan bumi Swarnadwipa ini belum menghangat oleh kegiatan orang-orang bekerja, yang ada baru lalu-lalang anak sekolah mengejar waktu sebelum bel masuk kelas melengking.

          Sesaat, aku menatap ke arah depan, aku baru sadar, aku persis di depan gerbang jalan masuk komplek perumahan Tembok Baru. Ya, memang begitu namanya: Tembok Baru, entah mengapa namanya begitu.

          Tiba-tiba, jantungku terhentak agak meletup. Kompleks perumahan yang membuat aku ingat seseorang. 

Pengalaman tak Terlupakan "Ban sepeda bocor".

Sikap Penulis, Tokoh, atau Narator

          Aspek ketiga yang tak dapat diabaikan adalah masalah watak penulis, tokoh atau narator (tokoh yang bercerita) dan hubungannya dengan objek. Dan, itu dapat disingkat menjadi sikap yang diambil terhadap objek. Melalui sikap ini akan diketahui sifat atau suasana yang menguasai narator, tokoh atau penulisnya sendiri ketika mengadakan deskripsi tersebut.

          Setiap penulis pasti mengambil suatu sikap tertentu pada waktu membuat deskripsi. 
  • Entah itu dalam suatu wacana tulisan Eksposisi Argumentasi, sebagai fakta, dan itulah sikap atau sudut pandang penulis sesuai tema yang ia usung.
  • Atau dalam suatu wacana tulisan Narasi, Kisah atau Cerita, dan itu sikap tokoh atau narator di dalam peristiwa yang dialami.
          Sikap seseorang terhadap deskripsi, baik ia penulis, tokoh atau narator dalam cerita ditentukan oleh: 

✓ alat-alat pencerapan (persepsi) yang ia dapat sejak lahir.
pengalaman-pengalaman dan latihan-latihan sehari-hari.

          Dengan demikian, maka pencerapan yang dilakukan setiap orang terhadap objek yang sama boleh jadi berbeda satu sama lain. Maka, setiap orang bisa mengatakan hal-hal yang berlainan terhadap objek yang tak berbeda. Setiap orang mempunyai konteks tersendiri terhadap objek, sesuai pengalaman hidupnya di masa lalu yang berulang-ulang.

          Ketidak-samaan pencerapan pada setiap orang, mampu terjadi karena empat hal:
          
1. Kesensitifan alat pencerapan setiap orang tergantung banyaknya pengalaman dan latihan. Ada yang sering melatih pancainderanya dengan cermat, sehingga mencapai ketelitian yang tinggi, tetapi ada pula yang sebaliknya. Sehingga ia kurang sensitif.

2. Objek mempunyai sifat-sifat yang kompleks, walaupun sesederhana bagaimanapun. Penulis, tokoh atau narator mencerap dengan inderanya berdasarkan interpretasinya. Maka, sedikit banyak seringnya terjadi pengurangan nilai-nilai dari nilai-nilai sebenarnya objek.

3. Pengalaman-pengalaman pengamat pada masa lampau terhadap suatu objek yang sama atau mirip, sedikit banyak akan mempengaruhinya dalam mencerap objek yang ia deskripsikan. Pengamat yang mungkin ia seorang penulis, tokoh atau narator dalam suatu cerita akan mencoba menemukan kesamaan-kesamaan antara objek yang di hadapannya dengan objek yang pernah ia lihat sebelumnya. Artinya, ia telah membuat referensi tentang objek tersebut dengan objek yang telah ia lihat.

4. Pencerapan terhadap suatu objek, juga dipengaruhi oleh siapa yang mengamati objek tersebut. Misalkan sebuah rumah, tentu akan berbeda hasil pencerapan oleh seorang wartawan dengan seorang arsitek. Objek yang dihadapi sama, yaitu sebuah rumah, tetapi perhatian mereka secara khusus pada bidang gerak mereka masing-masing membuat persepsi mengenai rumah tersebut berbeda.

          Jadi, dengan demikian dapat ditetapkan sampai dimana deskripsi suatu objek, hal ataupun tempat dapat dikatakan subjektif, dan sampai dimana dikatakan objektif.
  • Suasana hati ketika waktu pencerapan mampu menyimpangkan seseorang dari keadaan objek sebenarnya.
  • Sanggup menyimpangkan dari kenyataan-kenyataan fisik objek
  • Maka yang demikian tersebut, hasil deskripsi sudah menjurus ke sifat subjektif.
  • Namun, jika pencerapan yang dilakukan dengan cermat menghasilkan sifat-sifat faktual yang dideskripsikan, maka deskripsi tersebut mengarah kepada sifat objektif.
          Akan tetapi, kembali diingatkan seperti yang telah disampaikan di awal, 
  • deskripsi yang 100 persen objektif sangatlah sulit dilakukan
  • Seseorang tak sanggup sama sekali menghilangkan dirinya dari perasaan. 
  • Subjektif atau objektif adalah masalah yang relatif. 
  • Di samping itu, masih ada faktor-faktor lain yang telah disebutkan, seperti 
    • seleksi bagian-bagian yang relevan, 
    • cara urutan menyusun detail-detail, 
    • sikap yang diambil terhadap objek
  • dan tentunya kemampuan bahasa yang dipergunakan penulis dalam menyajikan deskripsinya.

***

Mau belajar menulis Kisah Nyata via daring (online), ikuti tahapannya, TAP /KETUK > di bawah ini:

Atau, mau belajar menulis Kisah Nyata via luring (offline), beli saja bukunya, TAP /KETUK > di bawah ini:
Buku Menulis
Kisah Inspiratif

rasa Novel - 55k


Mau Belajar Ilmu Syar'i dengan Menuliskannya, mudah, sedikit demi sedikit, dan saban hari, TAP /KETUK > di bawah ini:
WhatsApp Salafy Asyik Belajar dan Menulis

Sederhana itu Lebih - Less is More. Desain bukanlah menambah-nambah biar berfungsi, tetapi desain adalah menyederhanakan agar berdaya guna.
Produk

Online Shop
Buku, Peranti belajar,
dan sebagainya



Misi


Fakta
Ciri Khas Artikel



F A Q (Frequently Asked Questions)
Pertanyaan yang sering diajukan

Silahkan chat dengan tim kami Admin akan membalas dalam beberapa menit
Bismillah, Ada yang bisa kami bantu? ...
Mulai chat...