Portal #05 Ngaji
Portal #05 Ngaji
Setelah menyelesaikan halaman terakhir dari bab dua buku berwajah plastik biru di tangannya, Malva menutupnya perlahan. Ia menyandarkan punggung, membiarkan pikirannya melesat jauh menerobos langit-langit kamar. Ada rasa hampa yang mendesak, seolah-olah sekat persoalan baru yang lebih besar tengah mengintainya di kelokan jalan warung makan biasa Malva makan.
Ke mana aku harus mencari Islam yang sebenarnya?
Pertanyaan itu terus berputar, berisik di dalam kepala. Baginya saat ini, Islam hanya mewujud dalam bentuk bangunan masjid. Namun, apakah ia harus mendatangi masjid kampus? Atau masjid komplek? Ataukah ada pintu lain yang belum ia ketahui?
Seketika, memori masa sekolahnya menyeruak kembali. Malva teringat seorang teman perempuannya di SMA. Gadis itu adalah satu-satunya siswi yang nekat memakai jilbab di sekolah pada zaman ketika penutup kepala masih dianggap asing dan ganjil. Malva ingat betul bagaimana telinga gadis itu kenyang menerima cemoohan dan tatapan miring setiap hari.
Lalu, ingatan itu berkelindan dengan potongan-potongan berita di televisi rumahnya: tentang gesekan antar kelompok Islam, tentang sulitnya menguji prinsip hidup, hingga narasi kelam soal kekerasan dan terorisme.
Bulu kuduk Malva meremang. Apakah berislam secara sungguh-sungguh memang harus semencekam itu? Mengapa jalannya tampak begitu berkabut?
"Ya Allah, beri aku petunjuk...," bisiknya lirih dalam kegelapan batin.
Malva sadar, ia tidak sedang menjemput jalan setapak yang mulus. Jalan di depannya penuh onak dan pecahan kaca. Sementara itu, Malva tahu siapa dirinya: ia bukanlah lelaki bermental baja.
Dahulu, ia hanyalah bocah kurus yang cungkring, pendiam, dan selalu menyembunyikan wajah karena krisis percaya diri. Bayang-bayang masa lalu itu mendadak berputar seperti film usang:
tamparan keras di pipinya oleh teman sekolah yang berkhianat saat pulang sekolah di masa SMP, kerah bajunya yang dicengkeram kasar oleh murid rasis di kelas satu SMA, hingga kejadian paling menyakitkan di atas gunung saat kelas tiga SMA. Ia dipukuli bertubi-tubi oleh sekelompok teman yang sok jagoan tanpa tahu apa salahnya. Hanya karena ia lemah. Hanya karena ia mudah ditindas.
Ada sesal yang mendalam mengapa orang tuanya tak pernah membekalinya ilmu membela diri. Rasa sakit di masa lalu itu tiba-tiba memicu sebuah tekad baru yang menyala. Jika di depan sana ia harus menghadapi jalan Islam yang penuh rintangan, ia tidak boleh lagi menjadi Malva yang ringkih. Ia harus punya taji.
Aku harus belajar bela diri. Harus!
***
Malam itu, dinginnya udara Puncak Pass, Bogor, menusuk hingga ke tulang. Di dalam salah satu ruangan luas di rumah peristirahatan itu, Malva duduk lesehan di atas tikar bersama sekitar seratus murid junior lainnya. Bagi sebagian penggiat bela diri, malam ini adalah malam sakral: penyerahan seragam resmi perguruan pencak silat.
Kini, pakaian kaos oblong biasa berganti dengan setelan putih lengan panjang dan celana hitam longgar yang cingkrang di atas mata kaki, lengkap dengan sabuk putih bersih yang melingkar di pinggang.
Di sudut ruangan, Malva melihat Rino - teman satu kos yang berhasil ia seret ikut latihan agar waktu mudanya tak terbuang sia-sia.
Di depan ruangan, Mas Ekky, seorang instruktur dengan senyum ramah yang khas, mulai membuka acara. Di tangannya, sebatang pipa besi tebal meliuk dan berukir milik pompa air manual merek Dragon dipegang dengan santai.
"Ték!"
Suara patahan tajam tiba-tiba memotong udara. Sunyi mendadak menyergap ruangan.
"Eh, putus..." ucap Mas Ekky tenang, sambil memperlihatkan pipa besi pompa Dragon yang kini telah terbagi dua di kedua tangannya.
Ia mematahkan besi tebal itu semudah orang memotes tangkai kangkung.
Seluruh ruangan menahan napas, diikuti gemuruh decak kagum yang tertahan. Mata Malva membelalak. Ada hasrat yang bergolak di dadanya: suatu hari, aku harus bisa sekuat itu.
"Kalian semua pasti bisa! Tapi ingat, kuncinya hanya latihan rutin dan tanpa putus asa!" seru Mas Ekky membakar semangat.
"Sekarang, mari ikut saya ke belakang. Kalian akan melihat bagaimana para senior melatih kemampuan tingkat tinggi hingga mencapai tahap ini."
Mereka digiring ke taman belakang yang luas, berumput hijau, berukuran hampir seperempat lapangan bola. Di bawah temaram lampu luar, tujuh orang senior tampak duduk bersila secara melingkar. Kepala mereka tertunduk dalam, sangat khusyuk. Kedua telapak tangan mereka menangkup di depan dada, mirip patung Buddha, namun anehnya ada jarak konstan seukuran bola pingpong di antara kedua telapak itu.
Suasana mendadak berubah magis.
Tiba-tiba, tangan-tangan yang saling berhadapan itu bergetar halus. Getaran itu merambat cepat, menjelma menjadi guncangan hebat yang menggila ke seluruh tubuh. Satu per satu dari mereka bangkit dalam kondisi mata terpejam. Mereka mulai meragakan jurus-jurus silat dengan kecepatan di luar nalar manusia. Ada yang bergerak tangkas seperti Bruce Lee, ada yang patah-patah bergaya Jackie Chan.
Namun, alih-alih takjub, batin Malva justru berontak.
Namun, alih-alih takjub, batin Malva justru berontak.
Ada rasa ganjil yang membuat tengkuknya merinding. Gerakan para senior itu terlalu konstan, terlalu cepat, dan seolah tidak mengenal rasa lelah. Ini bukan tenaga manusia. Pikiran Malva langsung melempar ingatan pada tontonan masa kecilnya di kampung halaman: Kuda Lumping. Kondisi ini sama persis dengan orang yang kehilangan kesadaran akibat raga yang diinvasi oleh entitas asing - jin.
Saat gerakan-gerakan beringas itu mulai melemah, para senior itu bertumbangan, terbaring lemas di atas rumput dengan napas memburu. Begitu pelatih kepala menyentuh punggung mereka, barulah mereka tersentak sadar seperti orang yang baru bangun dari mimpi buruk.
"Inilah yang kami sebut sebagai Ilmu Getaran," urai Mas Ekky memecah keheningan.
Sebelum penjelasan berlanjut, seorang murid junior di barisan agak jauh mendadak berdiri dan mengacungkan tangan. Perawakannya kokoh, kekar, dengan rahang tegas yang menonjol kasar. Jenggot dan cambang pendek yang tumbuh di sekitar wajahnya memberikan impresi pertama yang keras, bahkan cenderung sangar. Malva menebak usianya sudah di atas tiga puluh lima tahun.
"Maaf Mas, boleh saya bertanya?" suara bariton pria itu menggema.
Begitu ia tersenyum, impresi sangar itu runtuh seketika, digantikan oleh gurat keramahan yang tulus. Seluruh pasang mata di taman itu kini tertuju padanya.
"Ya, silakan..." jawab Mas Ekky, menjaga ritme ramahnya.
"Jadi begini, Mas. Kalau saya perhatikan latihan getaran para senior tadi ... kok maaf, mirip sekali dengan orang kesurupan, ya? Apakah itu melibatkan bantuan jin atau makhluk halus? Setahu saya, dalam Islam yang saya anut, hal-hal seperti itu dilarang keras. Mohon penjelasannya," tanya pria itu dengan nada tenang namun menghujam tepat ke ulu hati rahasia perguruan.
Mas Ekky berdehem, mencoba memformulasikan jawaban ilmiah, "Begini, getaran itu bukan kesurupan. Ini adalah ilmu murni untuk menangkap frekuensi dan getaran yang tersebar di alam raya. Di alam ini ada ..."
Suara Mas Ekky perlahan mengabur di telinga Malva. Fokusnya telah terkunci sepenuhnya pada sosok pria sangar berwajah ramah tadi. Batin Malva bergetar. Di tengah ratusan murid yang patuh dan takjub, pria ini justru berani berdiri tegak demi mempertanyakan kelurusan akidah perguruan. Orang ini pasti tahu banyak tentang Islam, batin Malva berbisik. Ada dorongan kuat di dalam dadanya untuk mendekat.
Begitu sesi malam itu dibubarkan, Malva tidak membuang waktu. Ia membelah kerumunan murid, diikuti Rino di belakangnya.
"Assalamu'alaikum..." sapa Malva, menyodorkan tangan.
"Wa'alaikumussalam," balas pria itu. Genggaman tangannya terasa sangat erat dan mantap.
"Kenalkan, nama saya Malva. Dan ini teman saya, Rino."
"Saya Amran. Dan ini di sebelah saya, Husen," jawab pria itu dengan senyum yang menyeka seluruh sisa ketegangan malam. Ada seseorang yang lebih kecil postur tubuhnya dibanding pria itu bersamanya.
Malam itu, di sudut rumah peristirahatan Puncak, obrolan mereka berempat mengalir deras tanpa sekat. Dari urusan asal-usul, keluarga, hingga akhirnya bermuara pada titik sensitif yang sama: Ilmu Getaran. Mereka berempat sepakat, apa yang mereka lihat tadi tidak ada bedanya dengan manipulasi makhluk halus.
Melalui Amran, Malva seperti menemukan oase. Pengetahuan Amran tentang syariat terasa jauh lebih dalam dari apa yang pernah Malva baca selama ini. Dari selentingan informasi para senior, Ilmu Getaran baru akan diajarkan di tingkat lima atau enam. Maka, sebelum melangkah terlalu jauh ke area abu-abu itu, mereka berempat membuat pakta rahasia: berguru hanya sampai tingkat empat, lalu keluar.
***
Minggu-minggu berlalu. Latihan fisik yang menguras keringat dijalani Malva dengan tekun demi menempa fisik cungkringnya. Di sela-sela latihan, ikatan mereka berempat kian solid. Setiap kali azan berkumandang, mereka selalu menyelinap bersama untuk menegakkan salat dan melanjutkan diskusi panjang tentang iman.
Hingga tibalah hari ujian kenaikan tingkat dari Dasar Satu yang telah mereka ikuti menuju ke tingkat Dasar Dua - prosesi pengambilan Sabuk Merah.
Ujian penutupnya bagaikan monster yang menantang: lari maraton berkelompok menembus kegelapan malam hingga menjelang pagi. Ujian itu melintasi medan yang lumayan berat, bukit-bukit, menyebrangi sungai, melewati perkuburan, sampai area perkelahian tempat murid-murid junior diserang senior-senior berbaju hitam-hitam layaknya Ninja. Area ujian ada di daerah selatan ibukota berbatasan dengan Kota Hujan.
Tepat ketika kaki Malva dan kelompoknya menyentuh garis finish di sebuah pos pedesaan terpencil di pelosok kabupaten, gema azan Subuh membelah kesunyian desa. Suasana pedesaan yang asri dengan siluet pohon dan sawah mulai samar-samar terlihat.
Napas Malva tersengal-sengal, namun batinnya panik. Waktu Subuh sangat pendek, sedangkan matahari bersiap mendobrak cakrawala. Ia memisahkan diri dari kelompoknya, matanya liar mencari asal suara azan. Di tengah kepungan kabut sawah, ia justru berpapasan dengan Rino, Amran, dan Husen yang juga memiliki raut muka yang sama: cemas.
"Aku belum salat Subuh, kalian sudah?" tanya Malva terengah-engah.
"Belum, ini kami juga lagi bingung cari masjidnya di mana. Khawatir matahari telanjur terbit," jawab Amran tergesa.
Melihat sisa waktu yang kian kritis, Amran menunjuk sebuah rumah bergaya Betawi tak jauh dari sana yang memiliki teras luar yang sangat luas dan bersih.
"Kita numpang di teras itu saja! Biar tidak mengganggu privasi pemilik rumah," usul Amran.
Mereka akan salat seadanya di atas ubin teras. Amran maju menjadi imam.
Suara bacaannya yang bergetar di udara subuh ternyata menjadi magnet luar biasa. Satu per satu murid pencak silat lain yang berhamburan di garis finish dan sempat melupakan kewajibannya, mendadak berbelok. Mereka berbaris rapi di belakang, membentuk saf-saf panjang yang memenuhi teras rumah Betawi itu.
Gerakan kecil dari empat orang ini, pagi itu, berhasil menyeret puluhan jiwa kembali bersujud kepada Penciptanya.
Sembari berjalan kaki kembali menuju barisan kelompok untuk apel penutupan, sisa-sisa kehangatan salat berjamaah tadi masih membekas di hati Malva. Ia memberanikan diri menatap Amran.
"Amran, kamu... suka ikut pengajian ya?" tanya Malva penasaran.
Amran menghentikan langkahnya sejenak, menatap Malva dengan pandangan menyelidik yang hangat. "Ya, ada pengajian rutin yang saya ikuti. Kalau kamu sendiri, biasanya ikut kajian di mana?"
Pertanyaan balik itu seketika memukul telak perasaan Malva. Ia mendadak kelu. Aku harus jawab apa? Selama ini aku hanya modal nekat membaca Al-Qur'an terjemahan dan buku-buku umum di kamar.
"Aku... aku baru sebatas baca-buku sendiri di kamar, Ran," jawab Malva, menunduk agak malu.
Husen yang berjalan di samping Amran tersenyum kecil, sementara Amran mengangguk-angguk paham. Ia kemudian menatap Malva dan Rino secara bergantian dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kalau begitu ... kalian berdua mau ikut ke pengajian kami?" tanya Amran. Ia melirik Husen, seolah memberi kode yang hanya dipahami oleh mereka berdua.
Husen langsung menimpali cepat, "Iya, ikut saja bersama kami. Bagus untuk kalian."
Mata Malva berbinar, seolah menemukan pintu rahasia yang selama ini ia cari. Bagai gayung bersambut, ia langsung mengangguk. "Ya, aku mau banget! Di mana tempatnya?" Malva menyenggol lengan Rino, dan Rino pun mengangguk setuju.
"Datang saja ke rumahku malam Minggu besok," sahut Amran datar.
Malva mengerutkan kening sedikit, mencoba menggali informasi lebih dalam. "Kajiannya... tentang apa, Ran? Pembahasannya apa?"
Amran tidak langsung menjawab. Ia menghentikan langkahnya. Pria berjanggut itu menoleh perlahan, lalu menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang terasa janggal - sebuah senyuman yang menyembunyikan sesuatu.
"Pokoknya, kamu datang saja dulu," ucap Amran perlahan, suaranya mendadak merendah seolah berbisik. "Nanti setelah kamu duduk di sana... kamu akan lihat sendiri apa temanya."
Amran lalu berbalik, berjalan cepat meninggalkan Malva yang termangu di tempatnya.
Angin pagi selatan ibukota berembus kencang, menyisakan sebuah debaran aneh di dada Malva. Ada rasa penasaran yang bercampur dengan firasat ganjil yang dingin.
Pengajian macam apa yang tema dan materinya belum diketahui seperti itu? Ataukah mungkin materinya ter - update setiap kajian, sehingga Amran belum mengetahui materi terbarunya yang akan diberitahu panitia mendekati waktu kajian, separuh hati Malva membantah.
Malva tidak pernah tahu, bahwa keputusan melangkahkan kaki ke rumah Amran malam Minggu nanti, akan menjadi awal dari sebuah pusaran takdir yang akan mengubah total seluruh arah hidupnya. Jalan itu berliku-liku dan sulit dipahami oleh Malva, karena kurangnya ilmu syar'i bagi dirinya.
***






Gabung dalam percakapan