www.izzuka.com

Portal #05 Magang

 Portal #05  Magang

         Hari masih terasa sejuk. Jarum pendek jam tangan Malva masih menunjukkan angka 7 lebih 30 menit. Malva melangkahkan kakinya setengah tergesa di jalanan aspal di bawah rindangnya pepohonan komplek perumahan mewah.

          Ia baru saja turun dari bis kota umum, dalam perjalanan pagi ini menuju kantor studio arsitek Han Awal, untuk pertama kalinya. Setelah lulus dari ujian skripsi, Malva masih mempunyai tanggungan program Kerja Praktek ke 2, yaitu magang di suatu konsultan arsitek.
          
         Konsultan Arsitek Han Awal termasuk konsultan yang profesional di dunia arsitektur. Bahkan, salah satu karyanya adalah bangunan tower bertingkat banyak “Universitas Atma Jaya” yang terletak di “hook” (sudut) persimpangan Jembatan Semanggi, masih di area pusat Ibukota agak ke selatan.

          Betapa bangganya Malva, ia sebagai lulusan terbaik angkatan pertama Arsitektur di kampusnya, lalu mendapat kesempatan magang kerja di suatu konsultan arsitek bonafide.

          Ia teringat, bahwa teman satu angkatan di kampusnyalah, Ipal dan Ruelia mengajaknya untuk magang di konsultan itu. Keduanya dari suku Padang. Ipal posturnya menjulang, mudah senyum, suka bahasan ilmiah dan matanya selalu menyimpan binar jenaka. Sedangkan Ruelia adalah wanita yang tegas dan berani.

          Sonder sadar, akhirnya Malva sebentar lagi, menjelang sampai di kantor konsultan itu. Kantor itu sejatinya rumah tinggal di antara perumahan penduduk tingkat ekonomi menengah ke atas. Cukup elite dan luas. Berpekarangan, dan di depan rumah jalanan lingkungan berlapiskan aspal.

          Bertepatan di seberang jalannya ada masjid lingkungan. Hal tersebut, membuat tenteram hati Malva dan teman-temannya sekampus yang magang di konsultan itu juga, karena akan memudahkan mereka untuk melaksanakan shalat wajib yang 5 waktu, saat waktu shalat tiba di tengah waktu bekerja.

          Dari pekarangan depan kantor tersebut langsung bisa akses ke studio gambar tempat Malva dan teman-temannya bekerja. Sungguh suatu suasana yang sangat ideal untuk mulai meniti karier sebagai arsitek yunior muslim.

          Bau harum kertas kalkir dan aroma kopi pagi menyambut Malva di studio. Di sini, setiap garis yang ditarik adalah masa depan sebuah bangunan.

          Setelah, salam dan permisi dan bergabung dengan teman-temannya Ipal dan Ruelia yang telah hadir di kantor, maka diperkenalkanlah satu persatu dengan staff kantor konsultan tersebut.

          Pertama, kepada Kepala Studio, yang ternyata orang suku Jawa bertubuh besar, ramah dan banyak senyum. Lalu lanjut berkenalan dengan staf-staf lain, seperti para drafter (tukang gambar).

          Kemudian dipertemukan kepada yang sedang magang juga di situ dari Institut Teknologi Surabaya (ITS), yang sepertinya berbangsa Tionghoa (Cina). Pun diperkenalkan putra Bapak Han Awal, Yori Antar. Dan, Malva perhatikan sepertinya juga berbangsa Cina, juga staf-staf lain mayoritas berkebangsaan Tionghoa. 

          Lho! Kok Malva baru tahu, ia mengira nama Han Awal itu bersuku manalah, perkiraan kuat Malva Sumatra Barat (Padang), atau yang lain seperti; Kalimantan, dan suku pribumi lainnya. Ternyata Tionghoa, ya tidak mengapa sih, cuma rata-rata mereka khan bukan muslim ya … Ya sudahlah, orang cuma hubungan kerja tak jadi masalah dalam keyakinan agama Malva. Semoga saja tak ada masalah.

          Hari-hari kerja berikutnya sangat nyaman. Kerja lancar jaya, shalat di masjid depan seberang kantor mulus. Untuk makan siang pun ada warung makan yang cukup representatif di lingkungan tersebut. Dan, tentu mendapat honor bulanan yang bisa disisakan untuk tabungan setelah dipakai untuk transportasi dan makan.

          Suatu siang, di studio gambar kantor Han Awal, kepala studio pak Surili memanggil Malva, dan berkata, “Malv, tolong bantu gambar proyek ini ya …,” sembari menyodorkan kertas putih terdapat gambar coretan-coretan suatu desain bangunan.

         Malva serta merta mengangguk, tanda senantiasa siap dengan etos kerja yang baik.

          Saat kertas itu di tangannya, Malva terperanjat melihat sketsa bangunan yang ditorehkan di kertas putih itu. 

          Sketsa itu sangat artistik, goresannya tegas namun luwes. Namun, bagian depan dan tepat di puncak atap yang menjulang tajam ke atas, ada di sana sebuah tanda yang membuat tanganku mendadak kaku. Salib? Gereja? Sebuah garis vertikal dan horisontal yang membentuk simbol agung bagi keyakinan lain. Simbol itu, mendadak membelah duniaku menjadi dua.

          Malva membawa sketsa kertas itu ke meja gambar kerjanya, dan termenung. Lalu, ia mencerna apa yang seharusnya ia kerjakan dengan tugas tersebut. Ia belum memulai.

          Tak berapa lama, terlintas dalam benak Malva ruang kamar tidur kosnya, yang takkan terlupakan sepanjang hidupnya. Saat-saat kuliah di kampusnya. Ia seakan masuk ke dalam mesin waktu, dan kembali ke masa lalu itu. 

          Bagaikan video diputar ulang, Malva melihat dirinya sedang meraih suatu buku bercover “Al-Qur’an dan Terjemahannya”. Dan, huruf-huruf, kata-kata, dan kalimat-kalimat di dalam buku itu berlantasan kembali di pikiran dan kalbunya. Yang paling dia ingat, “Agama-agama selain Islam telah kadaluarsa, dan Islam menjadi agama akhir zaman untuk umat seluruh alam. Dan, agama akhir zaman dengan penutup Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, tak mungkin Allah menurunkan berbagai aturan untuk umat manusia.” Satu Tuhan, satu aturan.

          Berarti, kalau Malva menunaikan tugas menggambar proyek gereja yang diperintahkan, tentu bertentangan dengan keyakinan yang ada di hati. Apakah tangannya akan berkhianat kepada hatinya? Duh, gimana ya? Lalu, jika menolak menggambarnya, pak Surili marah gak ya? Dan, lapor ke atasan ke pak Han Awal, lalu mendadak mereka rapat, lanjut mengeluarkan Malva dari magang di kantor konsultan ini?

          Tiba-tiba, Malva pun ingat momen kala ia kelas 4 SD, di Bengkulu, saat ia melihat temannya Ardea berangkat menuju masjid untuk shalat Jum’at. Dan, kalbunya berjanji untuk mempelajari agamanya dan mengamalkannya.

          Tetapi, … jika ia tetap melaksanakan tugasnya, hati Malva akan terus-menerus gelisah. Apakah Malva akan ditanya setelah mati nanti? 

          “Wahai Malva, mengapa kamu mau menggambar gereja, itu menyelisihi imanmu. Bukankah engkau telah bersyahadat dan mengakui Muhammad sebagai Rasulullah dan penutup para Nabi? Apa tanggung jawabmu atas perbuatanmu itu?” 

         Astaghfirullah, bagaimana ini? Mendadak Malva ingin keluar saja dari ruangan studio gambar, hatinya resah, galau bagaikan angin puting beliung berpusar, tak tentu arah. Ingin bebas dari tekanan-tekanan. 

          Apa resign saja dari magangnya? Apa sampai separah pada keputusan itu? Astaghfirullah, betapa berat menjalankan menjadi muslim yang sebenarnya? Baru mendapat nikmat bisa bekerja, sementara orang lain sulit mencari pekerjaan, dan Malva ingin menjadi orang baik, sudah Allah beri ujian. Apakah dunia ini memang tempat ujian-ujian?

          Namun, Malva pernah mendengar di kajian, Allah memberi ujian sesuai kemampuan kita. Sanggupkah Malva melewati ini semua?

          Waktu merambat lambat, tetapi terasa merayapi hati Malva menuju suatu keputusan yang tak pasti.

          O iya, bagaimana dengan teman-temannya, Ipal dan Ruelia? Apakah mereka berdua juga diberi tugas yang sama? Menggambar gereja. 

          Mungkin, bisa berdiskusi dulu untuk meminta masukan mereka berdua, sebelum memutuskan suatu tindakan.

          Maka, Malva pun menghampiri Ipal di meja kerjanya, ingin melihat apa yang sedang Ipal kerjakan. Ternyata Ipal juga termenung melihat gambar gereja di hadapannya. Malva saling pandang terhadap Ipal, seolah-olah tahu apa yang ada dibenak mereka sama, keraguan menunaikan tugas dari pak Surili. Hendak diskusi, khawatir didengar karyawan lain yang bersebelahan lokasinya. Yang mungkin berkeyakinan lain yang rata-rata dari bangsa Tionghoa.

          Lalu, lanjut Malva menuju meja kerja Ruelia. Begitu pula, sama saja, Ruelia mendapat tugas yang sama menyelesaikan gambar gereja. 

          Malva berusaha berkumpul dengan dua temannya sejenak, lalu berbisik, “Kita bicarakan di masjid saja setelah shalat Zuhur, … kalau di sini gak enak ya …”. Kedua temannya mengangguk, sepakat. Lalu, bubar kembali ke meja kerja masing-masing, tanpa memulai dan mengerjakan sesuatu tentang gereja tersebut. Ya, Malva … pura-pura sibuk dan bekerja, sambil lirak-lirik ke teman kerja yang berada di sampingnya. Khawatir dicurigai, kok tidak menggambar.

          Gelisah menjamah dan merambah kardia Malva, waktu seakan merambat tersendat-sendat saat menuju waktu Zuhur. Ah, mana azan Zuhur, mengapa tak jua membahana?

          Mungkin, konsultan sedang mendekati deadline gambar gereja tersebut, sehingga seluruh karyawan di studio gambar diaktifkan untuk menyelesaikan gambar gereja tersebut. Masing-masing karyawan mendapat tugas gambar berbeda, tetapi pada satu proyek: gereja.

          Pantas saja konsultan menerima proyek desain gereja, Malva baru mengerti bahwa pak Han Awal, Yori Antar, dan beberapa staf memang non muslim, bahkan dari bangsa Tionghoa. Malva tersenyum kecut sendiri seperti orang enggak beres, “Kirain Han Awal orang Padang … duh!”

         Padahal sebelumnya, Malva membayangkan sosok Han Awal adalah figur bapak bangsa bersahaja dengan kearifan lokal Sumatra. Namun, saat melihat Yori Antar dan staf lainnya, Malva tersadar bahwa keindahan arsitektur tidak mengenal sekat etnis, meski hatinya mulai bertanya-tanya tentang sekat keyakinan.

          Tiba-tiba azan Zuhur pun berkumandang, alhamdulillah. Suaranya yang bertalu-talu masuk ke ruang studio begitu jelasnya, karena memang posisi masjid pas berseberangan dengan kantor konsultan. Malva pun bersegera ke masjid, lega rasanya.

          Setelah shalat Zuhur, mereka bertiga, Malva, Ipal dan Ruelia berkumpul di dalam masjid. Mereka duduk melingkar.

         “Jadi gimana dong? Masa’ kita gambar gereja? Sama aja kita khianati Islam kita …,” Malva mulai membuka pembicaraan.

          Ipal dan Ruelia yang keduanya dari suku Padang, tersenyum masam.

          "Loe gila Malv, kalau kita dipecat, belum tentu ada kantor lain yang mau terima anak magang yang 'banyak mau' kayak kita," bisik Ipal, suaranya tenggelam di balik pilar masjid.

          Ruelia menanggapi dengan bola mata goncang, “Gué juga enggak sreg. Repot juga, kita cuma pegawai dan kerja mesti ikut perintah atasan.”

          “Iya, gimana lagi ya … tapi hati gué menolak,” sanggah Ipal, kalbunya berlawanan antara pasrah dan menentang.

          Malva merasa yakin, temannya berdua itu lebih cenderung menolak mengerjakan gambar gereja, dari mendengar nada suara tanggapan mereka. Ada getar-getar suara naik tidak mau terima, walau ada kepasrahan di sana sebagai bawahan. Malva berfirasat, diperkuat mereka dari suku Padang yang teguh dalam memegang norma-norma agama.

          “Bagaimana, kalau kita memohon izin untuk tidak mau mengerjakan gambar gereja tersebut?” Malva memberanikan memberi usul kepada kedua temannya yang sedang resah itu.

          Rongga masjid yang tak seberapa luas itu hening beberapa detik. Malva mengira, teman-temannya akan timbul pertanyaan, ia menunggu.

          “Bagaimana bilangnya supaya pak Surili enggak marah?” Ruelia yang pertama bereaksi.

          “Siapa yang mau bicara pada pak Surili?” Ipal lebih mengedapankan rasionya.

          Iya ya, bagaimana cara bilangnya. Lalu, siapa yang bicara mewakili kami bertiga, Malva pun berpikir, kira-kira Ipal mau gak ya?

         “Loe aja Pal,” Malva menunjuk Ipal dengan isyarat mendongakkan kepalanya sedikit ke arah Ipal.

          “Enak aja, loe aja …” serta merta Ipal bereaksi, sambil tersenyum, berusaha menghindar.

          “Iya loe aja Malv …,” Ruelia menyetujui usul Ipal, sebelum ia sendiri ditunjuk. Ipal dan Ruelia mengetahui, Malva sejak akhir-akhir kuliah di kampus terlihat berubah 180 derajat, dari berangasan cuék menjadi pendiam dan agamis.

          “Masa’ gué … Ipal cocok, khan badannya tinggi besar terkesan berwibawa,” Malva berargumen.

          “Bisa aja loe …belum tentu,” Ipal tetap menolak, masih dengan senyumnya semakin melebar.

          “Iyaaa, udé loe aja Malv, loe tadi khan yang buka masalah,“ Ruelia memperkuat dan mendukung Ipal, semakin khawatir pindah ke dirinya penunjukannya.

          Malva pun menyerah, tetapi ia usul, “Ya udah gué yang ngomong, tapi supaya gué enggak grogi dan gemetaran di depan pak Surili …,” Malva mesem tiga detik, lalu melanjutkan, “Eloe berdua juga ikut ngadep ke pak Surili, gimané?”

          Ruelia dan Ipal saling pandang, dengan mimik saling bertanya. Ipal mengangkak bahunya seraya tersenyum. Namun, setelah itu menyetujui dengan mengangguk-angguk kepalanya, daripada dia yang jadi juru bicara.

          Ruelia mengangguk gelagat setuju, sebelum Malva berubah pikiran.

          Masalah yang belum tuntas, adalah bagaimana susunan kalimat yang akan disampaikan kepada Pak Surili, duh bagaimana nanti sajalah. Malva pasrah, sadrah dan tawakal.

          Jam menunjukkan pukul 1 siang, saatnya bekerja kembali setelah istirahat shalat dan makan siang.

          Malva telah duduk di kursi meja kerjanya, begitu pula kedua temannya.

          Malva resah menunggu pak Surili berada di ruangan. Rencana Malva, begitu pak Surili memasuki ruangan kerja, ia akan mencegatnya di area yang tidak berdekatan dengan rekan-rekan kerja yang lainnya, agar yang akan disampaikan ke pak Surili tidak terdengar oleh karyawan lainnya.

         Detak-detak jantung bagai detik-detik waktu yang bergerak seolah semakin cepat. Malva memantau terus pintu masuk ruang studio. Malva telah pasrah apapun yang terjadi, dimarahi, bahkan paling buruk dikeluarkan dari kemagangannya, ia siap.

          Pintu ruang studio berderit. Sosok tubuh besar masuk itu. Benar, Pak Surili, Kepala Studio.
         Malva langsung beranjak dari kursi kerjanya. Memberi kode pada kedua temannya, berbisik, hampir tak terdengar, tetapi terlihat gerakan bibirnya berkata, “Ayo …!” Agar Ipal dan Ruelia membuntuti  di belakangnya, seakan sebagai supporternya. 

         Ipal dan Ruelia, mengekor Malva.

         “Pak Surili …” tegur Malva, dan ia butuh udara sejenak, untuk memantapkan suaranya. Hirup nafas.

         “Ya …,” wajah berbinar yang selalu tercetak pada paras pak Surili, saat berhadapan dengan karyawan-karyawanya, “ada apa?”

          Malva menarik nafas sekali lagi, sementara Ipal dan Ruelia seakan manequin tanpa nyawa. Lantas Malva berkata, “Pak Surili, untuk tugas gambar-gambar yang bapak berikan kepada kami bertiga, kami insya Allah siap mengerjakan …,” Malva terhenti seperti penyelam mutiara kehabisan oksigen pada tabung oksigennya.

          “Lha iya, … terus sepertinya enggak ada masalah khan?” Pak Surili terheran-heran, merasa beres-beres saja.

           Malva mengumpulkan seluruh keberaniannya ditengari senyum selebar mungkin, “Emmm … namun untuk tugas gambar gereja, kami bertiga mohon diberi keringanan agar diganti dengan tugas gambar yang lain …”

          Bunyi mata pena rapido-rapido karyawan menggoreskan tinta di atas kertas kalkir menggema di langit-langit studio, seakan menahan nafas-nafas mereka bertiga.

          Pak Surili mendadak diam, tetapi senyum masih ada di sana, walau dalam suasana apapun menghadapi karyawan. Mencerna maksud Malva dan kawan-kawannya.

          “O gitu …,” Pak Surili berpikir sejenak, lalu berujar tenang, “ya ndak apa-apa …,” senyum semakin lebar tetap ada di sana.

         Kemudian tak berapa lama, Pak Surili menuju meja kerjanya dan memberi isyarat agar mereka bertiga mengikuti, Malva. Ipal dan Ruelia pun mengekornya.

          Pak Surili membuka-buka kertas-kertas berkas tugas gambar arsitektur lainnya, “Kalian gambar yang ini saja.” Senyumnya pun sulit hilang, dan menyerahkan kertas-kertas itu.

         Alhamdulillah. Nafas-nafas Malva dan teman-temannya kembali plong.

         Dengan antusias, Malva menyambut kertas-kertas itu. Ia sangat bersyukur dan dengan rasa terima kasih atas apresiasi Pak Surili sebagai wakil konsultan arsitek Han Awal terhadap keyakinan mereka bertiga.

***

Sederhana itu Lebih - Less is More. Desain bukanlah menambah-nambah biar berfungsi, tetapi desain adalah menyederhanakan agar berdaya guna.
Produk

Online Shop
Buku, Peranti belajar,
dan sebagainya



Misi


Fakta
Ciri Khas Artikel



F A Q (Frequently Asked Questions)
Pertanyaan yang sering diajukan

Silahkan chat dengan tim kami Admin akan membalas dalam beberapa menit
Bismillah, Ada yang bisa kami bantu? ...
Mulai chat...